UPGRIS — Lomba Komik Strip Jadi Ruang Aktualisasi Mahasiswa
Semarang — Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menjadi tuan rumah penyelenggaraan tangkai Lomba Komik Strip dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimi
Semarang — Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menjadi tuan rumah penyelenggaraan tangkai Lomba Komik Strip dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) 2026. Kompetisi yang berlangsung pada 3–5 Juli 2026 di Kampus IV UPGRIS ini diikuti oleh 23 mahasiswa yang mewakili 23 perguruan tinggi se-Jawa Tengah dan sekitarnya, mulai dari Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Sebelas Maret, hingga UIN Salatiga. Lebih dari sekadar mencari juara, perhelatan ini menyuguhkan panggung kreativitas yang menekankan pengembangan diri dan kolaborasi lintas kampus.
Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, S.T., M.T., menegaskan bahwa orientasi lomba ini bukanlah sekadar menobatkan pemenang. “Bukan sekadar menentukan siapa yang berdiri sebagai pemenang, tetapi ruang aktualisasi diri, ruang pembelajaran, ruang kolaborasi, dan ruang perjumpaan berbagai kreativitas mahasiswa,” ujarnya. Dengan demikian, kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mahasiswa dalam membangun soft skill yang melengkapi kemampuan akademik.
Soft Skill sebagai Bekal Karier Masa Depan
Sapto menambahkan, pihaknya meyakini bahwa penghasilan dan kesuksesan seseorang tidak hanya ditopang oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kecakapan di luar ruang kuliah—seperti kemampuan komunikasi visual, manajemen proyek seni, dan kerja tim yang terasah dalam lomba semacam ini. “Melalui kegiatan ini, bakal lahir calon kreator masa depan Indonesia yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” sambungnya. Pandangan ini memperlihatkan bagaimana kompetisi kampus dapat menjadi batu loncatan untuk membangun ekosistem industri kreatif yang lebih luas.
Hasil karya peserta sendiri cukup variatif, mulai dari format webtoon, tayangan 10 slide di Instagram, hingga media A4 konvensional. Keragaman medium ini, menurut Ketua Panitia Maria Ulfa, sengaja diakomodasi agar peserta bisa mengekspresikan ide dengan saluran yang paling dikuasai. “Pendaftaran sudah dibuka sejak 23 Mei sampai 23 Juni 2026,” tuturnya, menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi dari kampus-kampus peserta.
Komposisi Kriteria Penilaian: Teknis vs Orisinalitas
Untuk menjaga obyektivitas, panitia telah menetapkan bobot penilaian yang terukur. Maria Ulfa merinci kriteria yang digunakan sebagai berikut:
| Kriteria | Bobot (%) |
|---|---|
| Kesesuaian dengan tema/karya | 15 |
| Komunikatif | 25 |
| Penguasaan teknis visualisasi | 30 |
| Keunikan dan orisinalitas | 30 |
Dari tabel di atas terlihat bahwa aspek teknis dan orisinalitas menjadi penentu terbesar (masing-masing 30%), sementara kesesuaian tema hanya 15%. Komposisi ini mengindikasikan bahwa juri lebih menghargai inovasi dan teknik tinggi daripada kepatuhan sempit pada tema. Namun, bobot komunikatif yang 25% juga mengingatkan bahwa pesan dalam komik harus mampu diterima oleh pembaca—sebuah tantangan ganda bagi mahasiswa.
Manfaat Kolaborasi di Tengah Kompetisi
Peksimida Komik Strip 2026 juga berfungsi sebagai ajang penjaringan bakat menuju Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2026. Maka, di samping tekanan kompetisi, ajang ini membuka ruang dialog antarkampus—misalnya pertukaran gaya visual, narasi lokal, hingga cara bertutur khas masing-masing daerah. Interaksi ini sulit didapat di ruang kelas, sehingga menjadi nilai tambah yang signifikan bagi peserta.
Di sisi lain, beberapa kritikus pendidikan mengingatkan bahwa maraknya kompetisi berbasis seni dapat menimbulkan burnout pada mahasiswa.
Pro dan Kontra: Kompetisi Seni Mahasiswa
Pro:
• Mendorong aktualisasi potensi non-akademik dan membangun portofolio profesional.
• Menumbuhkan kolaborasi dan jejaring lintas kampus di bidang industri kreatif.
• Mempersiapkan mental bersaing di ajang nasional/internasional sejak dini.
• Bobot penilaian yang transparan memberi peluang bagi karya unik untuk dihargai.
Kontra:
• Intensitas kompetisi bisa menimbulkan tekanan psikologis yang justru menghambat proses kreatif.
• Dominasi bobot teknis (30%) bisa menggeser fokus dari orisinalitas ke “keindahan permukaan” yang dianggap juri.
• Keterbatasan waktu pelaksanaan memberi kesempatan tidak setara bagi peserta yang kurang mendapat dukungan fasilitas kampus.
• Format lomba yang terpusat di kota besar menguntungkan kampus dekat lokasi, sementara peserta dari daerah lebih jauh mungkin kesulitan adaptasi.
Dengan menyelenggarakan Peksimida, UPGRIS tidak hanya memfasilitasi kompetisi, tetapi juga menunjukkan bahwa investasi pada pengembangan mahasiswa idealnya mencakup aspek kognitif dan afektif sekaligus. Hanya dengan keseimbangan itulah calon kreator masa depan dapat tumbuh tangguh. Ajang ini nantinya akan menentukan juara 1, 2, 3 serta tiga juara harapan; namun, sebagaimana ditekankan Rektor UPGRIS, nilai terbesar sejatinya ada pada ruang belajar yang tercipta selama proses—sebuah pelajaran yang tak ternilai dalam angka.
Comments (0)