Ada Orang yang Ogah Keluar Rumah? Studi Ungkap Bukan Cuma Soal Kepribadian

Bagi sebagian individu, tak ada tempat yang lebih melegakan selain rumah sendiri. Setelah seharian berkutat dengan kemacetan dan rutinitas di luar, momen paling dinanti adalah ketika kaki melangkah ma

Jul 08, 2026 - 08:54
0 0
Ada Orang yang Ogah Keluar Rumah? Studi Ungkap Bukan Cuma Soal Kepribadian
Bagi sebagian individu, tak ada tempat yang lebih melegakan selain rumah sendiri. Setelah seharian berkutat dengan kemacetan dan rutinitas di luar, momen paling dinanti adalah ketika kaki melangkah masuk ke dalam hunian. Namun, mengapa ada orang yang merasa 'kecanduan' untuk selalu berada di rumah sementara yang lain justru gelisah jika terlalu lama di dalam ruangan? Sebuah temuan menarik mengungkap bahwa rasa cinta yang mendalam terhadap rumah bukanlah sekadar bawaan lahir atau tipe kepribadian introver semata. Laporan dari media kami menghimpun data bahwa ikatan emosional yang kuat terhadap tempat tinggal lebih banyak dibentuk oleh kualitas pengalaman yang dijalani sehari-hari.

Pengalaman, Bukan Kepribadian

Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Environmental Psychology pada tahun 2024 menunjukkan fakta yang cukup membuka mata. Rasa betah dan keterikatan seseorang pada rumahnya ternyata lebih dipengaruhi oleh pengalaman yang dirasakan selama berada di dalam rumah, bukan semata-mata oleh cetak biru kepribadiannya. Artinya, Anda tidak harus terlahir sebagai pribadi yang sangat tertutup atau penyendiri untuk merasa berat meninggalkan rumah. Justru, aktivitas positif dan rasa aman yang diciptakan di dalam rumah menjadi faktor penentu utama. Ketika sebuah rumah berhasil menjadi wadah untuk kegiatan yang memuaskan secara emosional—seperti membaca buku favorit, berkumpul dengan orang-orang tercinta, atau menikmati hobi tanpa gangguan—di situlah rasa 'betah' itu tumbuh.
"Rasa betah di rumah ternyata lebih dipengaruhi oleh pengalaman yang dirasakan seseorang di dalam rumah, bukan semata-mata oleh kepribadiannya."
Psikologis manusia memang cenderung mencari tempat yang memberikan keamanan dan pemulihan. Rumah yang berfungsi sebagai "safe haven" atau tempat pelarian dari tekanan dunia luar akan secara otomatis memperkuat keinginan seseorang untuk terus kembali atau menetap di sana.

Menciptakan Suasana yang Mengikat

Fenomena ini menjelaskan mengapa dekorasi atau kemewahan fisik bukanlah jaminan utama dari rasa betah. Dua orang bisa tinggal di tipe rumah yang sama, namun memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda drastis. Semua kembali pada bagaimana mereka menghidupkan ruang tersebut. Aktivitas seperti memasak bersama, menciptakan sudut baca yang tenang, atau sekadar rutinitas minum teh di sore hari ternyata memiliki dampak psikologis yang signifikan. Lebih lanjut, ini juga menjadi sinyal bahwa rasa malas untuk keluar rumah tidak selalu berarti negatif atau merupakan tanda isolasi sosial. Dalam banyak kasus, itu adalah wujud keberhasilan seseorang dalam mendesain lingkungan pribadinya agar sesuai dengan kebutuhan batinnya. Rumah tidak hanya menjadi tempat berteduh, tetapi juga laboratorium emosi tempat seseorang mengisi ulang energi. Dengan demikian, jika Anda atau orang terdekat merasa sangat bahagia saat memiliki waktu lebih banyak di rumah, hal tersebut adalah respons alami dari pengalaman positif yang terakumulasi. Temuan ini dirangkum dari kajian psikologis lingkungan, sebagaimana dilansir oleh Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Editor Politik. Editor dinamika politik dan kekuasaan.

Comments (0)

User