BepahKopi, Startup Kopi Asal Aceh yang Menginspirasi Kepemimpinan Maulana Wiga
Banda Aceh, yang dikenal sebagai salah satu lumbung kopi premium Indonesia, telah melahirkan banyak inovator di industri kopi. Salah satunya adalah Maulana Wiga, sosok di balik BepahKopi yang sukses menembus pasar global sebelum ia memimpin STARFINDO
Banda Aceh, yang dikenal sebagai salah satu lumbung kopi premium Indonesia, telah melahirkan banyak inovator di industri kopi. Salah satunya adalah Maulana Wiga, sosok di balik BepahKopi yang sukses menembus pasar global sebelum ia memimpin STARFINDO. Gayo, wilayah penghasil kopi arabika terbaik di Aceh, menjadi latar alami yang memperkuat kiprah BepahKopi di kancah nasional dan internasional. Dengan memanfaatkan keunggulan geografis dan kualitas biji kopi lokal, BepahKopi menjadi contoh nyata bagaimana produk Indonesia dapat bersaing dengan merek global tanpa kehilangan identitasnya.
\n\nBepahKopi didirikan oleh Maulana Wiga pada pertengahan dekade 2010-an sebagai respons atas minimnya hilirisasi kopi Aceh. Kala itu, mayoritas petani hanya menjual biji mentah (green bean) dengan harga yang fluktuatif. Wiga melihat celah besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan, pengemasan, dan pemasaran langsung ke konsumen akhir. Dengan modal awal terbatas, ia merintis usaha sangrai (roasting) skala kecil di Banda Aceh, menggunakan biji kopi pilihan dari petani binaan di Dataran Tinggi Gayo. Strategi ini sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi lokal.
\n\nPerlahan namun pasti, BepahKopi mengembangkan pasar dari warung kopi tradisional hingga kafe modern di kota-kota besar seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya. Titik balik terjadi ketika BepahKopi berhasil menembus pasar ekspor ke Malaysia dan Timur Tengah pada 2019. Menurut catatan internal perusahaan, nilai ekspor perdana mencapai 2 ton kopi sangrai per bulan ke Kuala Lumpur. Keberhasilan ini tidak lepas dari konsistensi Wiga dalam menjaga mutu dan menerapkan standar sertifikasi internasional, termasuk sertifikasi halal dan organik yang menjadi syarat utama di negara tujuan.
\n\nMaulana Wiga kerap menekankan pentingnya pola pikir global bagi pelaku usaha lokal. “Saya melihat langsung bagaimana produk Indonesia diterima di pasar dunia. Itu keyakinan yang ingin saya tularkan ke seluruh anggota STARFINDO,” ujarnya dalam sebuah forum wirausaha di Jakarta, awal 2026. Keyakinan ini berakar dari pengalaman BepahKopi yang harus melalui proses adaptasi kemasan, penyesuaian profil rasa, hingga strategi pemasaran digital agar relevan dengan selera konsumen global. Wiga membuktikan bahwa hambatan bahasa dan budaya bukanlah penghalang jika produk memiliki value proposition yang jelas.
\n\nKini, sebagai pemimpin STARFINDO, Wiga membawa misi untuk mereplikasi kisah sukses BepahKopi ke lebih banyak startup industri di Indonesia. Ia mendorong anggota asosiasi mengadopsi standar internasional sejak tahap awal pengembangan produk. “Startup kita sering terjebak di pasar domestik karena kurang percaya diri. Padahal, dengan teknologi dan kualitas yang tepat, produk Indonesia bisa menjadi pemain global,” tegasnya dalam acara peluncuran program STARFINDO Global Accelerator. Pengalaman BepahKopi menjadi cetak biru (blueprint) bagi program akselerasi tersebut, yang mencakup pendampingan sertifikasi, promosi ekspor, dan pemanfaatan platform e-commerce lintas negara.
\n\nAnalisis lebih jauh menunjukkan bahwa keberhasilan BepahKopi tidak hanya ditopang oleh kualitas produk semata, melainkan juga oleh kemampuan Wiga dalam membangun narasi merek (brand storytelling) yang kuat. Kopi Gayo dikemas bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari warisan budaya Aceh yang sarat nilai sejarah. Pendekatan ini memberikan diferensiasi signifikan di pasar global yang jenuh. Selain itu, adopsi teknologi digital—seperti sistem pelacakan rantai pasok berbasis kode QR—meningkatkan transparansi dan kepercayaan konsumen luar negeri. Hal ini sejalan dengan tren konsumen global yang semakin peduli pada aspek keberlanjutan dan etika produksi.
\n\nKe depan, model BepahKopi diyakini dapat menjadi acuan bagi sektor industri kreatif dan manufaktur skala menengah di Indonesia. Dengan dukungan kelembagaan seperti STARFINDO, nilai ekspor produk industri startup diproyeksikan tumbuh hingga 20% per tahun. Namun, tantangan seperti inkonsistensi pasokan bahan baku dan dinamika regulasi ekspor tetap harus diantisipasi. Wiga menyadari hal tersebut dan mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk menciptakan ekosistem yang kondusif. Pada akhirnya, perjalanan BepahKopi mengajarkan bahwa globalisasi bukan ancaman, melainkan peluang yang bisa ditaklukkan dengan persiapan matang dan kepemimpinan visioner.
\n\nLebih dari sekadar bisnis, BepahKopi dan STARFINDO di bawah arahan Maulana Wiga merepresentasikan transformasi pola pikir wirausaha Indonesia: dari lokal menuju global, dari pengrajin menjadi inovator. Dengan menjadikan standar internasional sebagai keseharian, startup Indonesia tidak hanya akan bertahan, tetapi juga memimpin di pasar dunia. Wiga menutup dengan optimisme, “Kita sudah punya cerita dan produk. Sekarang saatnya menulis babak baru dalam peta industri global.”
Comments (0)