Bali — PSEL Suwung Resmi Dibangun, Target Operasi 2028

Pemerintah secara resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Suwung, Bali, yang ditargetkan mulai beroperasi pa

Jul 09, 2026 - 01:53
0 0
Bali — PSEL Suwung Resmi Dibangun, Target Operasi 2028

Pemerintah secara resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Suwung, Bali, yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2028. Proyek ini menjadi titik awal dari program percepatan PSEL nasional yang digagas pemerintah pusat. Gubernur Bali Wayan Koster menuturkan bahwa pemilihan hari baik menurut penanggalan Bali untuk memulai konstruksi merupakan bentuk ikhtiar agar seluruh proses berjalan lancar.

"Niat baik Bapak Presiden juga dijalankan dengan cara yang baik, dengan memilih hari yang baik untuk memulai pembangunan PSEL ini," ujar Koster.

Pemprov Bali bersama Pemerintah Kota Denpasar telah membagi peran dalam persiapan proyek strategis tersebut. Pemerintah Kota Denpasar menyediakan lahan bersama Pelindo seluas sekitar enam hektare, sementara Pemprov Bali bertanggung jawab atas pematangan lahan untuk mendukung percepatan konstruksi. Koster berharap pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun delapan bulan atau sekitar Oktober 2027, lebih cepat dari target operasional 2028.

Momentum Nasional dan Dukungan Pusat

Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa PSEL Bali merupakan ground breaking pertama dari serangkaian proyek serupa di Indonesia. Setelah Bali, pemerintah akan melanjutkan pembangunan delapan proyek PSEL di daerah lain.

“Yang di Bali ini ground breaking pertama. Setelah ini akan ada delapan proyek lagi, kemudian menyusul proyek-proyek berikutnya,” kata Zulkifli Hasan.

Menko Zulhas menambahkan bahwa pemerintah pusat akan mengawal ketat pembangunan ini hingga fasilitas dapat diresmikan dan beroperasi. Proyek ini dipandang sebagai langkah strategis untuk mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak, terutama di kawasan dengan volume kunjungan wisatawan tinggi seperti Bali—yang mencatat lebih dari 16 juta wisatawan per tahun, terdiri atas 7,5 juta wisatawan mancanegara dan 9,3 juta wisatawan domestik.

Angin Segar di Balik Excavator

Dari sisi optimisme, keberadaan PSEL menjanjikan sejumlah terobosan penting bagi Bali dan proyek nasional secara keseluruhan. Fasilitas ini dirancang sebagai sistem pengelolaan sampah modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. Daripada sekadar menimbun sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian kritis, PSEL mengonversi limbah menjadi energi listrik—mengurangi beban lingkungan sekaligus mendukung bauran energi bersih daerah.

Bali, sebagai etalase pariwisata dunia, membutuhkan solusi kredibel untuk menjaga citra lingkungan. Volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas 16 juta wisatawan per tahun menuntut infrastruktur pengolahan yang memadai. PSEL diharapkan menjadi model yang dapat direplikasi di delapan kota lain, menciptakan standar baru pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia. Dukungan penuh pemerintah pusat dan pembagian peran jelas antara provinsi dan kota juga menjadi sinyal positif bahwa proyek ini memiliki landasan koordinasi yang matang.

Tantangan dan Tanda Tanya

Di balik antusiasme tersebut, sejumlah pihak menyuarakan kehati-hatian yang tak kalah penting. Pertama, rekam jejak proyek PSEL di Indonesia belum sepenuhnya mulus. Beberapa inisiatif serupa di kota lain sempat tersendat akibat kendala pendanaan, ketidaksesuaian teknologi dengan karakteristik sampah lokal yang berkadar air tinggi, dan negosiasi tarif listrik yang alot dengan PLN. Target konstruksi satu tahun delapan bulan terbilang ambisius untuk proyek pengolahan sampah berskala besar yang memerlukan teknologi termal kompleks.

Kedua, pertanyaan mengenai transparansi dan risiko fiskal tetap mengemuka. Apakah skema pembiayaan dan perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) telah dikaji secara mendalam agar tidak membebani APBD atau tarif listrik konsumen dalam jangka panjang? Tanpa kajian lingkungan dan sosial yang komprehensif, proyek ini berpotensi menuai resistensi dari komunitas sekitar, terutama jika isu emisi dan residu pembakaran tidak dikelola dengan standar ketat. Keberhasilan PSEL Bali akan sangat bergantung pada pemilihan teknologi yang tepat guna, bukan sekadar mengejar seremoni peletakan batu pertama.

  • Pro: Solusi modern untuk krisis sampah Bali, mendukung energi bersih, model percontohan nasional, dukungan pusat-daerah solid, menciptakan lapangan kerja baru.
  • Kontra: Rekam jejak proyek serupa bermasalah, target waktu sangat ketat, risiko ketidakcocokan teknologi, potensi beban fiskal jangka panjang, kebutuhan transparansi kontrak dan mitigasi dampak lingkungan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User