IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Stabil di Rp 17.900 per Dolar AS

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 150,2 miliar dolar AS, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi year-on-year sebesar 1,57 p...

Aug 12, 2026 - 03:36
0 0
IHSG Dibuka Menguat, Rupiah Stabil di Rp 17.900 per Dolar AS

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 150,2 miliar dolar AS, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi year-on-year sebesar 1,57 persen pada periode yang sama. Merujuk data OJK, rasio kecukupan modal perbankan (CAR) berada di level 26,8 persen, jauh di atas batas minimum 8 persen. Di tengah bauran data fundamental tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,42 persen ke level 7.412 pada perdagangan pagi ini, sementara nilai tukar rupiah bertahan di kisaran Rp 17.900 per dolar AS.

Penguatan IHSG: Dorongan Sentimen Domestik

Kenaikan indeks pada pembukaan perdagangan mencerminkan sentimen pasar yang relatif konstruktif. Sektor perbankan dan konsumer menjadi penopang utama, dengan kontribusi kenaikan masing-masing sekitar 0,6 persen dan 0,4 persen. Likuiditas pasar juga terpantau memadai, dengan nilai transaksi harian diproyeksikan menembus Rp 11 triliun.

Di satu sisi, penguatan ini ditopang fundamental emiten yang solid. Data OJK menunjukkan laba agregat perusahaan tercatat tumbuh 8,3 persen year-on-year sepanjang 2024, sementara rasio valuasi price-to-earnings (PER) — perbandingan harga saham terhadap laba per saham — IHSG berada di kisaran 14,2 kali, masih di bawah rata-rata lima tahun sebesar 16,5 kali. Bagi investor berorientasi jangka panjang, valuasi yang relatif terdiskon ini menjadi daya tarik untuk masuk ke portofolio saham Indonesia.

Di sisi lain, penguatan di awal sesi belum tentu berkelanjutan hingga penutupan. Tren historis menunjukkan pergerakan pagi hari kerap berbalik arah, terutama bila investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell). Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat melepas saham senilai Rp 2,1 triliun, mengindikasikan kehati-hatian terhadap risiko eksternal yang belum mereda.

Rupiah di Rp 17.900: Antara Tekanan Global dan Bantalan Domestik

Nilai tukar rupiah yang bertahan di level Rp 17.900 per dolar AS mencerminkan tarik-menarik dua kekuatan. Di satu sisi, tekanan terhadap mata uang Garuda masih nyata. Indeks dolar (DXY) — ukuran kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia — berada di level 108,3, mendekati titik tertinggi dua tahun. Penguatan dolar ini memicu kekhawatiran capital outflow, yakni keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik menuju aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman.

Di sisi lain, rupiah memiliki sejumlah bantalan. Bank Indonesia telah menempuh kebijakan stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan eksportir menahan devisa di dalam negeri turut menambah pasokan dolar. Dengan cadangan devisa 150,2 miliar dolar AS — setara 6,3 bulan impor — ruang gerak bank sentral untuk menjaga stabilitas dinilai masih memadai.

"Level Rp 17.900 memang secara psikologis menguji kepercayaan pasar, tetapi fundamental makroekonomi Indonesia — inflasi rendah, pertumbuhan kredit dua digit, dan surplus neraca perdagangan 57 bulan beruntun — memberikan fondasi agar rupiah tidak bergerak liar," ujar seorang ekonom pasar modal di Jakarta.

Proyeksi: Dua Skenario bagi Pasar

Ke depan, arah pasar akan sangat bergantung pada dua variabel: kebijakan suku bunga The Fed dan arus modal asing. Di satu sisi, skenario optimistis memproyeksikan rupiah menguat ke kisaran Rp 17.500 per dolar AS pada kuartal berikutnya apabila bank sentral AS memangkas suku bunga dan ketegangan global mereda. Dalam skenario ini, IHSG berpotensi menguji level 7.600, didorong kembalinya dana asing ke pasar saham dan obligasi.

Di sisi lain, skenario pesimistis tidak bisa diabaikan. Bila ketegangan geopolitik meningkat dan kebijakan tarif dagang AS diperluas, rupiah berisiko menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah yang dalam biasanya berdampak ganda: menekan margin emiten berbahan baku impor sekaligus memicu penyesuaian portofolio investor asing. Dalam kondisi tersebut, IHSG berpotensi terkoreksi ke area 7.100.

Bagi pelaku pasar, keseimbangan antara kedua skenario ini menuntut kehati-hatian. Diversifikasi lintas kelas aset — saham, obligasi, dan instrumen pasar uang — menjadi pendekatan yang lazim ditempuh manajer investasi di tengah ketidakpastian tinggi. Yang jelas, data makro terkini menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada jalur terkendali, meski tekanan eksternal belum sepenuhnya surut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User