Wuling Eksion PHEV Tempuh 580 Km di Jalur Pesisir Selatan
Matahari pagi di Yogyakarta masih malu-malu menampakkan diri ketika iring-iringan Wuling Eksion PHEV mulai bergerak ke arah selatan. Udara sejuk khas kota
Matahari pagi di Yogyakarta masih malu-malu menampakkan diri ketika iring-iringan Wuling Eksion PHEV mulai bergerak ke arah selatan. Udara sejuk khas kota pelajar itu perlahan berganti dengan aroma asin samudra Hindia. Inilah awal dari Coastal Exploration Journey, sebuah ekspedisi darat sejauh 580 kilometer yang sengaja menempuh rute pesisir selatan Jawa untuk membuktikan bahwa kendaraan elektrifikasi berkapasitas tujuh penumpang ini bukan sekadar kendaraan kota. Jalur yang dipilih bukan jalan tol mulus, melainkan kombinasi jalan nasional berlubang, tanjakan curam di perbukitan kapur, hingga kelokan tajam di tepi jurang—sebuah ujian sesungguhnya bagi sasis, baterai, dan sistem hybrid.
Rute dan Etape Perjalanan yang Menantang
Perjalanan sejauh lebih dari 580 km ini dibagi ke dalam tiga etape utama, masing-masing menyajikan karakter aspal dan kondisi lalu lintas yang berbeda secara faktual. Etape pertama dilepas dari Yogyakarta menuju Pangandaran melalui jalur legendaris Jalan Daendels dan lintas selatan yang didominasi medan rolling serta sesekali dihujani hujan gerimis. Etape kedua melanjutkan dari Pangandaran menuju Pelabuhan Ratu, yang dikenal dengan tikungan-tikungan patah dan turunan panjang. Etape ketiga menjadi penutup dari Pelabuhan Ratu ke Jakarta, di mana campuran jalan provinsi sempit dan arteri perkotaan menguji kelincahan serta respons motor listrik dalam situasi stop-and-go.
Pemilihan rute ini bersifat intentional: tim penguji ingin mengekspos Wuling Eksion PHEV pada spektrum beban kerja seluas mungkin, dari melibas tanjakan terjal dengan tujuh penumpang hingga melaju dalam diam di kawasan wisata yang mensyaratkan emisi rendah.
Performa Hybrid yang Terukur
Wuling Eksion PHEV mengombinasikan mesin bensin 1.500 cc naturally aspirated dengan motor listrik bertenaga 130 kW (sekitar 174 dk) dan baterai berkapasitas 17,5 kWh. Pada etape pertama, mode EV Priority diaktifkan sepanjang jalan desa yang sepi, dan sistem mencatat konsumsi listrik murni cukup untuk menempuh jarak sekitar 70 km sebelum mesin bensin mulai mengambil alih secara halus. Saat baterai menyentuh ambang minimum, transisi ke mode hybrid nyaris tak terasa—hanya suara mesin yang naik perlahan ketika pedal gas diinjak dalam.
"Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi PHEV bukan kompromi, melainkan solusi. Di kota, ia jadi EV senyap; di jalan luar kota, ia jadi hybrid irit tanpa kekhawatiran jarak," ujar Rangga Pramudya, Product Planning Wuling Motors, saat istirahat di kawasan Pangandaran.
Di tanjakan curam menuju Bukit Karang Bolong, torsi instan motor listrik terasa dominan. Mobil melesat tanpa jeda turbo, sebuah sensasi yang biasanya hanya ditemui di mobil listrik murni. Namun, saat baterai habis dan mesin bensin bekerja sendirian di tanjakan serupa, terasa ada sedikit penurunan respons—meski tidak sampai mengganggu ritme berkendara.
Kenyamanan Kabin dan Beban Keluarga
Dengan konfigurasi tujuh penumpang, suspensi belakang torsion beam sempat dikhawatirkan bakal mudah limbung ketika baris ketiga terisi. Faktanya, selama pengujian dengan lima penumpang dewasa dan bagasi penuh, body roll masih dalam batas wajar. Redaman kejut terasa sedikit keras saat melintas jalan beton bergelombang khas jalur selatan, tetapi tidak sampai membuat penumpang mual. Material kabin dari soft-touch pada dashboard dan jok berbalut kulit sintetis memberikan kesan premium terjangkau, meski beberapa panel plastik di pilar belakang terasa kurang solid saat disentuh.
Efisiensi dan Emisi: Dua Wajah Realistis
Satu hal yang paling menonjol adalah fleksibilitas pengisian daya. Baterai bisa diisi lewat colokan rumah tangga biasa, tidak mesti bergantung pada SPKLU yang masih jarang di pesisir selatan. Selama ekspedisi, konsumsi bensin tercatat 19–22 km/liter untuk rute campuran—angka kompetitif di kelas MPV 7-seater. Namun, saat mode Charge diaktifkan untuk mengisi baterai sambil jalan, konsumsi bensin melonjak hingga 12–14 km/liter, sebuah trade-off yang perlu dipertimbangkan oleh pengguna yang tidak memiliki akses pengecasan rutin.
Analisis Dua Sisi: Kelebihan dan Kekurangan
Dari perspektif fungsional, Wuling Eksion PHEV menjawab kebutuhan keluarga Indonesia yang sering menempuh perjalanan jauh dengan efisiensi bahan bakar lebih baik daripada MPV konvensional, sekaligus bisa digunakan harian tanpa emisi di perkotaan. Namun, ada beberapa catatan yang perlu dicermati pembeli potensial, terutama terkait harga yang lebih tinggi daripada varian bensin murni serta ketersediaan suku cadang sistem hybrid yang belum teruji dalam jangka panjang.
Pro: Transisi EV-hybrid halus, konsumsi bensin irit untuk perjalanan campuran, kabin fleksibel 7-penumpang, tidak bergantung penuh pada infrastruktur pengecasan publik, torsi instan motor listrik sangat membantu di tanjakan.
Kontra: Mode Charge menaikkan konsumsi bensin signifikan, suspensi belakang terasa agak keras di jalan rusak, beberapa material interior kurang solid, harga premium atas varian ICE, dan biaya perawatan jangka panjang sistem hybrid belum diketahui.
Comments (0)