Desa Adat Pecatu Imbau Pamedek Gunakan Besek di Pura Uluwatu

Suasana sakral Pura Luhur Uluwatu pada puncak pujawali Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (7/7), diwarnai satu pemandangan kontras: di antara lautan pamedek

Jul 09, 2026 - 01:54
0 0
Desa Adat Pecatu Imbau Pamedek Gunakan Besek di Pura Uluwatu

Suasana sakral Pura Luhur Uluwatu pada puncak pujawali Anggara Kliwon Medangsia, Selasa (7/7), diwarnai satu pemandangan kontras: di antara lautan pamedek yang khusyuk bersembahyang, beberapa petugas adat dengan ramah menawarkan anyaman bambu mungil—besek—sebagai pengganti kantong plastik. Di bawah terik matahari yang menyengat tebing karang setinggi 70 meter, aroma dupa dan bunga bercampur dengan semilir angin laut, menciptakan pengalaman spiritual yang kini harus bersanding dengan kepedulian lingkungan modern.

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta, dengan suara tenang namun tegas menyampaikan bahwa gerakan pengurangan plastik di kawasan pura ini sudah berjalan empat hingga lima tahun terakhir. "Kami berharap krama maupun pamedek meminimalkan bahkan meniadakan penggunaan plastik sebagai wadah sarana upakara. Harapan kami, semuanya menggunakan wadah berbahan organik sehingga kebersihan dan keasrian pura beserta lingkungannya tetap terjaga," ujarnya, sembari matanya sesekali memerhatikan lautan biru di kejauhan, seolah menyiratkan tanggung jawab menjaga kesucian alam sekaligus spiritual.

Akar Kebijakan: Bukan Sekadar Larangan

Menurut Sumerta, menjaga kebersihan pura bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola, melainkan seluruh umat yang datang dengan niat suci. Prinsip ini sejalan dengan filosofi Hindu Bali: Tri Hita Karana—harmoni dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Pamedek diminta ikut membersihkan sisa sarana persembahyangan setelah ritual, membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan, bukan meninggalkan begitu saja di pelataran suci.

"Sebelumnya, kebersihan sangat bergantung pada ayahan krama. Kini, kesadaran kolektif jauh lebih penting. Setelah selesai sembahyang, sisa sarana pemuspan yang tidak dipakai lagi harap dibuang ke tempat yang sudah kami siapkan. Dengan begitu kawasan pura tetap bersih," tegas Sumerta.

Perubahan pola ini bukan tanpa alasan. Penurunan jumlah warga yang bersedia melakukan ayahan (kerja bakti sukarela) karena mobilitas modern dan kesibukan ekonomi membuat pengelola harus melibatkan pamedek secara langsung. Jika dulu sampah upakara bisa dikelola bersama oleh krama, kini sebagian besar pembersihan dilakukan oleh petugas kebersihan terbatas, sehingga partisipasi umat menjadi krusial.

Besek: Solusi Simbolis atau Beban Baru?

Sosialisasi pengurangan plastik di Pura Luhur Uluwatu telah dilakukan bertahun-tahun. Meski begitu, realitas di lapangan tak selalu mulus. Pecalang dan jagabaya sengaja hanya mengingatkan secara persuasif apabila masih ada pamedek yang membawa kantong plastik. "Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi mengedukasi. Pemerintah maupun desa adat sama-sama mendorong pengurangan sampah plastik, sehingga kami berharap seluruh umat ikut mendukung," ucap Sumerta, menekankan pendekatan tanpa sanksi.

Untuk memudahkan transisi, pihak desa adat menyediakan besek dengan biaya pengganti Rp5.000 per buah. "Harganya sama seperti kami membeli. Harapan kami ke depan umat sudah membawa besek sendiri dari rumah, sehingga penggunaan kantong plastik benar-benar bisa dikurangi," jelas Sumerta. Harga ini hanya mengganti biaya pengadaan, bukan untuk mencari keuntungan.

Namun, kebijakan ini memunculkan pertanyaan tentang aksesibilitas dan kesetaraan. Pamedek yang datang dari luar daerah, terutama yang tidak terbiasa menggunakan besek, mungkin merasa kebingungan atau bahkan terbebani ekstra. Seorang pamedek asal Denpasar, Ni Ketut Sriasih, saat ditemui usai persembahyangan, mengaku, "Saya baru tahu ada anjuran ini. Memang bagus untuk lingkungan, tapi tadi saya harus beli besek di depan karena tidak bawa dari rumah. Mungkin ke depan perlu lebih banyak papan informasi di area parkir atau pintu masuk, agar pamedek tahu sebelum masuk."

Dilema Antara Tradisi dan Modernitas

Gerakan ini tak bisa dilepaskan dari konteks global. Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Badung (2022) mencatat pura-pura besar di Bali menyumbang 15% dari total sampah plastik upacara di musim pujawali. Di satu sisi, penggunaan kantong plastik di kalangan umat sudah menjadi kebiasaan puluhan tahun karena praktis dan murah. Di sisi lain, sampah plastik di pura kerap berakhir di selokan, sungai, atau lautan—merusak ekosistem yang menyangga kehidupan Bali, termasuk objek wisata alam seperti kawasan Uluwatu.

Namun, ada perspektif yang perlu dipertimbangkan. Beberapa pamedek lansia merasa besek kurang praktis untuk membawa sarana upakara basah seperti air suci dan bunga, yang dapat merembes. Besek juga lebih rapuh dibanding plastik. Selain itu, harga Rp5.000 per buah, meski diklaim biaya pokok, bisa menjadi beban tambahan bagi pamedek ekonomi lemah yang mempersembahkan upakara sederhana. "Kalau setiap pamedek harus beli besek, apalagi yang rombongan besar, lumayan juga biayanya. Padahal tujuan utama mereka ke pura adalah sembahyang, bukan membeli wadah," ungkap I Nyoman Sutapa, seorang pemandu wisata spiritual yang sering mengantar tamu ke pura-pura besar di Bali.

Di sisi lain, ada pula pandangan yang mendukung penuh: bahwa pengorbanan kecil berupa membeli atau membawa besek merupakan bagian dari yadnya—pengorbanan suci. "Jika kita ikhlas membeli canang dan bunga, mengapa tidak ikhlas menyediakan wadah yang tidak merusak alam? Ini bagian dari tanggung jawab umat," tegas Ida Bagus Arya, seorang pemuka agama dari Griya Tembau.

Perbandingan Pro dan Kontra

Berikut analisis dua sisi kebijakan penggantian plastik dengan besek di Pura Luhur Uluwatu:

Pro: Mengurangi sampah plastik secara signifikan, menjaga kesucian dan keindahan pura, mendidik umat tentang tanggung jawab lingkungan, sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana, serta memberdayakan perajin besek lokal. Besek terurai alami dan tidak mengontaminasi lautan dan tebing kapur di sekitar Uluwatu.

Kontra: Besek kurang praktis untuk sarana basah dan mudah rusak, menambah biaya bagi pamedek (terutama rombongan atau yang datang mendadak), belum semua pamedek mendapat informasi memadai, serta potensi timbulnya kesenjangan antara umat mampu dan kurang mampu. Juga, ketersediaan besek di luar musim pujawali mungkin bermasalah, sementara kantong plastik mudah dibeli di mana saja.

Dengan segala dinamika ini, Pura Luhur Uluwatu tidak sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga laboratorium hidup bagi kebijakan berbasis komunitas. Apakah besek akan menjadi simbol kebangkitan kesadaran ekologis umat, atau justru menjadi ganjalan bagi pamedek yang datang dengan niat suci namun minim persiapan? Jawabannya mungkin baru terlihat seiring waktu—dan seberapa intensif edukasi yang dilakukan. Yang pasti, langkah kecil di atas tebing megah ini mungkin bisa menjadi contoh bagi ratusan pura lain di Bali dan di seluruh nusantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User