Awas 'Phone Body', Postur Tubuh Berubah Akibat Keseringan Main HP
Perangkat pintar kini telah menjadi bagian yang begitu erat dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kita sadari, kebiasaan menatap layar selama berjam-jam, menggulir linimasa media sosial, atau bermain gi
Perangkat pintar kini telah menjadi bagian yang begitu erat dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kita sadari, kebiasaan menatap layar selama berjam-jam, menggulir linimasa media sosial, atau bermain gim tidak hanya menguras waktu, tetapi juga perlahan membentuk kembali postur tubuh. Gejala ini ramai diperbincangkan dengan istilah 'phone body', sebuah gambaran perubahan fisik yang dipicu oleh penggunaan gawai secara berlebihan.
Walau istilah tersebut tidak tercantum dalam diagnosis medis resmi, para pakar kesehatan menegaskan bahwa fenomena ini nyata adanya. Mereka menyoroti bagaimana posisi tubuh yang salah saat menggunakan ponsel dalam waktu lama dapat memicu serangkaian keluhan. Bahu yang cenderung membungkuk, leher yang terasa kaku dan nyeri, hingga rasa pegal pada jempol menjadi tanda-tanda yang makin sering dijumpai. Bahkan, kelelahan pada mata akibat paparan cahaya biru turut melengkapi gambaran 'phone body' ini.
Ketika kita menunduk melihat layar ponsel, beban pada leher bisa meningkat hingga beberapa kali lipat dari berat kepala normal. Ini seperti membawa beban ekstra yang terus-menerus menekan struktur tulang belakang bagian atas.
Kebiasaan menunduk itu menimbulkan tekanan berlebih pada tulang leher dan otot di sekitarnya. Dalam posisi normal, berat kepala manusia sekitar 4 hingga 5 kilogram. Namun, saat menunduk dengan sudut 15 derajat saja, beban pada leher bisa melonjak hingga sekitar 12 kilogram. Semakin miring sudut kepala, semakin besar beban yang harus ditopang. Jika ini berlangsung berjam-jam setiap hari, tidak heran jika struktur tubuh mulai berubah dan rasa nyeri kronis pun muncul.
Cara menggenggam ponsel juga tak luput dari perhatian. Jempol yang terus-menerus digunakan untuk mengetik dan menggulir layar bisa mengalami ketegangan berlebih. Kondisi ini sering disebut sebagai 'texting thumb', yang dalam jangka panjang bisa memicu peradangan pada sendi dan tendon di sekitar ibu jari. Sementara itu, mata yang terus dipaksa fokus pada layar berukuran kecil dengan jarak yang terlalu dekat akan bekerja lebih keras. Akibatnya, rasa kering, perih, dan penglihatan buram menjadi keluhan yang umum dilaporkan oleh para pengguna berat gawai.
Para ahli menyarankan agar masyarakat mulai lebih sadar akan posisi tubuh saat berinteraksi dengan perangkat digital. Mengangkat layar sejajar mata, melakukan peregangan secara berkala, serta membatasi durasi penggunaan gawai menjadi langkah sederhana yang bisa dimulai dari sekarang. Sebab, tanpa intervensi dini, dampak 'phone body' bisa menjadi masalah postur permanen yang lebih sulit diperbaiki di kemudian hari.
Demikian laporan yang dihimpun oleh media kami, Beritadua.com, dari berbagai sumber kesehatan. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan kebiasaan hidup sehat agar tubuh tidak menjadi korban dari kecanduan gawai.
Comments (0)