Musim Kemarau Ubah Pola Tanam Petani di Bantul

Bantul — Memasuki puncak musim kemarau, petani di sejumlah wilayah Bantul terpaksa mengubah pola tanam mereka untuk bertahan di tengah keterbatasan air. Andalan utama yang kini menyokong lahan-laha

Jul 07, 2026 - 23:19
0 0
Musim Kemarau Ubah Pola Tanam Petani di Bantul

Bantul — Memasuki puncak musim kemarau, petani di sejumlah wilayah Bantul terpaksa mengubah pola tanam mereka untuk bertahan di tengah keterbatasan air. Andalan utama yang kini menyokong lahan-lahan pertanian adalah aliran Sungai Oyo yang masih cukup deras, menjadi sumber irigasi bagi para petani yang mengganti komoditas utama dari padi menjadi tanaman hortikultura bernilai tinggi, seperti cabai dan bawang merah.

Alih Komoditas demi Efisiensi Air

Keputusan meninggalkan padi bukanlah tanpa alasan. Tanaman padi yang biasanya membutuhkan genangan air sepanjang musim tanam menjadi tidak lagi rasional saat debit air irigasi menurun drastis. Sebaliknya, cabai dan bawang merah dikenal lebih toleran terhadap kondisi kering setelah melewati fase awal pertumbuhan. Dengan sistem pengairan bergilir dan pompa air dari Sungai Oyo, petani mampu menjaga kelembapan tanah cukup untuk dua komoditas ini.

Berdasarkan pemantauan media kami di lapangan, para petani mengaku perubahan ini membawa nilai ekonomis yang lebih menjanjikan. “Harga cabai dan bawang sedang bagus, dan biaya produksi lebih ringan karena tidak perlu menggenangi sawah sepanjang waktu. Air dari Oyo kami alirkan pakai pompa, cukup untuk lahan sekitar satu hektar,” ujar Sukirman, salah seorang petani di Kecamatan Dlingo, saat ditemui Beritadua.com, Selasa (17/6).

“Awalnya berat meninggalkan kebiasaan menanam padi, tapi setelah melihat hasil panen cabai tahun lalu, banyak petani yang ikut beralih. Musim kemarau justru jadi peluang.”

Air Oyo Jadi Penyelamat

Sungai Oyo yang membentang dari utara ke selatan Bantul memang dikenal sebagai salah satu urat nadi pengairan di wilayah ini. Saat kemarau, pemerintah daerah bersama kelompok tani setempat mengoptimalkan pintu-pintu air dan pompa untuk mendistribusikan air ke lahan-lahan yang masuk dalam area irigasi. Meski begitu, tidak semua petani beruntung; hanya lahan yang berada dekat aliran sungai atau memiliki akses pompa yang bisa memanfaatkannya.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bantul mencatat, pada musim kemarau 2025 ini, sekitar 30 persen lahan sawah di wilayah selatan beralih ke tanaman palawija dan hortikultura. Langkah ini dinilai tepat untuk menjaga produktivitas sekaligus mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan. “Kami mendorong petani untuk menyesuaikan komoditas sesuai ketersediaan air. Cabai dan bawang merah menjadi pilihan karena masa tanamnya pendek dan permintaan pasar tinggi,” jelas Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Bantul, Widi Astuti, saat dihubungi secara terpisah.

Perubahan pola tanam ini menjadi bukti adaptasi petani terhadap kondisi iklim yang semakin sulit diprediksi. Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang memadai dan pemilihan komoditas yang tepat, sektor pertanian di Bantul mampu tetap bernapas meski musim kemarau membatasi pilihan. Media kami akan terus memantau perkembangan di lapangan dan melaporkan dampaknya bagi kesejahteraan petani di wilayah ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User