Xpeng G6 Pro — Kelebihan dan Kekurangan SUV Listrik Tiongkok

Senja mulai merayap di langit Cipularang ketika SUV listrik berwarna biru itu meluncur tenang dari gerbang tol Bandung menuju Jakarta. Saya duduk di balik

Jul 09, 2026 - 10:32
0 0

Senja mulai merayap di langit Cipularang ketika SUV listrik berwarna biru itu meluncur tenang dari gerbang tol Bandung menuju Jakarta. Saya duduk di balik kemudi Xpeng G6 Pro, mencoba menangkap setiap detail—dari heningnya kabin hingga respons setir yang halus tapi presisi. Perjalanan sejauh 150 kilometer ini menjadi laboratorium berjalan untuk menguji klaim pabrikan asal Guangzhou itu: mobil listrik canggih, lapang, dan tetap ramah di saku.

Harga di kisaran Rp619 jutaan menempatkan G6 Pro di persimpangan menarik. Ia bersaing dengan SUV bensin premium dan juga para pendatang listrik lain dari Korea, Jepang, hingga Eropa. Pertanyaannya: benarkah mobil ini tanpa cela? Setelah merasakan langsung, jawabannya—seperti kebanyakan hal di dunia otomotif—tidak hitam-putih.

Kesan Pertama di Jalan Raya

Begitu roda berputar, kesan pertama adalah kekompakan yang menipu. Data teknis menunjukkan panjang 4.753 mm, lebar 1.920 mm, dan jarak sumbu roda 2.890 mm—sebuah proporsi yang lazim untuk SUV segmen menengah. Namun saat bermanuver di jalan tol yang padat, bodi terasa lebih ringkas dari angka di atas kertas. Bobot yang tersebar rendah berkat baterai di lantai, ditambah setir ringan, membuat G6 Pro seperti kendaraan yang lebih kecil saat harus pindah lajur atau mengambil tikungan landai.

"Dimensi mobil ini besar, tapi di tol rasanya sangat jinak. Posisi mengemudi tinggi, pandangan luas, tidak seperti SUV besar pada umumnya," komentar Robin, rekan penguji yang ikut dalam perjalanan ini.

Meski demikian, di kecepatan rendah—seperti saat memasuki area parkir atau jalan perumahan sempit—dimensi sebenarnya mulai terasa. Radius putar yang relatif besar kadang membutuhkan lebih dari satu kali maju-mundur untuk parkir paralel. Jadi, kesan kompak itu hanya muncul di ritme jalan raya, bukan di ruang terbatas.

Beragam Kelebihan yang Menonjol

Sisi teknologi adalah senjata utama G6 Pro. Xpeng membenamkan layar sentuh 15,4 inci yang menjadi pusat kendali hampir semua fungsi, dari navigasi hingga pengaturan AC. Antarmukanya responsif, didukung chipset Qualcomm Snapdragon SA8295P yang membuat perpindahan aplikasi berjalan mulus. Fitur X-PILOT 2.5—paket bantuan pengemudi yang mencakup adaptive cruise control, lane centering, dan blind spot detection—bekerja dengan halus saat melahap jalan tol. Mobil menjaga jarak dengan kendaraan di depan secara presisi, tanpa akselerasi atau pengereman mendadak yang mengagetkan.

Pengisian daya juga impresif. Berkat arsitektur 800 volt SEPA 2.0, baterai 66 kWh mampu mengisi 10-80% hanya dalam waktu sekitar 20 menit di stasiun pengisian cepat. Selama perjalanan Bandung-Jakarta yang menempuh 150 km, baterai berkurang sekitar 45%, meninggalkan cukup daya untuk aktivitas harian tanpa perlu isi ulang segera. Efisiensi ini sedikit banyak menghapus kekhawatiran soal jangkauan yang kerap menghantui calon pembeli mobil listrik.

Kenyamanan kabin patut diacungi jempol. Jok depan memiliki bantalan empuk dengan penyangga paha yang panjang, cocok untuk postur orang Indonesia. Ruang kaki penumpang belakang lapang—warisan dari jarak sumbu roda panjang dan lantai rata khas mobil listrik. Bahan pelapis jok terasa lembut, meski belum setara kulit premium Eropa. Sistem audio surround 18 speaker dari Dynaudio memberikan pengalaman akustik yang mengisi kabin dengan jernih, tanpa distorsi meskipun volume dinaikkan.

Sejumlah Kekurangan yang Perlu Dipertimbangkan

Namun G6 Pro bukan tanpa cela. Saat melintasi sambungan jembatan tol yang tajam atau permukaan jalan yang tidak rata, suspensi terasa agak keras. Setelan firm ini memang memberi stabilitas di kecepatan tinggi, tetapi untuk penggunaan perkotaan dengan banyak polisi tidur dan lubang, ayunan bodi terasa kurang diredam sempurna. Penumpang di baris kedua akan merasakan getaran lebih jelas dibandingkan pengemudi.

Beberapa panel interior—terutama di konsol tengah dan pintu belakang—memakai plastik keras yang agak kontras dengan kesan futuristik keseluruhan. Sentuhan soft-touch hanya hadir di area yang sering disentuh tangan, seperti sandaran tangan dan dasbor. Pada harga hampir Rp620 juta, konsumen mungkin berharap material yang lebih merata kualitasnya.

Dari segi layanan, jaringan purnajual Xpeng di Indonesia masih terbatas. Meski Erajaya Active Lifestyle sebagai distributor berjanji memperluas titik penjualan dan bengkel resmi, saat ini konsumen di luar kota besar harus bersabar jika membutuhkan servis atau suku cadang tertentu. Ini penting dicatat, sebab mobil listrik tetap memerlukan perawatan berkala pada komponen non-baterai.

Pro dan Kontra Xpeng G6 Pro

Pro:
- Teknologi bantuan pengemudi X-PILOT canggih dan responsif
- Efisiensi baterai baik, pengisian daya sangat cepat (800V)
- Kabin lapang, jok nyaman, sistem audio kualitas tinggi
- Harga kompetitif untuk SUV listrik sekelasnya

Kontra:
- Suspensi cenderung keras, mengurangi kenyamanan di jalan rusak
- Material interior kurang konsisten, plastik keras di beberapa area
- Jaringan purnajual dan bengkel resmi masih terbatas di Indonesia
- Radius putar cukup lebar untuk manuver di ruang sempit

Pada akhirnya, Xpeng G6 Pro adalah paket yang cerdas: ia memilih untuk unggul di teknologi dan efisiensi, sembari menerima kompromi pada material dan rasa berkendara yang lebih sporty. Bagi pembeli yang mengutamakan fitur canggih dan akselerasi tanpa emisi, nilai yang ditawarkan sulit ditolak. Namun, mereka yang mencari kenyamanan bak sofa berjalan mungkin perlu menjajal lebih dulu sebelum memutuskan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User