Bale dan Pelatih Maroko Puji Brahim Diaz, Buktikan Real Madrid Salah Besar

Nama Brahim Diaz kembali menjadi perbincangan hangat setelah serangkaian penampilan gemilang bersama AC Milan dan tim nasional Maroko. Mantan pemain akadem

Jul 09, 2026 - 00:41
0 0
Bale dan Pelatih Maroko Puji Brahim Diaz, Buktikan Real Madrid Salah Besar

Nama Brahim Diaz kembali menjadi perbincangan hangat setelah serangkaian penampilan gemilang bersama AC Milan dan tim nasional Maroko. Mantan pemain akademi Manchester City yang sempat menjadi bagian dari Real Madrid ini mendapatkan pujian istimewa dari dua figur ikonik: Gareth Bale, eks bintang Los Blancos, dan Walid Regragui, pelatih kepala Timnas Maroko. Bale secara terbuka menyebut Diaz sebagai “salah satu talenta paling cerdas yang pernah saya lihat dalam latihan,” sementara Regragui memuji etos kerja dan kreativitasnya yang dianggap mengubah dinamika lini serang Singa Atlas. Pujian yang menggema ini memunculkan pertanyaan pedas: Apakah Real Madrid telah mengambil keputusan terburuk dengan melepas gelandang serang berusia 26 tahun itu hanya dengan nilai €17 juta pada musim panas 2024?

Real Madrid secara resmi menjual Brahim Diaz setelah masa peminjaman tiga musim yang tidak konsisten di AC Milan. Selama berseragam putih dari 2019 hingga 2021, Diaz hanya mencatatkan 6 gol dan 7 assist dalam 56 penampilan di semua kompetisi. Jumlah menit bermain yang minim dan persaingan ketat di lini depan membuatnya sulit berkembang. Namun, di bawah asuhan Stefano Pioli di Milan, ia bertransformasi menjadi playmaker vital dengan kontribusi 18 gol dan 15 assist hanya dalam 86 laga di dua musim terakhir. Data ini secara kasar menunjukkan peningkatan produktivitas hampir tiga kali lipat dibanding masa-masa di Madrid.

Analisis: Transformasi dan Dampaknya pada Reputasi Madrid

Komentar Gareth Bale—yang satu generasi dengan era keemasan Madrid—menggambarkan penyesalan terselubung. “Brahim punya teknik tinggi dan visi yang langka. Saya heran kenapa Madrid tidak memberinya lebih banyak kepercayaan,” ujar Bale dalam sebuah podcast pekan lalu. Sementara itu, Walid Regragui menegaskan bahwa Diaz adalah pemain kunci dalam skema Piala Dunia 2026, bukan sekadar pelapis. “Dia pemimpin di lapangan, bukan cuma pelengkap. Kami sangat beruntung memilikinya,” kata Regragui. Pujian ini semakin menohok manajemen Real Madrid yang kini tengah bergulat mencari kreativitas di lini tengah pasca-mundurnya Luka Modrić.

Untuk menilai apakah Madrid benar-benar “salah besar”, perbandingan statistik musim 2024/25 menjadi penting. Berikut ringkasannya:

IndikatorBrahim Diaz (AC Milan)Gelandang Serang Madrid
Penampilan (starter)32 (28)28 (19)
Gol117
Assist96
Peluang kunci per 90 menit2,41,8
Dribel sukses per 902,92,1
Nilai pasar (estimasi)€55 juta€65 juta

Data rata-rata pemain yang mengisi posisi serupa di Madrid musim ini (Bellingham, Güler, Brahim Díaz pada 2023).

Statistik di atas menunjukkan Diaz saat ini lebih produktif secara ofensif daripada opsi yang dimiliki Madrid. Namun, konteks perlu diperhatikan: Milan adalah tim yang dibangun dengan dia sebagai poros serangan, sedangkan Madrid memiliki hierarki bintang yang mungkin tidak memberikan kebebasan serupa. “Diaz butuh sentuhan bola banyak dan kepercayaan penuh, situasi yang jarang didapat di Madrid,” jelas analis sepak bola Spanyol, Guillem Balagué.

Dua Sisi Keputusan Madrid

Kritik bahwa Madrid “salah besar” memang mudah dilontarkan, tetapi perlu ditimbang dengan realitas strategis klub. Berikut perbandingan argumen yang muncul.

Pro: Madrid Menyesal
1. Produktivitas hilang: Diaz mencetak 20+ kontribusi gol musim ini, angka yang dirindukan Madrid saat lini kedua mandek.
2. Nilai jual rendah: Menjual hanya €17 juta saat harga pasarnya kini meroket ke €55 juta adalah kerugian signifikan.
3. Fleksibilitas taktis: Diaz bisa bermain di tiga posisi depan, sesuatu yang langka dan dibutuhkan saat Vinícius atau Rodrygo cedera.

Kontra: Keputusan Realistis
1. Tak cocok sistem: Ancelotti mengandalkan transisi cepat dan fisik, gaya yang tidak optimal untuk dribbler bertipe ball retention seperti Diaz.
2. Persaingan tak seimbang: Dengan kehadiran Bellingham, Güler, dan Brahim Díaz versi 2023 sendiri, menit bermain terbatas dan potensi terbuang lebih besar.
3. Kebutuhan finansial: Dana €17 juta membantu pembelian lain yang lebih mendesak (seperti bek tengah) dan menghindari risiko penurunan nilai aset.

Pada akhirnya, fenomena Brahim Diaz adalah cerminan dilema abadi klub elite: melepas pemain berbakat yang tak mendapat panggung utama, lalu menyaksikannya bersinar di tempat lain. Madrid mungkin tidak 100% salah, tetapi kehilangan potensi sebesar Diaz dengan harga diskon tetap menjadi noda yang sulit dihapus di era transfer modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User