Oct 08, 2026
Bisnis

Satu Bank Konvensional Siap Konversi ke Syariah, Maybank Digadang Jadi Kandidat

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per awal 2025, industri perbankan syariah nasional mencatat total aset sekitar Rp 920 triliun, atau hanya sekitar 7,9 persen dari total aset perbankan nas...

Satu Bank Konvensional Siap Konversi ke Syariah, Maybank Digadang Jadi Kandidat

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per awal 2025, industri perbankan syariah nasional mencatat total aset sekitar Rp 920 triliun, atau hanya sekitar 7,9 persen dari total aset perbankan nasional yang menembus Rp 11.600 triliun. Rasio ini tergolong rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang pangsa perbankan syariahnya sudah melewati 20 persen. Di tengah kondisi tersebut, otoritas mengungkap adanya satu bank konvensional berpotensi melakukan konversi menjadi Bank Umum Syariah (BUS), dan Maybank Indonesia (BNII) disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.

Kabar ini bukan isapan jempol semata. Manajemen Maybank Indonesia telah menyatakan minatnya mengakuisisi atau mengonversi unit usaha syariahnya menjadi entitas penuh, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Aturan itu mewajibkan unit usaha syariah (UAS) yang asetnya telah melampaui Rp 50 triliun atau memenuhi kriteria tertentu untuk melakukan spin-off. Maybank Syariah sendiri, sebagai UAS dari BNII, memiliki aset yang terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir, meski angkanya masih berada di bawah ambang batas tersebut.

Di Satu Sisi: Peluang Memperbesar Pangsa Pasar Syariah

Konversi menjadi BUS menawarkan sejumlah keunggulan struktural. Pertama, entitas syariah yang berdiri sendiri memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dan menyalurkan pembiayaan tanpa terhambat aturan konsolidasi dengan bank induk konvensional. Kedua, dari sisi likuiditas, BUS dapat mengakses instrumen pasar uang syariah dan sukuk negara secara lebih leluasa, sehingga rasio pembiayaan terhadap dana (FDR) bisa dijaga pada level sehat.

Ketiga, jika Maybank benar-benar melakukan konversi, bank tersebut berpotensi menjadi BUS terbesar kedua di Indonesia setelah Bank Syariah Indonesia (BSI). Dengan jaringan induk regional yang kuat di Malaysia, Maybank Syariah bisa memanfaatkan sinergi lintas negara, terutama untuk pembiayaan perdagangan dan proyek infrastruktur. Hal ini sejalan dengan tren pertumbuhan pembiayaan syariah yang secara year-on-year (yoy) tumbuh double digit, yakni sekitar 12,5 persen pada 2024, lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit perbankan konvensional yang sekitar 10,4 persen.

“Konversi ini bisa menjadi katalis positif bagi penguatan industri keuangan syariah nasional, terutama dalam memperluas inklusi keuangan dan memperbesar kapasitas pembiayaan,” ujar seorang analis perbankan syariah di sebuah sekuritas nasional.

Di Sisi Lain: Tantangan Fundamental dan Sentimen Pasar

Namun, langkah konversi bukan tanpa risiko. Dari sisi fundamental, modal inti (CET-1) menjadi pertimbangan utama. Sebagai bank dengan pangsa pasar syariah yang masih kecil, Maybank Syariah membutuhkan tambahan modal signifikan untuk memenuhi persyaratan modal minimum BUS, yang diatur semakin ketat oleh OJK. Tanpa suntikan modal dari induk, valuasi entitas baru bisa tergerus dan berpotensi memicu capital outflow dari investor asing.

Selain itu, biaya konversi tidaklah murah. Proses migrasi sistem teknologi informasi, konversi rekening nasabah, serta penyesuaian produk dan akad memerlukan investasi besar. Dalam beberapa kasus, bank yang melakukan spin-off justru mengalami penurunan kinerja sementara akibat beban operasional yang meningkat dan hilangnya skala ekonomi.

Dari sisi sentimen pasar, investor cenderung menanti kepastian. Saham BNII saat ini diperdagangkan pada level valuasi yang moderat, dengan rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sekitar 0,9 kali. Jika pasar menilai konversi ini sebagai langkah strategis jangka panjang, potensi kenaikan valuasi masih terbuka. Sebaliknya, jika dianggap sebagai beban tambahan, tekanan jual bisa muncul.

Proyeksi dan Pertimbangan ke Depan

Proyeksi ke depan, konversi BUS dari kalangan bank menengah seperti Maybank bisa menjadi gelombang kedua setelah pembentukan BSI pada 2021. OJK menargetkan pangsa perbankan syariah mencapai 15 persen dari total aset perbankan nasional pada 2027. Untuk itu, dibutuhkan tambahan setidaknya 3-4 BUS baru dengan skala aset di atas Rp 20 triliun.

Meski demikian, keputusan akhir tetap bergantung pada hasil kajian internal Maybank, restu dari pemegang saham utama di Malaysia, serta persetujuan OJK. Faktor eksternal seperti kondisi suku bunga global, nilai tukar rupiah, dan dinamika ekonomi domestik juga akan mempengaruhi waktu realisasi.

Bagi pembaca yang tidak mendalami keuangan, konversi bank adalah proses mengubah izin usaha dari konvensional menjadi syariah secara menyeluruh, termasuk sistem, produk, dan akad. Ini bukan sekadar mengganti nama, melainkan transformasi bisnis yang menyeluruh. Dengan fundamental yang kuat dan strategi yang tepat, konversi ini bisa menjadi lompatan besar bagi industri keuangan syariah. Namun tanpa persiapan matang, risiko operasional dan finansial bisa membayangi. Semuanya kini kembali pada komitmen pemegang saham dan kejelian regulator dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User