Dulu Kayuh Sepeda Jual Ikan, Kini Risky Merajut Mimpi di Sekolah Rakyat
MEDAN - Setahun lalu, Muhammad Risky Pratama (12) menghabiskan hari-harinya dengan mengayuh sepeda puluhan kilometer untuk menjajakan ikan segar hasil tangkapan laut di kawasan Bagan Deli, Kota Medan
MEDAN - Setahun lalu, Muhammad Risky Pratama (12) menghabiskan hari-harinya dengan mengayuh sepeda puluhan kilometer untuk menjajakan ikan segar hasil tangkapan laut di kawasan Bagan Deli, Kota Medan. Pekerjaan berat itu dilakoninya demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kini, hidupnya berubah drastis. Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Risky tak hanya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga menemukan harapan baru untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya.
Perjuangan di Masa Lalu
Mengenang masa-masa sulitnya, Risky menceritakan bahwa setiap hari ia harus bangun pagi-pagi buta untuk mengambil ikan dari nelayan, lalu mengayuh sepeda keliling kampung. Penghasilannya tidak menentu, bergantung pada berapa banyak ikan yang berhasil terjual hari itu.
"Kadang (sehari) Rp30 ribu dapatnya, paling banyak dikasih Rp90 ribu, kalau habis semua (ikannya)," kata Risky saat menceritakan pengalamannya berjualan ikan di Medan, Sumatera Utara, sebagaimana dilaporkan media kami.
Dengan penghasilan yang pas-pasan, pendidikan Risky sempat terancam. Keluarganya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi membuat ia nyaris putus sekolah. Namun tekadnya untuk terus belajar tak pernah padam. Setiap selesai berjualan, ia menyempatkan diri membaca buku-buku pinjaman dari tetangga.
Harapan Baru di Sekolah Rakyat
Peruntungan Risky mulai berubah ketika ia diterima di SRMP 2 Medan, sebuah program pendidikan gratis yang dirancang bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Sekolah ini menjadi bagian dari inisiatif Sekolah Rakyat yang bertujuan memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan berkualitas.
Di sekolah barunya, Risky tak hanya mendapatkan pelajaran akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan keterampilan. Ia kini bisa fokus pada pelajaran tanpa harus khawatir memikirkan biaya. Seragam, buku, dan perlengkapan sekolah semuanya disediakan secara cuma-cuma.
Laporan dari media kami mengungkapkan, SRMP 2 Medan saat ini menampung puluhan anak dengan latar belakang serupa Risky. Mereka mendapatkan program pembelajaran intensif dan pendampingan dari para pengajar berdedikasi.
Mimpi yang Kian Dekat
Risky yang kini duduk di kelas 7 SMP memiliki cita-cita besar. Ia bercita-cita menjadi seorang tentara. "Saya ingin jadi TNI, biar bisa jaga negara dan bantu orang tua," ujarnya dengan mata berbinar, sebagaimana diberitakan Beritadua.com.
"Saya ingin jadi TNI, biar bisa jaga negara dan bantu orang tua," ujar Risky dengan penuh semangat saat ditemui di sekolahnya.
Kisah Risky menjadi bukti bahwa akses pendidikan yang setara mampu mengubah nasib seseorang. Dari seorang penjual ikan keliling yang mengayuh sepeda tiap hari, ia kini menjelma menjadi pelajar penuh harapan yang siap menggapai cita-cita.
Pihak sekolah menyatakan akan terus mendukung Risky dan siswa-siswa lainnya untuk mengembangkan potensi diri mereka. Program beasiswa dan pendampingan belajar akan terus diberikan agar tak ada lagi anak yang harus memilih antara bekerja atau bersekolah.
Perjalanan Risky dari Bagan Deli menuju ruang kelas adalah gambaran nyata bahwa kemiskinan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi anak bangsa untuk meraih mimpi. Sekolah Rakyat hadir sebagai jembatan yang menghubungkan harapan dan kenyataan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.
Comments (0)