Viking Persib Club Dukung Penuh Pencabutan Larangan Suporter Tamu
Rencana PSSI untuk mencabut larangan kehadiran suporter tim tamu secara bertahap mendapatkan dukungan kuat dari Viking Persib Club (VPC), kelompok suporter
Rencana PSSI untuk mencabut larangan kehadiran suporter tim tamu secara bertahap mendapatkan dukungan kuat dari Viking Persib Club (VPC), kelompok suporter terbesar Persib Bandung. Kebijakan yang dinilai selama ini tidak efektif itu diharapkan mampu mengembalikan roh kompetisi sepak bola Indonesia yang sesungguhnya.
Alasan di Balik Dukungan VPC
Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, menyampaikan bahwa budaya mendukung tim saat laga tandang tidak bisa hanya dilihat dari kacamata keamanan semata. Menurutnya, kehadiran suporter di kandang lawan memiliki nilai sosial yang jauh lebih besar.
"Sangat menyambut baik ya kalau memang itu benar terjadi. Karena bagaimanapun away itu sarana silaturahmi untuk mendekatkan antar suporter sebenarnya. Kalaupun ada risiko-risiko bentrok dan lain sebagainya kan sebenarnya itu bisa mitigasi," ujar Tobias Ginanjar, Rabu (8/7/2026).
VPC menilai bahwa potensi kerawanan tidak seharusnya menjadi alasan utama untuk memberlakukan larangan menyeluruh. Keputusan kehadiran suporter tandang semestinya disesuaikan dengan hasil koordinasi antara penyelenggara pertandingan, klub, suporter, dan aparat keamanan, bukan dipukul rata untuk semua pertandingan.
"Karena ada aparat keamanan, ada koordinasi awal sebelum pertandingan dan lain sebagainya, kan pasti aparat keamanan punya pertimbangan lah apakah suporter tersebut boleh datang atau tidak. Jadi sebenarnya sangat baik kalau dihapus, jadi tidak dipukul rata semua tidak boleh. Tapi dikembalikan kepada hubungan antar kedua suporter dan pertimbangan dari kepolisian," katanya.
Analisis Dua Sisi: Pro dan Kontra
Wacana pencabutan larangan suporter tamu menyimpan dinamika yang perlu dicermati. Berikut analisis dari berbagai sudut pandang:
- Dampak Ekonomi vs Keamanan: Kehadiran suporter tamu terbukti meningkatkan pendapatan klub tuan rumah dari penjualan tiket, sementara di sisi lain, potensi gesekan antarsuporter tetap menjadi risiko nyata yang memerlukan pengamanan ekstra.
- Budaya Suporter vs Regulasi Ketat: Tradisi away merupakan bagian tak terpisahkan dari kultur sepak bola, namun regulasi larangan muncul sebagai respons atas serangkaian insiden tragis di masa lalu.
- Efektivitas Aturan vs Kenyataan Lapangan: Data menunjukkan banyak suporter tetap melakukan perjalanan tandang secara mandiri tanpa koordinasi resmi, yang justru meningkatkan risiko karena tidak adanya pengawalan keamanan.
Dilema Klub dan Sanksi Finansial
Tobias menyoroti dampak paradoksal dari aturan larangan yang masih berlaku. Banyak Bobotoh maupun pendukung klub lain yang tetap melakukan perjalanan tandang meski regulasi melarang. Akibatnya, klub yang seharusnya tidak bertanggung jawab atas aksi individu suporter justru harus menanggung sanksi denda karena dianggap melanggar regulasi.
"Karena kan sekarang juga larangan away ada tapi kenyataannya di lapangan orang away-away aja, jadi buat apa bikin aturan tersebut kalau memang tidak efektif. Jadi sudah benar sekali kalau memang mau dicabut," tegasnya.
Jalan Tengah yang Diusulkan
Viking Persib Club tidak sekadar mendukung pencabutan larangan, tetapi juga mendorong penyusunan mekanisme yang lebih terstruktur. Tobias Ginanjar menekankan pentingnya sistem keberangkatan suporter tandang yang aman serta terkoordinasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Beberapa usulan konkret dari VPC meliputi:
- Koordinasi wajib antara suporter kedua tim sebelum pertandingan
- Sistem pendataan dan kuota suporter tandang yang disepakati bersama
- Pengawalan ketat dari aparat keamanan selama perjalanan dan di dalam stadion
- Penetapan zona khusus suporter tandang di setiap stadion
Kebijakan ini dinilai selaras dengan semangat desentralisasi pengambilan keputusan, di mana pertimbangan kehadiran suporter tamu disesuaikan dengan hubungan antar kedua kelompok suporter dan penilaian risiko dari kepolisian setempat, bukan berdasarkan larangan nasional yang seragam. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem sepak bola yang lebih inklusif dan dewasa dalam mengelola rivalitas.
Pro: Pencabutan larangan mengembalikan esensi sepak bola sebagai ajang silaturahmi, meningkatkan pendapatan klub, dan mengakhiri aturan yang tidak efektif. Kontra: Risiko bentrokan antarsuporter tetap ada, memerlukan biaya pengamanan tambahan, dan berpotensi memicu kembali insiden-insiden yang menjadi alasan larangan diberlakukan sebelumnya.
Comments (0)