Bali — Penjor Ceramcam Angkat Tema Pelestarian Sawah di Ajang Pengrebongan
Di tengah semarak perayaan Pengrebongan, sebuah karya penjor dari Seka Truna (ST) Swadharmita tampil dengan pesan yang menyengat: alih fungsi lahan pertani
Di tengah semarak perayaan Pengrebongan, sebuah karya penjor dari Seka Truna (ST) Swadharmita tampil dengan pesan yang menyengat: alih fungsi lahan pertanian di Bali telah mencapai titik kritis. Konseptor I Komang Ary Darmayasa mengusung tema “Ngajrih Ring Sri”—sebuah ungkapan Bali yang kurang lebih berarti “takut atau hormat kepada Dewi Sri”—sebagai upaya mengingatkan publik bahwa sawah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan warisan leluhur yang menyangga identitas masyarakat agraris Pulau Dewata.
Kronologi: Dari Kegelisahan ke Karya Penjor
- Pencetusan ide: I Komang Ary Darmayasa tergerak oleh data penurunan luas lahan sawah di Bali. Berdasarkan catatan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, dalam satu dekade terakhir, sekitar 2.500 hektare sawah telah beralih fungsi menjadi kawasan permukiman, villa, dan infrastruktur pariwisata.
- Inspirasi Atma Kerthi: Tema Ngajrih Ring Sri juga diselaraskan dengan semangat pembangunan Bali 2026, yaitu Atma Kerthi, yang menekankan penyucian jiwa dan lingkungan. Konsep ini mendorong manusia untuk menjaga harmoni dengan alam sebagai jalan menuju kemakmuran sejati.
- Penghormatan Dewi Sri: Penjor secara visual menghadirkan simbol-simbol kesuburan yang merujuk pada Ida Bhatari Sri, dewi padi dalam tradisi Hindu Bali. Figur ini diyakini sebagai sumber kemakmuran asalkan manusia berjalan di jalan dharma.
- Pemilihan ornamen pertanian: Dua elemen utama—bakul padi dan orang-orangan sawah—dipilih untuk mewakili keseharian petani. Komang menuturkan, pemasangan keduanya menjadi tahap paling rumit karena harus menyatu secara harmonis dengan komposisi warna penjor.
- Efisiensi biaya: Di tengah kenaikan harga bahan baku, ST Swadharmita memanfaatkan daun ental sisa perayaan Galungan. Langkah ini menekan total biaya pembuatan menjadi Rp6 juta hingga Rp7 juta saja, lebih hemat sekitar 30% dari anggaran tahun sebelumnya.
- Histori dan persaingan: Sebelum pandemi, banjar ini beberapa kali menembus tiga besar lomba Penjor Pengrebongan. Pascapandemi, mereka tetap konsisten masuk nominasi terbaik dan tahun ini meraih peringkat ketujuh—sebuah prestasi yang tetap disyukuri di tengah persaingan yang semakin inovatif.
Analisis: Antara Simbolisme dan Realitas Lapangan
Di satu sisi, penjor bertema pelestarian sawah ini merupakan alat komunikasi publik yang kuat. Ia menyuntikkan kesadaran kolektif tentang pentingnya lahan pertanian sebagai fondasi budaya dan ketahanan pangan lokal. Dengan memanfaatkan bahan sisa dan mengintegrasikan filosofi Atma Kerthi, karya ini juga memperlihatkan bahwa seni ritual bisa menjadi kendaraan edukasi lingkungan yang rendah karbon.
Namun, kritik bisa dilayangkan: sejauh mana simbolisme dalam penjor mampu menghentikan laju alih fungsi lahan? Regulasi perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) di Bali masih kerap berbenturan dengan kepentingan investasi pariwisata. Meskipun Gubernur Bali telah menetapkan kawasan LP2B, implementasi di lapangan masih lemah. Lebih jauh, fokus pada kompetisi seni penjor berpotensi menggeser perhatian dari advokasi kebijakan konkret—seolah-olah masalah selesai hanya dengan menampilkan ornamen petani di atas penjor.
Dari sudut pandang lain, konsistensi ST Swadharmita di papan tengah lomba mencerminkan dinamika inovasi seni yang tidak selalu linear. Persaingan yang makin ketat bisa mendorong kreativitas, tetapi bisa juga menggoda peserta untuk mengorbankan pesan substantif demi estetika yang spektakuler. Oleh karena itu, dibutuhkan keseimbangan antara kualitas artistik dan kedalaman narasi.
Perbandingan Dampak
Pro:- Mengedukasi masyarakat tentang filosofi agraris dan bahaya alih fungsi lahan melalui media seni yang partisipatif.
- Mempraktikkan prinsip reduce-reuse dengan material daur ulang, menekan biaya hingga Rp6–7 juta.
- Menyelaraskan tradisi Pengrebongan dengan visi pembangunan berkelanjutan Atma Kerthi 2026.
- Simbolisme penjor belum mampu menekan angka konversi sawah yang mencapai ribuan hektare per tahun.
- Kompetisi seni berpotensi mereduksi isu serius menjadi tontonan tanpa aksi kebijakan lanjutan.
- Peringkat ketujuh menunjukkan bahwa tema lingkungan belum menjadi jaminan kemenangan—bisa dianggap kurang spektakuler secara visual.
Dengan demikian, karya ST Swadharmita membuka ruang refleksi: apakah seni penjor cukup sebagai alarm, ataukah perlu disertai tekanan publik dan regulasi yang lebih tegas? Jawabannya mungkin terletak pada sinergi antara ekspresi budaya dan perjuangan advokasi lahan yang tak kenal henti.
Comments (0)