Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Naik, Pekerjaan Rumah Masih Besar
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, indeks literasi ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia tercatat mengalami kenaikan signifikan menjadi 65,43 persen, dari 49,68 persen pada 2022. Adapun indeks inklusi keuangan berada di level 75,02 persen dengan metodologi pengukuran anyar yang lebih ketat. Untuk pembaca awam, literasi keuangan mengukur seberapa dalam pemahaman masyarakat terhadap produk dan risiko keuangan, sedangkan inklusi keuangan mengukur seberapa luas akses serta penggunaan layanan keuangan formal, mulai dari rekening bank hingga instrumen investasi.
Capaian ini menjadi penanda penting bagi perekonomian yang tumbuh di kisaran 5 persen year-on-year, mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Masyarakat yang melek finansial cenderung lebih rasional dalam mengelola portofolio, menahan diri dari keputusan impulsif, dan pada gilirannya menjadi penopang stabilitas sistem keuangan nasional.
Tren Satu Dekade: Dari Perluasan Akses Menuju Pendalaman Pemahaman
Jika ditarik ke belakang, tren perbaikan terlihat konsisten. Pada 2016, indeks literasi baru 29,7 persen dan inklusi 67,8 persen. Angka itu naik menjadi 38,03 persen dan 76,19 persen pada 2019, lalu 49,68 persen dan 85,10 persen pada 2022. Yang menarik dari survei terbaru adalah menyempitnya kesenjangan antara akses dan pemahaman: selisih kedua indeks yang pada 2022 mencapai sekitar 35 poin persentase kini terpangkas menjadi kurang dari 10 poin. Artinya, masyarakat tidak sekadar memiliki rekening, tetapi mulai benar-benar memahami cara menggunakannya secara produktif.
Di Satu Sisi: Fundamental Keuangan Rumah Tangga Menguat
Di satu sisi, kenaikan literasi memperkuat fundamental ekonomi dari sisi mikro. Data industri menunjukkan jumlah investor pasar modal telah menembus 13 juta, sementara pengguna QRIS menurut Bank Indonesia melampaui 50 juta. Likuiditas yang sebelumnya menganggur kini tersalurkan ke instrumen produktif, memperdalam pasar keuangan domestik dan memperkecil ketergantungan pada dana asing yang rentan capital outflow ketika sentimen pasar global bergejolak. Rasio penetrasi asuransi dan dana pensiun juga berpotensi membaik seiring pemahaman masyarakat terhadap proteksi jangka panjang.
"Peningkatan literasi dua digit dalam dua tahun adalah capaian langka di negara berkembang. Tantangannya kini bukan lagi akses, melainkan memastikan pemahaman masyarakat sejalan dengan kompleksitas produk yang mereka beli," ujar seorang pengamat ekonomi dari kalangan akademisi di Jakarta.
Di Sisi Lain: Risiko Penipuan dan Jebakan Utang Masih Membayangi
Di sisi lain, angka inklusi 75,02 persen dengan metodologi baru mengindikasikan bahwa pengukuran sebelumnya boleh jadi terlalu optimistis. Masih ada sekitar seperempat penduduk dewasa yang belum tersentuh layanan keuangan formal secara efektif, terutama di wilayah timur Indonesia dan kalangan berpendapatan rendah. Kesenjangan literasi antardaerah dan antarkelompok gender juga masih lebar, sehingga agregat nasional berisiko menutupi ketimpangan di level mikro.
Risiko lain datang dari sisi perlindungan konsumen. Pengaduan terkait pinjaman online ilegal, penipuan investasi berkedok robot trading, dan penyalahgunaan data pribadi masih membanjiri kanal pengaduan OJK. Literasi yang naik belum otomatis membuat masyarakat kebal dari iming-iming imbal hasil tidak wajar. Tanpa kehati-hatian, akses yang meluas justru dapat berubah menjadi jebakan utang konsumtif, terutama melalui fitur paylater yang bunganya bisa mencapai 0,3 persen per hari atau lebih dari 100 persen per tahun jika disetahunkan.
Proyeksi: Mengejar Target Inklusi 90 Persen
Pemerintah sebelumnya menargetkan inklusi keuangan 90 persen pada 2024 melalui Peraturan Presiden Nomor 114 Tahun 2020. Dengan metodologi pengukuran baru, target tersebut perlu dikalibrasi ulang. Proyeksi kami, bila tren kenaikan literasi sekitar 7 hingga 8 poin persentase per dua tahun berlanjut, indeks literasi berpotensi mendekati 80 persen pada 2028. Kuncinya terletak pada sinergi edukasi di sekolah, program satu rekening satu pelajar, serta ekspansi bank digital ke daerah tertinggal.
Pada akhirnya, data SNLIK terbaru layak dibaca dengan dua kacamata sekaligus. Ada kemajuan nyata yang memperkuat ketahanan ekonomi domestik, tetapi ada pula pekerjaan rumah serius di sisi pemerataan dan perlindungan konsumen. Bagi pelaku industri, valuasi bisnis keuangan digital ke depan akan semakin bergantung pada kualitas nasabah yang teredukasi, bukan sekadar kuantitas akuisisi pengguna.
Comments (0)