Pesona Budaya Dunia Warnai CFD Jakarta, 7 Negara Tampil Memukau

Kawasan Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, berubah menjadi panggung pertunjukan lintas benua pada Minggu pagi. Ribuan warga yang biasa berola

Jul 08, 2026 - 08:47
0 0
Pesona Budaya Dunia Warnai CFD Jakarta, 7 Negara Tampil Memukau

Kawasan Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day (CFD) di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, berubah menjadi panggung pertunjukan lintas benua pada Minggu pagi. Ribuan warga yang biasa berolahraga dan bersantai disuguhi Festival Folklore yang menghadirkan penampilan seni dan budaya dari tujuh negara berbeda. Gelaran istimewa ini digelar dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta, sekaligus sebagai awal hitung mundur menuju setengah abad usia ibu kota pada tahun depan.

Sejak pukul enam pagi, panggung utama yang didirikan tepat di depan Patung Selamat Datang mulai dipadati deretan penari dan musisi berbusana adat yang mencolok. Suara gamelan, tabla, dan alat musik tiup khas Andes berpadu dengan teriakan antusias penonton yang memenuhi sepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Tujuh negara yang ambil bagian—Jepang, India, Belanda, Brasil, Meksiko, Maroko, dan Indonesia sebagai tuan rumah—masing-masing membawakan satu pertunjukan unggulan yang merepresentasikan identitas budaya mereka.

"Ini bukan sekadar tontonan, melainkan diplomasi budaya yang menyatukan hati. Jakarta adalah kota global, dan kami ingin warganya merasakan langsung keragaman dunia tanpa harus meninggalkan kota ini," ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta dalam sambutannya.

Delegasi Jepang membuka festival dengan tarian Yosakoi yang energik, lengkap dengan kostum berwarna cerah dan naruko, alat musik kayu kecil yang dipegang para penari. Riuh tepuk tangan menggema saat mereka melompat dan berputar dengan gerakan kompak yang telah dilatih selama berminggu-minggu. Tak kalah memukau, rombongan dari India mempersembahkan tari Kathak yang anggun, diiringi tabuhan tabla dan sitar yang mengalun sendu di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan.

Suasana berubah menjadi semarak ketika perwakilan Brasil menampilkan Samba dengan iringan drum yang menghentak. Penonton ikut bergoyang dan beberapa anak kecil berlari mendekati panggung meniru gerakan para penari. Meksiko menyusul dengan Mariachi dan tarian folklorico yang memadukan busana bordir rumit dengan langkah zapateado yang ritmis. Sementara itu, dari Eropa, Belanda membawakan tarian klompen yang jenaka dengan iringan akordeon, mengingatkan pada jejak sejarah panjang antara kedua bangsa.

Kontingen Maroko menyajikan tarian perut yang memukau dengan gerakan selendang dan simbal, dipadukan dengan nyanyian berbahasa Arab yang eksotis. Puncak acara menjadi haru ketika Tim Kesenian Betawi dari Indonesia naik panggung untuk menampilkan Tari Topeng dan Ondel-ondel yang diarak di tengah kerumunan. Pertunjukan ini menjadi simbol bahwa Jakarta tetap teguh pada akar budayanya meskipun dikelilingi pengaruh dunia.

Tidak hanya pertunjukan di panggung, area festival juga diramaikan oleh puluhan stan yang memamerkan kerajinan tangan, pakaian tradisional, dan kuliner khas dari masing-masing negara peserta. Warga bisa mencicipi takoyaki dari Jepang, kue stroopwafel dari Belanda, atau kerak telor khas Betawi yang dijajakan di gerai khusus. Antrean panjang terlihat di depan stan lukisan henna khas India, menandakan betapa warga antusias menikmati setiap sudut budaya yang disuguhkan.

Kehadiran tujuh negara di CFD Jakarta ini juga menjadi bukti nyata bahwa ibu kota semakin diperhitungkan sebagai simpul diplomasi budaya internasional. Festival Folklore direncanakan akan menjadi agenda tahunan yang semakin meriah menuju puncak perayaan 500 tahun Jakarta. Para peserta pun saling bertukar pengalaman dan berharap kerja sama budaya antarnegara terus berlanjut di masa depan.

Tim liputan Beritadua.com melaporkan, kemeriahan ini meninggalkan kesan mendalam bagi ribuan warga yang hadir. Banyak di antara mereka mengaku baru pertama kali menyaksikan pertunjukan lintas negara secara langsung di ruang terbuka publik. "Ini pengalaman luar biasa, seperti jalan-jalan keliling dunia dalam satu pagi," kata seorang pengunjung yang mengabadikan momen dengan ponselnya. Melalui peristiwa ini, semangat toleransi dan cinta keberagaman terpancar jelas, sekaligus menjadi hadiah istimewa bagi Jakarta yang akan segera memasuki usia setengah milenium.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Analisis. Editor analisis mendalam isu publik.

Comments (0)

User