KOTIM — Kebakaran Meluas Sulit Dijangkau, BPBD Minta Helikopter Water Bombing

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kian mengganas. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Be

Jul 08, 2026 - 21:44
0 0
KOTIM — Kebakaran Meluas Sulit Dijangkau, BPBD Minta Helikopter Water Bombing

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kian mengganas. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat luas lahan yang terbakar telah mencapai 1.200 hektare, dengan sebaran titik api aktif di 45 titik yang tersebar di tiga kecamatan. Kondisi ini diperparah oleh medan bergambut yang sulit dijangkau tim pemadam darat, sehingga api dengan cepat merambat ke area yang lebih dalam. “Kami kewalahan. Beberapa titik api berada di kedalaman rawa gambut yang tidak bisa diakses, dan tanpa intervensi udara, situasi bisa lepas kendali,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Budi Santoso, dalam keterangan pers Selasa (11/3). Pihaknya telah mengirimkan surat permintaan resmi kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan dukungan 2 unit helikopter water bombing tambahan, melengkapi tiga helikopter patroli yang sudah beroperasi namun belum mampu menjinakkan seluruh api.

Permintaan bantuan tersebut muncul setelah hampir dua pekan upaya pemadaman darat hanya mampu menjangkau sekitar 35% area yang terbakar. Sebanyak 150 personel gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan telah dikerahkan, tetapi keterbatasan akses membuat mereka harus memutar hingga 6 kilometer untuk mencapai sumber air, sementara api terus meluas. Kerugian material sementara ditaksir mencapai Rp 8 miliar, mencakup lahan pertanian, kawasan penyangga Taman Nasional Tanjung Puting, dan beberapa hektare kebun sawit warga. Dinas Lingkungan Hidup mencatat konsentrasi partikulat PM2.5 di udara telah melampaui ambang batas aman, memaksa sejumlah sekolah di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang meliburkan kegiatan belajar mengajar. Budi menegaskan bahwa water bombing adalah “opsi terakhir yang paling realistis” mengingat morfologi lahan yang tidak mendukung pembangunan sekat kanal baru dalam waktu singkat.

Analisis: Efektivitas Water Bombing di Wilayah Sulit Dijangkau

Penggunaan helikopter water bombing kerap menjadi andalan saat karhutla mencapai titik kritis di lahan bergambut. Satu kali terbang, helikopter bisa mengguyurkan 4.000 hingga 10.000 liter air langsung ke pusat api, jauh melebihi kapasitas tim darat yang hanya mampu membawa 500 liter per tangki portable. Di Kotim, keberadaan lebih dari 60% lahan gambut tebal membuat penyiraman udara sangat efektif karena air bisa langsung membasahi lapisan atas yang kering dan memutus rambatan api di bawah permukaan. Namun, efektivitas ini harus dibayar mahal. Satu jam operasional helikopter water bombing diperkirakan menelan biaya Rp 50 juta hingga Rp 75 juta, bergantung pada tipe helikopter dan jarak pengambilan air. Di sisi lain, ketersediaan sumber air dangkal di Kotim yang cukup banyak sebetulnya menjadi keunggulan, karena helikopter bisa mengisi tangki dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit.

Perbandingan Metode Pemadaman Karhutla di Lahan Gambut
Metode Keunggulan Keterbatasan
Pemadaman Darat (Tim Manual + Pompa) Biaya rendah, bisa beroperasi 24 jam Jangkauan terbatas hingga 200 meter dari akses, tidak efektif di lahan terisolasi
Water Bombing (Helikopter) Cepat, jangkauan maksimal hingga 15 km radius, volume air besar per siklus Biaya operasional tinggi, tergantung cuaca cerah, ketidaktersediaan sumber air buatan membatasi efektivitas
Hujan Buatan (TMC) Dapat membasahi area luas sekaligus, cocok untuk pencegahan skala besar Memerlukan bibit awan potensial, waktu persiapan panjang, biaya teknologi sangat mahal

Dari sudut pandang lingkungan, operasi water bombing juga tidak lepas dari kekhawatiran. Sebagian besar air yang diambil berasal dari kanal dan sungai sekitar yang selama kebakaran sudah mengalami penurunan kualitas akibat abu. Pengambilan dalam jumlah besar berisiko mengganggu ekosistem perairan lokal, meskipun dampaknya dianggap temporer. Dr. Yulianti, pakar hidrologi gambut dari Universitas Palangka Raya, mengingatkan bahwa “water bombing hanya meredakan gejala, bukan menyembuhkan penyakit. Selama kanal-kanal pengering lahan masih berfungsi dan praktik pembukaan lahan dengan bakar tidak ditindak tegas, karhutla akan terus menjadi bencana tahunan.”

Di tengah perdebatan itu, BPBD Kotim optimistis bahwa tambahan dua helikopter akan mampu memutus rantai api dalam tiga hari ke depan, asalkan cuaca mendukung. Sembari menunggu keputusan BNPB, pemda setempat mempercepat optimalisasi sekat kanal di tiga kecamatan kritis dan mendistribusikan 50 unit pompa alkon ke desa-desa penyangga hutan. Langkah ini diambil untuk meminimalkan ketergantungan pada water bombing yang bersifat reaktif, sekaligus membangun kembali kapasitas pencegahan berbasis komunitas yang sempat tergerus minimnya anggaran.

Pro: Water bombing mampu menekan laju api di lahan gambut yang tidak dapat diakses tim darat, mempercepat pemadaman sebelum api menjalar ke permukiman dan kawasan konservasi; operasi ini juga memberikan efek psikologis positif bagi warga yang cemas kehilangan lahan pertanian. Kontra: Ketergantungan pada helikopter membebani anggaran bencana––dana yang seharusnya bisa dipakai untuk restorasi gambut permanen––dan menciptakan ilusi penanganan instan yang berpotensi mengabaikan akar masalah seperti tata kelola air dan penegakan hukum pembakaran liar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User