Mahasiswa Unpam Latih Problem Solving Siswa SMKN 41 Jakarta
Suara diskusi kelompok terdengar bersahutan di aula SMKN 41 Jakarta, Rabu (19/2). Bukan guru yang memandu, melainkan delapan mahasiswa semester akhir Fakul
Suara diskusi kelompok terdengar bersahutan di aula SMKN 41 Jakarta, Rabu (19/2). Bukan guru yang memandu, melainkan delapan mahasiswa semester akhir Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang. Mereka hadir bukan untuk praktik mengajar formal, tetapi menjalankan proyek pengabdian masyarakat bertajuk "Problem Solving dan Pengambilan Keputusan Sehari-hari."
Di sudut ruangan, siswa kelas XI jurusan Akuntansi serius mengisi lembar kerja yang memuat studi kasus: mengatur keuangan pribadi saat uang saku terbatas, menentukan prioritas tugas sekolah, hingga menyikapi ajakan teman yang berisiko. Seminar ini sengaja dirancang praktis agar siswa langsung mempraktikkan, bukan sekadar mendengar teori.
Dari Mahasiswa untuk Siswa: Pendekatan Teman Sebaya
"Kami ingin berbagi pengalaman nyata, bagaimana problem solving membantu kami bertahan di bangku kuliah dan organisasi. Bukan menggurui, lebih ke berbagi cerita," ujar Rizky, ketua kelompok mahasiswa.
Materi inti dibagi dalam dua sesi. Pertama, pemaparan kerangka IDEAL (Identify, Define, Explore, Act, Look Back)—model pemecahan masalah yang mudah diingat. Kedua, simulasi keputusan cepat dengan metode "6 Topi Berpikir" untuk melatih siswa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Seorang peserta mengaku pertama kalinya diajak berpikir terstruktur sebelum bertindak, "Biasanya kalau ada masalah langsung panik. Sekarang jadi tahu langkah-langkahnya."
Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Manajemen Strategik yang mewajibkan mahasiswa mengimplementasikan pengetahuan manajemen di komunitas. Dosen pembimbing, Ibu Anita Pratiwi, mengapresiasi inisiatif ini karena menjembatani jurang antara teori di kelas dan realitas sosial—sekaligus membekali siswa SMK dengan soft skill yang krusial di dunia kerja.
Dua Sisi Kolaborasi: Antara Niat Baik dan Efektivitas
Di balik antusiasme, muncul pertanyaan kritis: seberapa efektif pelatihan satu hari yang disampaikan mahasiswa non-pendidik? Beberapa guru pendamping menyambut positif karena gaya komunikasi mahasiswa lebih cair dan dekat dengan dunia remaja, sehingga materi lebih mudah dicerna. Namun, seorang guru BK mengingatkan, "Problem solving perlu pembiasaan. Satu sesi bisa jadi pemicu, tapi tanpa pendampingan berkelanjutan, dampaknya mudah menguap."
"Saya senang belajar cara memilah masalah, tapi setelah seminar, siapa yang akan mengingatkan saya terus?" tanya Dinda, siswa yang sebelumnya mendapat nilai rendah karena kesulitan mengatur waktu.
Dari sudut pandang lain, model seminar mahasiswa ini memperkuat kemitraan perguruan tinggi-sekolah yang sering berjarak. Bagi siswa SMK yang akan langsung terjun ke industri, keterampilan mengambil keputusan berbasis logika—bukan sekadar intuisi—adalah bekal berharga. Survei kecil dari tim mahasiswa menunjukkan 82% peserta merasa lebih percaya diri menghadapi masalah setelah workshop.
Narasi Dua Kutub: Peluang dan Kelemahan
Analisis seimbang terhadap program ini membawa kita pada serangkaian poin yang perlu dicermati:
✅ Pro (Manfaat Nyata)
1. Pelatihan kontekstual: Siswa langsung mengaitkan problem solving dengan situasi sehari-hari (keuangan, pertemanan, studi), bukan sekadar teori bisnis.
2. Mentoring teman sebaya: Jarak usia yang dekat antara pemateri dan peserta mendorong keterbukaan dan diskusi tanpa rasa segan.
3. Penguatan ekosistem pendidikan: Sekolah mendapat sumber belajar tambahan tanpa biaya besar; mahasiswa mengasah kemampuan komunikasi dan empati.
4. Peningkatan kepercayaan diri: Data internal menunjukkan mayoritas siswa mengalami kenaikan signifikan dalam skor pengambilan keputusan rasional setelah post-test.
⚠️ Kontra (Kelemahan yang Perlu Diatasi)
1. Keterbatasan durasi: Workshop satu hari berpotensi menjadi sekadar ceramah jika tidak disertai program tindak lanjut oleh pihak sekolah.
2. Kapasitas pengajar: Mahasiswa mungkin kurang terlatih menangani keragaman kebutuhan psikologis siswa dalam menyelesaikan masalah personal yang serius.
3. Evaluasi dampak jangka panjang: Tanpa pengukuran berkala, efektivitas agenda ini sulit dibuktikan secara ilmiah.
4. Risiko generalisasi: Metode "6 Topi Berpikir" dan IDEAL belum tentu cocok untuk semua tipe masalah, terutama yang membutuhkan pendekatan emosional lebih dalam.
Dengan demikian, seminar semacam ini ibarat percikan api yang membutuhkan bahan bakar dari lingkungan sekolah agar menjadi nyala keterampilan yang berkelanjutan. Kolaborasi semacam ini perlu didorong, namun harus diimbangi dengan komitmen pendampingan dari pihak yang lebih permanen—guru, konselor, hingga orang tua—agar transfer ilmu tidak berhenti di aula, melainkan menyatu dalam kebiasaan.
Comments (0)