Tidak Terjadi Makan Tabungan, Simpanan di Bawah Rp100 Juta Tumbuh 4,95%

Jakarta – Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan tren positif pada simpanan masyarakat kelas menengah ke bawah. Hingga akhir Mei 2026, pertumbuhan simpanan dengan nominal di

Jul 08, 2026 - 00:35
0 0
Tidak Terjadi Makan Tabungan, Simpanan di Bawah Rp100 Juta Tumbuh 4,95%

Jakarta – Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan tren positif pada simpanan masyarakat kelas menengah ke bawah. Hingga akhir Mei 2026, pertumbuhan simpanan dengan nominal di bawah Rp100 juta tercatat mencapai 4,95% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi Desember 2025 yang hanya tumbuh 3,43%.

Temuan tersebut sekaligus membantah kekhawatiran yang sempat merebak mengenai fenomena "makan tabungan"—istilah yang menggambarkan kondisi masyarakat terpaksa menguras simpanan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah tekanan ekonomi. Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Program Penjaminan Simpanan & Resolusi Bank, Doddy Zulverdi, menegaskan bahwa dari data terkini tidak terlihat indikasi terjadinya fenomena itu.

Pertumbuhan Lebih Kuat dari Akhir 2025

Doddy menjelaskan, tren peningkatan simpanan bernominal kecil justru memperlihatkan akselerasi. Pada Desember 2025, catatan pertumbuhan masih berada di angka 3,43%, kemudian mengalami penguatan signifikan hingga 4,95% dalam kurun waktu lima bulan pertama 2026. Hal ini, menurutnya, menjadi cerminan bahwa kelompok penabung dengan saldo di bawah Rp100 juta masih mampu menjaga—bahkan menambah—dana yang mereka simpan di perbankan.

“Jadi tadi dikatakan fenomena makan tabungan itu, kalau melihat angka-angka ini, tidak demikian karena kita melihat bahwa yang simpanan sampai dengan Rp100 juta ini masih tumbuh positif, bahkan pertumbuhannya lebih baik daripada posisi akhir 2025,” ujar Doddy dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/6/2026).

“Simpanan sampai dengan Rp100 juta ini masih tumbuh positif, bahkan pertumbuhannya lebih baik daripada posisi akhir 2025.” – Doddy Zulverdi, Anggota DK LPS

LPS mencatat, simpanan bernominal kecil biasanya mencerminkan kondisi keuangan masyarakat umum, terutama pekerja dan pelaku usaha mikro. Ketika pertumbuhan segmen ini tetap tinggi, dapat diartikan bahwa daya simpan masyarakat belum tergerus secara masif. Sebaliknya, adanya perlambatan atau kontraksi di kelompok ini bisa menjadi indikator awal bahwa rumah tangga mulai menggunakan tabungan untuk menutupi biaya hidup yang meningkat.

Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kalangan memang menyuarakan kekhawatiran bahwa inflasi barang kebutuhan pokok serta normalisasi harga pasca musim libur dan hari besar keagamaan bakal memicu masyarakat mengambil dana tabungannya. Namun, data terbaru LPS mengindikasikan bahwa ketahanan keuangan masyarakat kelas menengah ke bawah masih cukup solid.

Pertumbuhan simpanan di bawah Rp100 juta juga sejalan dengan tren membaiknya penyaluran kredit di sektor produktif dan konsumsi kelas menengah. Para analis ekonomi menilai, kombinasi antara penyaluran kredit yang selektif dan tetap terjaganya dana pihak ketiga (DPK) dari segmen ritel menjadi sinyal positif bagi stabilitas sektor keuangan nasional.

Dengan demikian, narasi "makan tabungan" yang sempat berkembang di ruang publik tidak ditemukan bukti kuatnya dalam indikator makro perbankan. Justru yang terjadi, menurut LPS, adalah konsolidasi simpanan di kelompok bawah yang memperkuat fondasi likuiditas perekonomian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Editor Ekonomi. Editor analisis pasar dan bisnis.

Comments (0)

User