Peluang Harga Pertamax Turun Usai AS dan Iran Capai Kesepakatan Damai
Jakarta - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax, dinilai berpeluang mengalami penurunan dalam waktu dekat. Proyeksi ini mencuat seiring dengan tren pelemahan harga
Jakarta - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax, dinilai berpeluang mengalami penurunan dalam waktu dekat. Proyeksi ini mencuat seiring dengan tren pelemahan harga minyak mentah dunia yang terjadi pasca-pengumuman kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Laporan media kami mengonfirmasi bahwa dinamika geopolitik global tersebut memberikan sentimen positif terhadap pasokan energi dunia, yang pada akhirnya menekan harga minyak mentah. Sebagai konsekuensinya, ruang untuk penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri pun terbuka lebar, tak terkecuali untuk produk Pertamax yang belum lama ini mengalami penyesuaian harga.
Mekanisme Harga Keekonomian
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menegaskan bahwa fluktuasi harga BBM nonsubsidi memang sepenuhnya mengikuti pergerakan harga keekonomian. Dengan demikian, ketika terjadi pelandaian harga minyak mentah global, harga jual BBM jenis nonsubsidi semestinya ikut terkoreksi ke bawah.
"Apakah harganya bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun sudah dipastikan harga BBM non subsidi akan turun. Begitu juga sebaliknya ketika harga minyak dunia naik, mau tidak mau tidak terhindarkan dia akan sesuaikan harga keekonomiannya," beber Anggia di Gedung Bakom, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026).
Sentimen Perdamaian dan Dampaknya
Berdasarkan pantauan tim redaksi, pasar energi global bergerak volatil pasca meredanya tensi antara Washington dan Teheran. Kesepakatan damai ini diproyeksikan akan membuka keran ekspor minyak Iran secara lebih leluasa, sehingga menambah suplai ke pasar internasional. Bertambahnya pasokan secara teori akan menurunkan harga, sebuah katalis positif yang kini tengah dicermati oleh para pemangku kebijakan di sektor energi tanah air.
Sebagai informasi, Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya menggunakan formula harga yang merujuk pada rata-rata indeks pasar minyak dunia atau Mean of Platts Singapore (MOPS). Jika tren penurunan harga minyak berlanjut secara berkesinambungan, bukan tidak mungkin dalam hitungan pekan ke depan Pertamina akan mengumumkan revisi harga jual.
Kendati demikian, kebijakan final tetap berada di tangan badan usaha. Faktor-faktor seperti nilai tukar rupiah, biaya distribusi, dan margin tetap menjadi komponen kalkulasi yang tak terpisahkan. Meski begitu, sinyal dari Kementerian ESDM memberikan secercah harapan bagi masyarakat yang mengandalkan mobilitas tinggi, bahwa beban biaya pengisian BBM berpotensi kembali meringan.
Comments (0)