Mundurnya Keir Starmer, PM Inggris Paling Tidak Populer

Keir Starmer resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Perdana Menteri Inggris pada Senin (22/6), menandai akhir dari masa kepemimpinan yang penuh paradoks. Dua tahun sebelumnya, tepatnya pa

Jul 08, 2026 - 19:37
0 0
Mundurnya Keir Starmer, PM Inggris Paling Tidak Populer

Keir Starmer resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan Perdana Menteri Inggris pada Senin (22/6), menandai akhir dari masa kepemimpinan yang penuh paradoks. Dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 2024, ia mengantarkan Partai Buruh meraih kemenangan spektakuler atas Partai Konservatif yang telah berkuasa selama 14 tahun. Kemenangan telak itu membangkitkan harapan besar akan era baru dalam politik Inggris. Namun, realitas pemerintahan ternyata jauh lebih pahit dari ekspektasi.

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Starmer menyampaikan bahwa menjabat sebagai perdana menteri merupakan "momen paling membanggakan dalam hidupnya." Meski demikian, ia mengakui bahwa dirinya harus pergi "dengan lapang dada," sebuah pengakuan tersirat bahwa mandat politik yang ia terima telah terkikis secara signifikan. Berbagai jajak pendapat menempatkan tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinannya pada titik terendah yang pernah dicatat oleh perdana menteri Inggris dalam beberapa dekade terakhir.

Kontradiksi dalam kepemimpinan Starmer sangat mencolok. Di panggung internasional, ia dihormati sebagai negarawan yang tenang dan terukur. Lawan politiknya di dalam negeri mengakui kecakapannya dalam diplomasi dan kemampuannya menjaga hubungan transatlantik yang stabil. Namun, di depan publik Inggris sendiri, ia gagal membangun koneksi emosional yang diperlukan untuk mempertahankan dukungan rakyat.

"Menjadi perdana menteri adalah momen paling membanggakan dalam hidup saya, tetapi saya menerima bahwa saya harus pergi dengan lapang dada," ujar Starmer dalam pernyataan pengunduran dirinya.

Sejumlah kebijakan domestik yang kontroversial menjadi batu sandungan utama. Reformasi layanan kesehatan nasional (NHS) yang ambisius justru menuai protes karena dianggap memperburuk antrean layanan. Kenaikan pajak yang diperkenalkan untuk mendanai program sosial mendapat perlawanan sengit dari kalangan bisnis dan kelas menengah. Sementara itu, krisis biaya hidup yang berkepanjangan terus menggerus daya beli masyarakat, dan pemerintahan Starmer dinilai lamban merespons.

Faksi internal Partai Buruh juga menjadi sumber masalah yang tak kunjung reda. Sebagai pemimpin yang naik dengan platform persatuan pasca-era Jeremy Corbyn, Starmer justru terjebak dalam pertempuran ideologis antara sayap kiri dan sentris partainya sendiri. Kebijakannya yang dianggap terlalu moderat mengecewakan basis progresif, sementara langkah-langkah sosialnya yang ambisius mengkhawatirkan kelompok tengah pemilih. Ia terjebak dalam posisi yang nyaris mustahil.

Pengunduran diri Starmer membuka babak baru bagi politik Inggris. Partai Buruh kini harus segera memilih pemimpin baru yang mampu menyatukan faksi-faksi internal dan memulihkan kepercayaan publik. Sementara itu, oposisi Partai Konservatif, yang dua tahun lalu terpuruk, berpotensi memanfaatkan kekosongan kepemimpinan ini untuk kembali membangun relevansi politik mereka. Pertarungan menentukan arah masa depan Inggris kini memasuki fase genting. Pengamat politik menilai bahwa mundurnya Starmer menandai kegagalan model kepemimpinan teknokratik yang mengandalkan kompetensi administratif tanpa visi transformatif yang membumi di hati rakyat. Beritadua.com akan terus memantau perkembangan situasi politik Inggris pasca-pengunduran diri ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User