### Pasar Logistik ASEAN Diproyeksi Capai US$ 390 Miliar pada 2030, Indonesia Jadi Motor Pertumbuhan

**Batam** – Para pemangku kepentingan sektor logistik dari berbagai negara Asia Tenggara berkumpul di Batam untuk menghadiri *ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) Council Mid-Year Meet

Jul 08, 2026 - 00:32
0 0
### Pasar Logistik ASEAN Diproyeksi Capai US$ 390 Miliar pada 2030, Indonesia Jadi Motor Pertumbuhan
**Batam** – Para pemangku kepentingan sektor logistik dari berbagai negara Asia Tenggara berkumpul di Batam untuk menghadiri *ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) Council Mid-Year Meeting 2026*. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari, 25-26 Juni 2026, ini menjadi platform strategis untuk memperkuat integrasi konektivitas logistik regional di tengah dinamika perubahan rantai pasok global. Forum yang digagas oleh AFFA bersama Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) tersebut mengusung tema sentral, *"Strengthening ASEAN Logistics Connectivity through Trade Facilitation, Digitalization, Security, and Capacity Development."* Agenda ini menitikberatkan pada fasilitasi perdagangan, percepatan digitalisasi, aspek keamanan kargo, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia sebagai pilar utama penguatan konektivitas.

Proyeksi Bisnis yang Menggiurkan

Pertemuan ini berlangsung di saat yang tepat, bertepatan dengan proyeksi pertumbuhan signifikan di sektor logistik kawasan. Berdasarkan data yang dihimpun, nilai pasar *freight* dan logistik di ASEAN diperkirakan menembus angka US$ 288 miliar pada tahun 2025. Angka ini diprediksi akan terus meroket dan berpotensi mencapai valuasi sekitar US$ 390 miliar pada tahun 2030.
"Indonesia adalah kontributor terbesar di kawasan ini. Potensi pertumbuhan ini harus diimbangi dengan harmonisasi regulasi dan pemanfaatan teknologi di seluruh negara anggota," ujar perwakilan ALFI di sela-sela pertemuan.
Dalam diskusi yang berlangsung intensif, delegasi dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan Myanmar membedah isu-isu krusial yang masih menjadi hambatan perdagangan intra-ASEAN. Isu utama yang mengemuka adalah standarisasi prosedur kepabeanan, penerapan sistem *single window*, serta kebutuhan mendesak untuk membangun infrastruktur logistik digital yang terintegrasi.

Posisi Strategis Indonesia

Sebagai negara kepulauan terbesar dan kontributor utama *volume handling* kargo di kawasan, Indonesia memainkan peran vital dalam cetak biru konektivitas ini. Melalui ALFI, Indonesia mendorong implementasi rantai pasok yang lebih *resilient* dan adaptif terhadap krisis, seperti yang pernah terjadi pada era pandemi. Para pelaku usaha menyoroti bahwa Batam, sebagai lokasi penyelenggaraan, merupakan representasi sempurna dari pusat logistik dan *trans-shipment* yang mempertemukan jalur perdagangan Selat Malaka.

Dorongan Digitalisasi dan Keamanan

Komitmen bersama juga ditegaskan dalam hal percepatan teknologi digital di sektor kepelabuhanan dan transportasi. Digitalisasi dinilai bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan untuk memangkas biaya logistik yang masih relatif tinggi di beberapa negara anggota. Selain itu, forum ini memperkuat kolaborasi mengenai standar keamanan pengiriman barang untuk mencegah penyelundupan dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi internasional. Dengan data pertumbuhan pasar yang positif, AFFA optimistis bahwa sinergi yang terjalin dalam pertemuan di Batam ini akan menghasilkan peta jalan konkret untuk menuju ekosistem logistik ASEAN yang lebih kompetitif. Para delegasi sepakat untuk meningkatkan frekuensi komunikasi dan berbagi praktik terbaik guna memastikan target valuasi pasar US$ 390 miliar pada akhir dekade ini dapat terealisasi dengan optimal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Reporter Internasional. Reporter isu internasional dan geopolitik.

Comments (0)

User