Desa Gempol Cirebon — Sampah Disulap Jadi Cuan dan Lapangan Kerja

Di balik tumpukan sampah yang dulu hanya dipandang sebelah mata, warga Desa Gempol, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, kini menemukan mutiara terpendam.

Jul 08, 2026 - 21:07
0 0
Desa Gempol Cirebon — Sampah Disulap Jadi Cuan dan Lapangan Kerja

Di balik tumpukan sampah yang dulu hanya dipandang sebelah mata, warga Desa Gempol, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon, kini menemukan mutiara terpendam. Udara pagi yang biasanya diwarnai bau menyengat dari tempat pembuangan liar, perlahan berganti dengan semangat baru di unit pengolahan sampah terpadu milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat. Di sinilah, limbah rumah tangga yang semula identik dengan masalah lingkungan, justru menjelma menjadi sumber pendapatan dan membuka puluhan lapangan kerja.

Rina, seorang ibu rumah tangga yang dulu hanya mengandalkan penghasilan suaminya sebagai buruh tani, kini tersenyum lebar. Dengan tangannya yang cekatan, ia memilah botol plastik dan kardus bekas. “Dulu saya bingung mau kerja apa. Sekarang bisa bantu ekonomi keluarga sambil membersihkan lingkungan,” ujarnya sumringah. Kisahnya hanyalah satu dari banyak potret perubahan yang digerakkan oleh BUMDes Gempol sejak awal tahun ini.

Dari Darurat Sampah Menjadi Inisiatif Kolektif

Sebelum program ini berjalan, desa dengan sekitar 4.200 jiwa penduduk itu menghadapi darurat persampahan. Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ilegal bermunculan di bantaran sungai, memicu banjir tahunan dan konflik warga. Rasa putus asa sempat menyelimuti kepala desa dan perangkatnya. Hingga akhirnya, melalui musyawarah desa yang alot, disepakati bahwa sampah harus dikelola seperti aset, bukan sekadar diangkut dan dibuang.

BUMDes Gempol pun membentuk unit usaha pengelolaan sampah bernama “Berkah Lindur” — diambil dari nama pohon lindung yang dulu banyak tumbuh di desa tersebut. Investasi awal sebesar Rp 380 juta dari dana desa dan pinjaman lunak digunakan untuk membangun hanggar pemilahan, membeli mesin pencacah plastik, dan melatih 25 orang tenaga kerja lokal.

“Kami tidak mau hanya memindahkan masalah. Sampah harus diolah menjadi produk bernilai jual. Dari situlah lahir ide membuat paving block dari plastik kresek dan kompos dari sampah dapur,” jelas Sugianto, Direktur BUMDes Gempol, saat ditemui di kantornya yang berdinding anyaman bambu.

Proses Produksi dan Dampak Ekonomi

Alur kerjanya sistematis. Setiap pagi, petugas kebersihan desa mengambil sampah dari 900 rumah secara terpilah — basah dan kering. Sampah basah diolah menjadi kompos organik yang kemudian dijual ke petani bawang merah di Kecamatan Gebang dengan harga Rp 1.500 per kilogram. Sementara itu, sampah plastik kresek yang sulit terurai dicacah, dilelehkan, dan dicetak menjadi paving block berkekuatan 20 MPa — setara dengan mutu beton jalan perumahan.

Dalam satu bulan, unit ini mampu memproduksi 4.000 paving block dan 6 ton kompos. Pendapatan kotor BUMDes mencapai Rp 45 juta per bulan, dengan margin bersih sekitar 30 persen setelah dikurangi operasional dan gaji pekerja. Yang lebih penting, 40 orang warga desa kini memiliki pekerjaan tetap sebagai pemulung, operator mesin, hingga staf pemasaran.

Dari sisi lingkungan, volume sampah yang terbuang ke sungai berkurang nyaris 80 persen. Kualitas udara dan air di sekitar pemukiman juga menunjukkan perbaikan signifikan berdasarkan pengukuran sederhana oleh kader lingkungan desa.

Tantangan dan Jalan ke Depan

Segala kemajuan itu tak datang tanpa batu sandungan. Mesin pencacah plastik kerap mogok karena kurangnya suku cadang dan teknisi andal. Pasar paving block plastik pun masih fluktuatif lantaran persaingan dengan produk konvensional yang lebih murah. Selain itu, mengubah kebiasaan warga memilah sampah dari rumah membutuhkan waktu dan kesabaran ekstra.

“Tantangan terbesar itu sebenarnya bukan teknologi, tapi mental. Masih banyak warga yang ogah-ogahan memilah. Kami harus door to door terus-menerus,” kata Lilis, salah satu pendamping desa.

Meski demikian, semangat kolektif tetap membara. Pemerintah Desa Gempol berencana merambah produksi furniture minimalis berbahan limbah kayu dan menjalin kerja sama dengan perusahaan daur ulang skala besar. Mereka juga tengah mengajukan sertifikasi produk ramah lingkungan untuk memperluas pasar daring.

Analisis Dua Sisi

Inisiatif Desa Gempol mengilustrasikan potensi ekonomi sirkular di tingkat akar rumput, tetapi sekaligus menyisakan sejumlah catatan kritis yang perlu disikapi sebagai perbandingan.

  • Pro: Program pengelolaan sampah ini secara simultan menekan volume limbah, menciptakan lapangan kerja lokal, dan menghasilkan produk bernilai jual. Pendekatan berbasis komunitas memupuk kemandirian desa serta menurunkan ketergantungan terhadap anggaran operasional pengangkutan sampah ke TPA regional. Dampak ekologisnya langsung dirasakan warga, terutama berkurangnya pencemaran sungai dan bau tak sedap.
  • Kontra: Keberlanjutan model bisnis bergantung pada ketersediaan pasar yang stabil dan harga jual yang kompetitif. Teknologi sederhana yang digunakan rentan terhadap kerusakan sehingga menimbulkan biaya perawatan tak terduga. Selain itu, perubahan budaya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga masih lambat, sehingga kuantitas dan kualitas bahan baku daur ulang belum optimal. Tanpa intervensi kebijakan yang lebih luas, replikasi model ini di desa lain berpotensi terkendala investasi awal dan minimnya pendampingan teknis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User