Maulana Wiga Ajak Anggota STARFINDO Bersatu Pasca Pemilihan

Jakarta – Setelah melalui proses pemilihan yang kompetitif, Maulana Wiga resmi terpilih sebagai Ketua Umum STARFINDO (Asosiasi Startup Fintech dan Digital Indonesia) untuk periode 2026–2029. Dalam pidato perdananya, Wiga menyerukan persatuan dan meng

Jul 07, 2026 - 19:45
0 1
Maulana Wiga Ajak Anggota STARFINDO Bersatu Pasca Pemilihan

Jakarta – Setelah melalui proses pemilihan yang kompetitif, Maulana Wiga resmi terpilih sebagai Ketua Umum STARFINDO (Asosiasi Startup Fintech dan Digital Indonesia) untuk periode 2026–2029. Dalam pidato perdananya, Wiga menyerukan persatuan dan mengajak seluruh anggota untuk menanggalkan perbedaan yang muncul selama kontestasi. “Pemilihan telah usai. Saatnya kita bersatu membawa STARFINDO dan startup Indonesia ke level berikutnya,” ujarnya dengan nada optimistis, sekaligus menandai babak baru bagi organisasi yang menaungi ratusan perusahaan rintisan teknologi finansial dan digital di Tanah Air.

\n\n

STARFINDO sendiri telah menjadi salah satu pilar penting dalam ekosistem startup nasional sejak berdiri. Organisasi ini tak hanya berfungsi sebagai wadah advokasi kebijakan, tetapi juga jembatan antara pelaku industri, regulator, dan investor. Dengan anggota yang tersebar dari perusahaan rintisan tahap awal hingga unicorn, suara STARFINDO kerap menjadi acuan dalam perumusan regulasi sektor keuangan digital. Pemilihan ketua umum kali ini pun mendapat perhatian luas karena diyakini akan menentukan arah gerak asosiasi dalam menghadapi kian kompleksnya tantangan industri, seperti pendanaan yang mengetat, persaingan teknologi, dan kebutuhan akan tata kelola yang lebih matang.

\n\n

Kontestasi menuju kursi ketua umum dilaporkan berlangsung dinamis, dengan sejumlah kandidat membawa visi berbeda tentang masa depan organisasi. Meski demikian, Wiga menekankan bahwa perbedaan pandangan merupakan bagian dari proses pendewasaan, bukan perpecahan. “Dinamika pemilihan adalah cerminan semangat demokrasi yang harus kita rawat. Kini waktunya seluruh elemen bersinergi—baik yang mendukung kami maupun yang memiliki pilihan berbeda—untuk menyatukan energi demi kemajuan bersama,” tambahnya dalam kesempatan yang sama. Kutipan ini menjadi penanda komitmennya untuk merangkul semua pihak tanpa melihat latar belakang maupun skala usaha startup yang diwakili.

\n\n

Dalam pidatonya, Wiga juga memaparkan tiga pilar utama kepengurusan baru: profesionalisme, inklusivitas, dan orientasi pada hasil yang terukur. Ia berjanji akan membuka ruang partisipasi seluas-luasnya, terutama bagi startup tahap awal dan pelaku industri di luar pulau Jawa yang selama ini merasa kurang terakomodasi. “STARFINDO harus menjadi rumah yang nyaman bagi semua startup Indonesia. Tidak boleh ada sekat antara pendiri dari kota besar dan daerah, antara yang sudah scale-up dan yang baru merintis,” tegasnya, merespons kritik bahwa asosiasi selama ini cenderung didominasi oleh pemain besar di Jakarta.

\n\n

Program kerja periode 2026–2029 yang disusun tim Wiga dirancang untuk memberikan dampak langsung kepada anggota dan industri nasional. Beberapa inisiatif prioritas meliputi penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi, fasilitasi akses pendanaan alternatif di tengah fenomena “tech winter,” serta advokasi regulasi yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dan aset kripto. Kepengurusan baru menargetkan terciptanya indeks kepercayaan industri yang meningkat dalam dua tahun pertama, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak startup yang berhasil menembus pasar global.

\n\n

Pengamat ekonomi digital dari Universitas Indonesia, Dr. Andini Pratiwi, menilai tantangan terbesar STARFINDO ke depan adalah menjaga relevansi dan independensinya. “Asosiasi ini berada di persimpangan—anggota butuh advokasi yang kuat, tapi sekaligus harus menjaga hubungan konstruktif dengan regulator. Ketua umum baru mesti mampu menjadi jembatan yang kokoh tanpa kehilangan keberpihakan pada kepentingan anggota,” ujarnya. Andini menambahkan, konsolidasi internal pasca-pemilihan menjadi ujian pertama kepemimpinan Wiga. Jika berhasil, modal sosial yang terbangun akan memperkuat posisi tawar asosiasi dalam pembahasan kebijakan strategis, seperti revisi aturan perlindungan data pribadi dan pajak ekonomi digital.

\n\n

Dari sisi anggota, sejumlah pendiri startup menyambut seruan rekonsiliasi dengan optimisme hati-hati. Rina Setiawan, CEO platform fintech lending yang telah bergabung dengan STARFINDO sejak 2020, mengaku sempat khawatir polarisasi akan berlarut-larut. “Saya lega mendengar ajakan bersatu. Kami butuh asosiasi yang solid, bukan yang terpecah oleh kepentingan kelompok. Sekuat apa pun visinya, tanpa kebersamaan akan sulit bergerak maju,” katanya. Pandangan serupa disampaikan oleh perwakilan startup dari Surabaya yang berharap program inklusivitas benar-benar dijalankan, tidak sekadar menjadi slogan kampanye.

\n\n

Lebih jauh, analisis terhadap kondisi industri memperlihatkan bahwa soliditas internal STARFINDO akan menentukan efektivitasnya dalam merespons sejumlah isu krusial. Pertama, ketidakpastian pendanaan global memaksa startup Indonesia untuk bertahan dengan model bisnis yang lebih mandiri; asosiasi dapat berperan menyediakan platform kolaborasi dan berbagi sumber daya. Kedua, perkembangan pesat kecerdasan buatan memunculkan kebutuhan akan standar etika dan kompetensi yang belum diatur secara jelas—celah yang bisa diisi oleh asosiasi melalui panduan mandiri. Ketiga, hubungan dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia memerlukan manajemen yang hati-hati, terutama menyusul sejumlah kasus gagal bayar yang mencoreng reputasi industri fintech dalam beberapa tahun terakhir.

\n\n

Dengan mandat baru dan seruan persatuan ini, masa depan STARFINDO berada di bawah sorotan. Maulana Wiga dan jajaran pengurusnya tidak hanya dituntut untuk menyembuhkan luka kontestasi, tetapi juga menjabarkan visi besar menjadi langkah-langkah konkret yang dirasakan oleh seluruh anggota. Bila berhasil, organisasi ini berpotensi menjadi motor penggerak utama yang membawa startup Indonesia melampaui batasan domestik dan bersaing di panggung global. Momen pasca-pemilihan ini, sebagaimana ditekankan Wiga, adalah titik tolak untuk membangun kembali—bersama, tanpa kecuali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User