Bali — Groundbreaking PSEL Denpasar Raya, Solusi Sampah Jadi Energi Akhir 2027

Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya yang melibatkan kolaborasi multipihak akhirnya memasuki tahap konstruksi. Peletakan ba

Jul 09, 2026 - 02:08
0 0
Bali — Groundbreaking PSEL Denpasar Raya, Solusi Sampah Jadi Energi Akhir 2027

Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya yang melibatkan kolaborasi multipihak akhirnya memasuki tahap konstruksi. Peletakan batu pertama menjadi tonggak solusi pengelolaan sampah terpadu yang digadang-gadang mampu mengubah krisis persampahan menjadi sumber energi di kawasan metropolitan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Fasilitas ini dijadwalkan rampung dalam 15 bulan dan mulai beroperasi pada akhir 2027, dengan janji mengolah sedikitnya 1.200 ton sampah per hari dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung menggunakan teknologi Waste-To-Energy.

Latar Belakang dan Urgensi Proyek

Volume sampah di Bali, khususnya kawasan Sarbagita, terus meningkat tajam seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas pariwisata. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang ada semakin tertekan, menimbulkan kekhawatiran terhadap pencemaran lingkungan dan citra destinasi wisata internasional. Proyek PSEL Denpasar Raya muncul sebagai respons atas desakan kebutuhan sistem pengelolaan sampah modern yang tidak hanya mengurangi timbunan, tetapi juga menekan emisi gas rumah kaca dan menghasilkan nilai tambah ekonomi.

Prosesi Peletakan Batu Pertama

  1. 09.00 WITA: Prosesi dimulai di lokasi proyek, dihadiri jajaran pejabat tinggi pusat dan daerah.
  2. 09.30 WITA: Bupati Badung I Nyoman Adi Arnawa menyampaikan sambutan pembuka, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.
  3. 10.00 WITA: Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat memberikan arahan strategis.
  4. 10.30 WITA: Gubernur Bali Wayan Koster, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, dan Menteri Investasi/Hilirisasi Rosan Roeslani secara simbolis melakukan peletakan batu pertama.
  5. 11.00 WITA: Penandatanganan komitmen bersama dan sesi foto bersama Forkopimda Bali.

Komitmen dan Harapan Para Pemimpin

Bupati Adi Arnawa dalam sambutannya menegaskan bahwa groundbreaking PSEL merupakan langkah krusial untuk mempercepat penanganan volume sampah yang terus meningkat. “Astungkara, groundbreaking PSEL yang telah lama kita nantikan akhirnya dapat terlaksana. Ini merupakan langkah penting dalam menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih terpadu bagi Kabupaten Badung dan Kota Denpasar,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa PSEL akan meningkatkan kepercayaan internasional terhadap komitmen Bali dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Persoalan sampah selama ini menjadi perhatian banyak pihak, termasuk wisatawan mancanegara. Dengan hadirnya fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik ini, Bali menunjukkan keseriusannya menghadirkan solusi yang modern, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menyebut PSEL sebagai momentum penting untuk mengurangi beban TPA yang sudah kritis. Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan menambahkan bahwa proyek ini adalah bagian dari strategi nasional untuk mengintegrasikan pengelolaan sampah dan ketahanan pangan melalui kebijakan lingkungan berkelanjutan. Menteri Investasi Rosan Roeslani optimistis partisipasi Danantara akan mempercepat realisasi investasi hijau serupa di daerah lain.

Target Operasional dan Kapasitas

Fasilitas ini dirancang dengan kapasitas pengolahan minimal 1.200 ton sampah per hari, yang disuplai dari Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Teknologi Waste-To-Energy akan mengonversi sampah menjadi listrik yang dapat dialirkan ke jaringan PLN, sekaligus mengurangi volume sampah di TPA hingga 80-90%. Proyek dengan masa pengerjaan 15 bulan ini ditargetkan beroperasi komersial pada akhir 2027, dengan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca yang signifikan.

Analisis Pro dan Kontra

Proyek besar seperti PSEL selalu membawa dua sisi mata uang—harapan dan risiko—yang patut dicermati.

  • Pro: Solusi terintegrasi untuk mengurangi beban TPA; produksi energi terbarukan yang mengurangi ketergantungan fosil; pengurangan emisi metana dari sampah organik; penguatan citra Bali sebagai destinasi wisata berkelanjutan; membuka lapangan kerja konstruksi dan operasional.
  • Kontra: Risiko emisi dioksin/furan jika insinerator tidak dikelola ketat; biaya investasi dan tipping fee yang dapat membebani APBD; ketergantungan pada pasokan sampah konstan; potensi penolakan warga sekitar terkait dampak kesehatan; kompleksitas teknologi yang memerlukan tenaga ahli spesifik.

Proyek PSEL Denpasar Raya mencerminkan tarik-ulur antara kemajuan teknologi dan kehati-hatian ekologis. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada transparansi operasional, pengawasan ketat emisi, dan keterlibatan publik sejak dini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User