Tumpukan Sampah di Kali Gendong Jadi Sorotan, Pansus DPRD DKI Godok Solusi Biopori Jumbo
Jakarta — Permasalahan sampah yang kian menggunung di Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, terus menuai keprihatinan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini menyebut salah satu pem
Jakarta — Permasalahan sampah yang kian menggunung di Kali Gendong, Penjaringan, Jakarta Utara, terus menuai keprihatinan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini menyebut salah satu pemicu utama kondisi memprihatinkan tersebut adalah penutupan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menanggapi situasi darurat ini, Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta bergerak cepat dengan mengkaji sejumlah langkah strategis, termasuk rencana pembangunan biopori jumbo sebagai solusi jangka panjang pengelolaan limbah di ibu kota.
Ketua Pansus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, dalam keterangannya menegaskan bahwa TPST Bantargebang saat ini sudah dalam kondisi kelebihan muatan. Kapasitas tempat pembuangan akhir itu dinilai sudah tidak mampu menampung volume sampah harian yang dihasilkan oleh warga Jakarta. Akibatnya, titik-titik pembuangan liar seperti di badan kali dan waduk kembali menjadi pelarian, menciptakan pemandangan tak sedap serta ancaman serius bagi kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.
Maksimalkan TPS dan Biopori Jumbo
Untuk meminimalisir dampak di lapangan selama proses perbaikan sistem berjalan, Judistira mendorong agar seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta segera memanfaatkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang tersebar di berbagai wilayah secara optimal. "Terkait tumpukan sampah di Kali Gedong, Jakarta Utara, ini akan segera kami koordinasikan antar SKPD, Dinas LH, Dinas Sumber Daya Air, termasuk Pak Wali Kota Jakarta Utara, agar segera ditangani," ujarnya.
Langkah koordinasi lintas dinas ini disebut menjadi kunci untuk memastikan kali, waduk, dan badan-badan jalan tidak dipenuhi oleh sampah yang dapat mengganggu mobilitas warga serta memicu banjir. "Dalam situasi seperti ini, kita minta jajaran terkait menjaga kali dan waduk. Saya kira semua wilayah juga harus dijaga, jangan sampai sampah penuh di badan-badan jalan," tegas Judistira.
Namun, solusi jangka pendek tersebut tidak akan cukup tanpa adanya terobosan sistemik. Oleh karena itu, Pansus mulai melirik pembangunan biopori jumbo sebagai salah satu opsi pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan. Teknologi biopori jumbo diyakini mampu mengurai sampah organik dalam skala besar dan mengurangi beban pengangkutan menuju TPST Bantargebang. Konsep ini sejalan dengan visi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk memperbanyak pengolahan sampah dari sumbernya.
Laporan yang dihimpun media kami di lapangan menunjukkan bahwa warga di sekitar Kali Gendong telah lama mengeluhkan bau menyengat dan kawasan kumuh akibat penumpukan sampah. Beberapa warga bahkan mengaku enggan membuka jendela rumah pada waktu-waktu tertentu karena bau yang ditimbulkan. Mereka berharap ada penanganan yang serius dan tidak lagi bersifat temporer. Inisiatif Pansus ini pun disambut baik, meski sebagian kalangan skeptis menunggu implementasi nyata di lapangan.
Pansus sendiri berkomitmen untuk mempercepat realisasi biopori jumbo, terutama di kawasan yang kerap menjadi langganan penumpukan sampah liar. Dengan sinergi antara eksekutif dan legislatif, diharapkan Jakarta bisa segera keluar dari darurat sampah yang kian mengkhawatirkan.
Comments (0)