Berau — Bupati Sri Juniarsih Hadiri Pelantikan YJI, Dorong Hidup Sehat
Bupati Berau, Sri Juniarsih, menghadiri langsung pelantikan Pengurus Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Kabupaten Berau periode 2026–2031. Acara yang
Bupati Berau, Sri Juniarsih, menghadiri langsung pelantikan Pengurus Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Kabupaten Berau periode 2026–2031. Acara yang digelar di Balai Mufakat, Kota Tanjung Redeb, ini dipimpin oleh Ketua YJI Kalimantan Timur, Wahyu Seno Aji, yang sekaligus melantik segenap jajaran pengurus baru. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengakselerasi gerakan masyarakat hidup sehat sebagai respons atas meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular, terutama jantung dan pembuluh darah.
Pelantikan ini menandai tonggak baru kolaborasi antara YJI dan Pemerintah Kabupaten Berau dalam upaya promotif, preventif, dan skrining dini penyakit kardiovaskular. Bupati Sri Juniarsih menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, termasuk puskesmas, kader posyandu, dan lembaga pendidikan, untuk menyosialisasikan pola makan rendah garam dan lemak, aktivitas fisik rutin, serta deteksi tekanan darah secara berkala. “Kami ingin angka kematian akibat serangan jantung di Berau bisa turun signifikan. Ini hanya bisa terjadi jika budaya hidup sehat menjadi nafas keseharian warga,” ujarnya.
Analisis: Pelantikan YJI dan Urgensi Gerakan Sehat di Berau
Pelantikan pengurus YJI Berau datang di tengah tren nasional yang mengkhawatirkan: penyakit jantung masih menduduki peringkat pertama penyebab kematian non-infeksi di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023 memperlihatkan prevalensi penyakit jantung di Kalimantan Timur mencapai 1,8% dari total populasi, sedikit di atas rata-rata nasional sebesar 1,5%. Di Kabupaten Berau sendiri, Dinas Kesehatan mencatat peningkatan kasus baru penyakit jantung dan hipertensi sebesar 12% dalam kurun 2022–2025. Angka ini menjadi alarm bahwa pendekatan kuratif semata tidak lagi cukup; diperlukan langkah ofensif berbasis komunitas seperti yang diinisiasi YJI.
Secara struktural, YJI Cabang Berau memiliki potensi besar menjangkau lapisan masyarakat yang selama ini sulit disentuh program resmi. Pengalaman YJI di daerah lain, misalnya di Kota Balikpapan, menunjukkan bahwa kegiatan ‘senam jantung sehat’ massal dan pemeriksaan kolesterol gratis mampu meningkatkan partisipasi warga hingga 40% dalam setahun. Namun, replikasi keberhasilan tersebut di Berau tidak serta-merta mulus. “Tantangan utama adalah sebaran geografis dan akses transportasi di kecamatan pedalaman. Tanpa dukungan logistik yang kuat, program bisa pincang,” ujar Dr. Elvina Rahmi, pakar kesehatan masyarakat Universitas Mulawarman. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan perusahaan perkebunan dan tambang di sekitar Berau bisa menjadi solusi pembiayaan partisipatif.
Perbandingan Indikator Kesehatan Jantung Terkait
| Indikator | Berau | Rata-rata Kaltim | Nasional |
|---|---|---|---|
| Prevalensi Penyakit Jantung | 1,7% (estimasi 2025) | 1,8% | 1,5% |
| Akses ke Fasilitas Skrining Jantung | 65% desa | 70% | 58% |
| Partisipasi Program Prolanis | 28% penderita hipertensi | 33% | 31% |
Sumber: Dinas Kesehatan Berau, Riskesdas 2023, BPJS Kesehatan 2025
Dari tabel di atas, terlihat bahwa meskipun prevalensi penyakit jantung di Berau sedikit di bawah rata-rata provinsi, akses skrining masih tertinggal. Program YJI bisa menjadi jembatan untuk menutup celah tersebut, terutama di desa-desa yang belum memiliki puskesmas dengan alat elektrokardiogram (EKG). Dengan dukungan anggaran hibah daerah dan swasta, YJI ditargetkan menggelar minimal 12 kali bhakti sosial skrining jantung pada tahun pertama kepengurusan.
Pro dan Kontra Penguatan Gerakan Hidup Sehat melalui YJI
Di satu sisi, inisiatif ini mendapat dukungan luas karena menyasar hulu masalah kesehatan: pencegahan primer. Gerakan hidup sehat, jika masif, mampu mengurangi beban biaya pengobatan yang membebani APBD. Sebagai ilustrasi, 75% anggaran kesehatan di daerah umumnya terserap untuk terapi penyakit katastropik, termasuk jantung, yang sebenarnya dapat dicegah dengan pola hidup benar. Kehadiran YJI juga memperkuat posisi Berau dalam mewujudkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 fokus pengendalian penyakit tidak menular.
Namun, kritik juga muncul. Beberapa pengamat menilai pendekatan seremonial seperti pelantikan kerap tidak diikuti dengan program berkelanjutan akibat keterbatasan dana operasional YJI yang hanya mengandalkan sumbangan tidak mengikat. Selain itu, budaya instan masyarakat terhadap kesehatan—mencari obat daripada mengubah rutinitas—menjadi batu sandungan yang tidak bisa diatasi hanya dengan sosialisasi. “Perlu penguatan peraturan daerah yang lebih mengikat, misalnya pembatasan iklan makanan tinggi gula di ruang publik. Tanpa itu, gerakan hidup sehat hanya jadi jargon,” kata Dimas Aditya, aktivis Forum Kesehatan Rakyat Kaltim.
Dengan demikian, pelantikan pengurus YJI Berau menjadi peluang sekaligus tantangan. Masyarakat berharap agar kolaborasi ini segera menghasilkan tanda-tanda konkret—bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan perubahan terukur dalam indeks kesehatan jantung warga Berau. Pro: - Mendorong deteksi dini dan pengobatan primer jantung secara inklusif - Mengedukasi pola makan dan gaya hidup sehat langsung ke komunitas - Meringankan beban fiskal daerah melalui pencegahan penyakit katastropik - Memperkuat jaringan relawan kesehatan di tingkat desa Kontra: - Ketergantungan pada donasi membuat skala program tidak menentu - Geografis Berau yang luas menyulitkan pemerataan layanan skrining - Minimnya sanksi terhadap gaya hidup tidak sehat melemahkan efektivitas imbauan - Kemungkinan tumpang-tindih dengan program pemerintah yang sudah ada jika tidak terkoordinasi
Comments (0)