Kolaborasi Bali-Korea Sajikan Godogan di Panggung PKB

Ratusan pasang mata memadati Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang tahun ini menghadirkan sajian istimewa b

Jul 09, 2026 - 01:44
0 0
Kolaborasi Bali-Korea Sajikan Godogan di Panggung PKB

Ratusan pasang mata memadati Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, dalam perhelatan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang tahun ini menghadirkan sajian istimewa bertajuk "Godogan". Pertunjukan ini menjadi simbol pertemuan dua budaya: seni tradisi Bali dan nuansa Korea Selatan, hasil kolaborasi lintas negara yang tidak hanya menghibur tetapi juga menyampaikan pesan kemanusiaan universal.

Pembukaan: Tabuhan Bayu Nada dan Perpaduan Instrumen Dua Dunia

Pementasan diawali dengan komposisi berjudul Bayu Nada. Suara suling Bali yang khas berpadu dengan dentuman gendang dan gamelan gong, lalu secara bertahap disatukan dengan instrumen tradisional Korea. Perpaduan tersebut menciptakan irama yang kadang menghentak penuh energi, namun seketika beralih mengalun lembut, membangun suasana magis yang langsung memikat seluruh penonton di ruang pertunjukan.

Puncak Kisah: I Godogan, Sang Pangeran Kodok

Puncak pertunjukan hadir melalui drama tari bertajuk "Prince Frog". Karya ini mengangkat cerita rakyat Bali tentang I Godogan, seorang pangeran dari Jenggala yang terlahir dalam wujud seekor kodok dari keluarga petani di Desa Magetan. Alur cerita digambarkan melalui rangkaian gerak tari yang dramatis:

  1. I Godogan menjalani masa kecil dalam wujud kodok, mengalami penolakan dan pengasingan.
  2. Ia bertemu tokoh-tokoh spiritual yang membimbing proses penyucian diri.
  3. Melalui perjuangan batin dan ritual panjang, ia berhasil melepaskan wujud kodoknya.
  4. Ia kembali menjadi manusia sebagai Pangeran Jenggala, simbol transformasi dan penemuan jati diri.

Kisah ini dimaknai sebagai perjalanan manusia menemukan identitas dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, dikemas dengan sentuhan teatrikal khas Korea Selatan, terutama dari tradisi Bongsan Talcum yang kaya ekspresi.

Di Balik Layar: Proses Kolaborasi Lintas Negara

Pementasan ini merupakan hasil kerja sama panjang antara Institut Seni Indonesia (ISI) Bali dan Seoul Institute of the Art. Proses produksi melibatkan 25 seniman Korea Selatan dan 15 mahasiswa Bali. Latihan dilakukan secara intensif dan bergantian—dimulai dari sesi di Bali, lalu berlanjut di Korea Selatan—hingga akhirnya karya ini siap tampil di panggung utama PKB.

Menurut koreografer Godogan, Prof. I Wayan Dibia, proses penciptaan berlangsung melalui pertukaran akademik. Para seniman Bali memperkenalkan unsur gerak tari, musik gamelan, hingga karakter ekspresi kepada mahasiswa Korea. Sebaliknya, seniman Korea membawa pendekatan artistik Bongsan Talcum yang kemudian melebur dalam satu panggung.

Pandangan Para Tokoh: Seni Jadi Jembatan Persahabatan

Prof. Dibia menegaskan, "Setiap budaya memiliki karakter dan pakem masing-masing. Namun perbedaan itu justru menjadi kekuatan untuk melahirkan karya baru." Ia menyatakan seni memiliki kemampuan besar dalam membangun hubungan antarbangsa dan pemahaman lintas budaya.

Pendiri Seoul Institute of the Art, Yoo Duk Hyung (Mr. Yoo), mengungkapkan kecintaannya pada Bali sebagai alasan utama kerja sama ini. "Saya mencintai Bali, masyarakatnya, dan keseniannya," ujarnya. Sementara Presiden Seoul Institute of the Art, Chang Ji Hyung, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah awal menjalin kerja sama berkelanjutan di bidang seni dan pendidikan.

Dua Sisi Kolaborasi Seni Lintas Budaya

Kolaborasi seni seperti Godogan selalu memiliki dampak ganda. Di satu sisi, ia membuka ruang dialog budaya, memperkaya khazanah seni tradisional dengan perspektif global, serta menjadi alat diplomasi budaya yang efektif. Di sisi lain, muncul kekhawatiran akan komodifikasi budaya atau pengaburan identitas lokal ketika unsur asing begitu dominan dalam pertunjukan tradisi.

Pro: - Memperkuat diplomasi budaya dan persahabatan antarbangsa. - Menciptakan karya inovatif yang relevan dengan perkembangan zaman. - Memberi pengalaman nyata pertukaran pengetahuan bagi mahasiswa dan seniman. - Meningkatkan apresiasi publik terhadap seni tradisional dalam konteks modern. Kontra: - Risiko kehilangan orisinalitas pakem tradisi Bali yang sudah baku. - Potensi dominasi estetika asing yang dapat menggeser nilai-nilai lokal. - Kolaborasi bisa dianggap sekadar "wisata budaya" dan kurang mendalam secara makna. - Ketergantungan pada pendanaan asing dapat memengaruhi kemurnian arah artistik.

Dengan manajemen artistik yang cermat dan pemahaman mendalam terhadap dua budaya, Godogan tetap menjadi simbol positif perjumpaan dua warisan budaya dunia. Pertunjukan ini membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk melahirkan karya baru yang bermakna.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User