Asunción, Paraguay – Dunia sepak bola kembali diguncang skandal rasisme. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada seorang senator perempuan asal Paraguay, Celeste Amarilla, yang secara terang-terangan melontarkan hinaan bernada rasial terhadap megabintang tim nasional Prancis, Kylian Mbappé. Pernyataan kontroversial yang dilontarkan melalui media sosial itu memicu gelombang kecaman dari berbagai penjuru dunia dan mencoreng semangat sportivitas Piala Dunia yang baru saja usai.

Hinaan Rasial yang Memicu Kemarahan Insiden ini bermula ketika Amarilla, anggota Kongres Paraguay dari Partai Liberal Radikal Auténtico (PLRA), mengunggah

Jul 08, 2026 - 01:17
0 0
Asunción, Paraguay  – Dunia sepak bola kembali diguncang skandal rasisme. Kali ini, sorotan tajam tertuju pada seorang senator perempuan asal Paraguay, Celeste Amarilla, yang secara terang-terangan melontarkan hinaan bernada rasial terhadap megabintang tim nasional Prancis, Kylian Mbappé. Pernyataan kontroversial yang dilontarkan melalui media sosial itu memicu gelombang kecaman dari berbagai penjuru dunia dan mencoreng semangat sportivitas Piala Dunia yang baru saja usai.

Hinaan Rasial yang Memicu Kemarahan

Insiden ini bermula ketika Amarilla, anggota Kongres Paraguay dari Partai Liberal Radikal Auténtico (PLRA), mengunggah komentar pedas di akun Twitter pribadinya. Dalam unggahan yang kini telah dihapus, ia menuliskan kalimat yang sarat dengan stereotip rasis terhadap Mbappé. Berdasarkan tangkapan layar yang beredar luas, pernyataan itu berbunyi:

“Mbappé memang pantas menangis, dia keturunan monyet. Tidak ada yang bisa diharapkan dari gen itu.”

Komentar tersebut langsung viral dan menuai kemarahan warganet global. Banyak pihak menilai bahwa pernyataan itu tidak hanya menghina Mbappé secara pribadi, tetapi juga merendahkan seluruh komunitas kulit hitam. Pasalnya, Mbappé yang lahir di Prancis memiliki ayah keturunan Kamerun-Nigeria dan ibu berasal dari Aljazair—sebuah latar belakang yang kerap dijadikan sasaran pelecehan rasial oleh segelintir oknum.

Kecaman Internasional Bergulir Cepat

Reaksi keras datang secara cepat dari berbagai organisasi olahraga dan anti-rasisme. Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dalam keterangan persnya mengecam tindakan tersebut sebagai “perilaku yang tidak memiliki tempat dalam sepak bola maupun masyarakat global.” Sementara itu, UEFA menyerukan agar semua federasi nasional mengambil langkah tegas terhadap ujaran kebencian yang dilakukan oleh figur publik.

Pemain-pemain top dunia juga turut menyuarakan kecaman. Bek tim nasional Maroko sekaligus rekan setim Mbappé di Paris Saint-Germain, Achraf Hakimi, menulis di media sosial: “Contoh kebodohan yang menjijikkan. Kami bersaudara melawan semua kebencian.” Mantan striker tim nasional Prancis, Thierry Henry, juga menyatakan kekecewaannya melalui program siaran langsung di televisi Inggris, menekankan bahwa komentar rasial seperti itu “harus dihadapi dengan sanksi hukum, bukan sekadar permintaan maaf.”

Respons Politik di Paraguay

Di dalam negeri, skandal ini memicu gejolak politik. Rekan-rekan sesama anggota kongres mulai menjauhkan diri dari Amarilla. Beberapa di antaranya mengutuk keras pernyataan tersebut dan menuntut agar ia segera mengundurkan diri. “Tidak pantas seorang senator mengeluarkan kata-kata yang penuh kebencian seperti itu. Ini memalukan bagi bangsa Paraguay,” ucap seorang legislator oposisi yang meminta namanya dirahasiakan.

Presiden Paraguay, melalui juru bicara kepresidenan, menyampaikan bahwa pemerintah tidak mentoleransi segala bentuk rasisme. Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada sanksi resmi yang dijatuhkan dari otoritas legislatif terhadap Amarilla. Beberapa pengamat politik menilai bahwa partainya mungkin akan melakukan evaluasi internal untuk menjaga citra menjelang pemilu mendatang.

Mbappé dan Keluarganya Bersiap Ambil Langkah Hukum

Sumber yang dekat dengan keluarga Mbappé mengungkapkan kepada laporan redaksi Beritadua.com bahwa mereka tengah berkonsultasi dengan tim pengacara untuk melayangkan tuntutan hukum atas tuduhan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. “Kami tidak akan tinggal diam. Ini bukan yang pertama kalinya Kylian menjadi sasaran rasisme, dan kali ini pelakunya adalah pejabat publik yang seharusnya melindungi warga, bukan malah menyebarkan kebencian,” ujar sumber tersebut yang enggan disebutkan identitasnya.

Ibu Kylian Mbappé, Fayza Lamari, yang juga menjadi manajer sang pemain, dikabarkan sangat terguncang dengan hinaan yang menyasar putranya. Dalam beberapa wawancara sebelumnya, Lamari kerap menekankan pentingnya pendidikan anti-rasisme sejak dini, serta bagaimana keluarganya terus berjuang melawan diskriminasi di tengah sorotan publik.

Sepak Bola dan Perjuangan Melawan Rasisme

Skandal ini kembali mengingatkan dunia bahwa rasisme masih menjadi PR besar dalam pesta olahraga paling populer di bumi. Sejak era Thierry Henry, hingga Vinícius Júnior dan Romelu Lukaku kini, pemain kulit hitam terus menjadi target serangan rasis di dalam maupun luar lapangan. Organisasi seperti Kick It Out dan Show Racism the Red Card menyerukan pengetatan aturan dan sanksi berat, termasuk larangan seumur hidup dari aktivitas sepak bola bagi pelaku yang terbukti melakukan tindakan rasial.

Kontributor Beritadua.com melaporkan, sejumlah aktivis anti-rasisme di Prancis telah menggalang petisi daring yang meminta FIFA menjatuhkan sanksi kepada Asosiasi Sepak Bola Paraguay atas ulah senator mereka. Hingga artikel ini ditulis, petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 150 ribu tanda tangan dan terus bertambah.

Publik kini menunggu apakah lembaga politik Paraguay akan benar-benar bertindak atau sekadar melewati insiden ini begitu saja. Yang pasti, hinaan terhadap Kylian Mbappé telah membuka kembali luka lama tentang diskriminasi yang masih menganga di jantung olahraga yang seharusnya menyatukan manusia tanpa memandang warna kulit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User