Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48, Pemerintah Cek Penyebabnya
Jakarta, Beritadua.com - Pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan akan segera menelusuri penyebab turunnya peringkat daya saing Indonesia dalam laporan terbar
Jakarta, Beritadua.com - Pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan akan segera menelusuri penyebab turunnya peringkat daya saing Indonesia dalam laporan terbaru IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026. Dalam laporan yang dirilis oleh lembaga riset global itu, Indonesia mengalami penurunan signifikan, dari posisi 40 ke peringkat 48 dari total 70 negara yang disurvei. Penurunan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah berbagai upaya pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi dan mendorong transformasi ekonomi.
Peringkat Daya Saing Indonesia Turun Delapan Posisi
IMD World Competitiveness Ranking merupakan salah satu tolok ukur global yang paling diakui dalam menilai kemampuan suatu negara untuk menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang mendukung daya saing bisnis. Laporan ini mengukur kinerja berdasarkan empat faktor utama: kinerja ekonomi, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, serta infrastruktur. Pada edisi WCR 2026, Indonesia harus rela mengalami penurunan delapan peringkat, kondisi yang berbanding terbalik dengan sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara yang justru menunjukkan perbaikan. Posisi Indonesia di peringkat 48 ini menjadi yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, sejak tahun 2022, peringkat Indonesia sempat menunjukkan tren membaik, meski kini kembali menghadapi tekanan akibat berbagai tantangan domestik dan global. Media kami mencatat bahwa penurunan ini terjadi di saat pemerintah tengah gencar melakukan hilirisasi sumber daya alam dan mendorong peningkatan ekspor produk manufaktur.
Tindak Lanjut Pemerintah: Tim Khusus dan Evaluasi
Menanggapi kondisi tersebut, Airlangga Hartarto menuturkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Saat ditemui di Kementerian Koordinator Perekonomian pada Rabu (24/6/2026), Airlangga menyebut pihaknya sudah memiliki persiapan untuk membentuk tim khusus yang akan fokus pada penanganan hambatan atau "bottlenecking" di berbagai sektor. "Ya nanti kita teliti lagi masalahnya di mana. Kan kita ada persiapan untuk tim di bottlenecking. Jadi kita akan lihat aja dari sana," ujar Airlangga. Tim tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi titik-titik lemah yang menyebabkan skor Indonesia merosot, mulai dari aspek birokrasi, produktivitas tenaga kerja, hingga infrastruktur digital yang selama ini menjadi sorotan. Menurut laporan yang dihimpun Beritadua.com, salah satu indikator yang menunjukkan pelemahan adalah efisiensi bisnis yang tertekan oleh kenaikan biaya logistik dan suku bunga tinggi. Selain itu, efisiensi pemerintahan juga dinilai masih terkendala koordinasi lintas lembaga.
Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang lebih responsif. Dengan adanya evaluasi mendalam, target untuk kembali naik peringkat di tahun berikutnya menjadi lebih terukur. Bukan hanya mengejar posisi, pemerintah juga ingin memastikan bahwa perbaikan daya saing benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat luas, sejalan dengan target Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045.
Comments (0)