Semarang, Beritadua.com — Puncak perhelatan Festival Sobo Roworejo 5 menjadi momentum guyub rukun warga dalam merawat kebersamaan kampung. Rangkaian acara yang digelar pada Minggu (5/7/2026) ini menyuguhkan Kirab Sendang Belik, Kirab Gunungan Palawija, hingga atraksi kesenian Kuda Lumping. Suasana kebersamaan begitu terasa membangkitkan semangat gotong royong masyarakat Kampung Wisata Ranting Pelangi, Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Semarang. Harapan untuk hidup senantiasa dijalani dengan rasa syukur menjadi benang merah yang mengikat seluruh prosesi adat tersebut.

Merawat Pusaka Air dan Sejarah Kampung Festival Sobo Roworejo merupakan sebuah perayaan budaya lokal yang bertujuan untuk memperkenalkan tradisi kampung Ro

Jul 08, 2026 - 01:32
0 0

Merawat Pusaka Air dan Sejarah Kampung

Festival Sobo Roworejo merupakan sebuah perayaan budaya lokal yang bertujuan untuk memperkenalkan tradisi kampung Roworejo, terutama eksistensi Sendang Belik sebagai pusaka sumber air yang menghidupi warga, kepada masyarakat sekitar. Memasuki tahun ke-5 penyelenggaraannya, festival ini diarahkan tidak hanya sebagai seremonial belaka, melainkan sebagai upaya mengingat kembali sejarah dan cerita masa lalu kampung. Lebih dari itu, perhelatan ini menjadi wadah pertemuan warga untuk mempererat kembali ikatan persaudaraan yang mungkin sempat renggang oleh rutinitas keseharian.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Manggar Selaras Wonolopo, Sumitri Leksono, menekankan bahwa esensi festival ini terletak pada lunturnya ego pribadi demi kepentingan kolektif. Menurutnya, kebersamaan adalah kunci kebahagiaan warga yang harus terus dipupuk. "Pada masyarakat akan terlihat geguyubannya. Mereka terlihat bahagia jika bersama-sama. Guyub rukun dalam membersihkan wilayah masih perlu dijaga, sehingga keegoisan masing-masing bisa luntur karena kekompakan," ujar Sumitri Leksono kepada tim redaksi Beritadua.com. Ia menambahkan bahwa dampak psikologis dari kebersamaan itu sangat signifikan, membuat masyarakat merasakan kebahagiaan lahir dan batin. Dari sanalah ia mencoba mengajak kembali masyarakat untuk mengenal dan menghidupkan tradisi kolektif yang mulai tergerus zaman.

"Kirab itu menyatukan orang-orang yang jauh jadi dekat... melalui ini bisa menyatukan kebahagiaan bersama."

Gunungan Polowijo: Simbol Syukur dan Perekat Harmoni

Selain sebagai upaya merawat tradisi kolektif kampung, Festival Sobo Roworejo juga dimaknai sebagai bentuk rasa syukur warga atas segala rezeki yang telah diterima. Rasa syukur ini termanifestasi melalui sesi acara Kirab Gunungan Polowijo. Gunungan yang tersusun dari aneka hasil bumi palawija ini menjadi simbol berkah alam yang dinikmati bersama. Upaya menjaga kerukunan kampung agar tetap harmonis terasa kental dalam prosesi ini.

Salah satu peserta kirab, Muslika, berbagi kesannya mengenai keajaiban sosial yang tercipta selama pawai budaya berlangsung. "Kirab itu menyatukan orang-orang yang jauh jadi dekat, biasanya tidak ketemu gitu kan, tapi lewat kirab ini bisa ketemu dan saling sapa dan bersenda gurau sehingga yang tadinya hanya berdiam di rumah, melalui ini bisa menyatukan kebahagiaan bersama," tutur Muslika. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ruang publik yang tercipta selama festival tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga emosional, mencairkan sekat-sekat antarwarga dan membangun solidaritas.

Kehadiran unsur pemerintah dalam festival ini turut menegaskan bahwa Festival Sobo Roworejo 5 tidak hanya menjadi agenda rutin warga kampung, melainkan juga mendapat perhatian sebagai salah satu potensi wisata budaya unggulan di Kota Semarang. Andri Tegar, perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, berharap tradisi kolektif kampung wisata ini bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat, bukan sekadar hidden gem yang hanya diketahui kalangan terbatas. "Semoga Sobo Roworejo bisa diketahui oleh masyarakat yang lebih luas, bukan sekadar hidden gem saja. Banyak sekali destinasi wisata di Semarang di luar Lawang Sewu dan Kota Lama, salah satunya tradisi Sobo Roworejo di Kelurahan Wonolopo ini," ujar Andri Tegar optimis.

Kolaborasi antara warga, Pokdarwis, dan Disbudpar ini memperlihatkan sinergi positif dalam mengangkat kearifan lokal ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan bergulirnya acara tahunan ini, diharapkan pesona Kampung Wisata Ranting Pelangi semakin bergema tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai ruang hidup yang kaya akan nilai sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan yang kental.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User