Oct 08, 2026
Bisnis

Membedah Lompatan Ekspor Vietnam dan Pekerjaan Rumah Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per akhir 2024, nilai ekspor Indonesia tercatat sekitar US$264,7 miliar sepanjang tahun, sementara Vietnam menembus angka US$405 miliar ...

Membedah Lompatan Ekspor Vietnam dan Pekerjaan Rumah Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per akhir 2024, nilai ekspor Indonesia tercatat sekitar US$264,7 miliar sepanjang tahun, sementara Vietnam menembus angka US$405 miliar pada periode yang sama. Selisih hampir US$140 miliar ini bukan angka kecil. Dua dekade lalu, nilai ekspor kedua negara masih berimbang di kisaran US$50–60 miliar. Pertanyaannya sederhana namun mendasar: apa yang membuat Vietnam melesat meninggalkan Indonesia, dan apa implikasinya bagi fundamental ekonomi nasional?

Struktur Industri dan Nilai Tambah

Di satu sisi, lompatan ekspor Vietnam bertumpu pada struktur industri yang bergerak cepat ke hilir. Porsi produk manufaktur bernilai tambah tinggi — seperti elektronik, tekstil teknis, dan komponen otomotif — terus meningkat. Vietnam juga agresif menarik relokasi pabrik global melalui insentif fiskal, tarif pajak korporasi rendah, dan kemudahan perizinan. Investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) mereka konsisten di atas US$20 miliar per tahun, dengan Samsung, LG, dan Intel sebagai jangkar utama. Artinya, ekspor Vietnam tidak lagi sekadar komoditas mentah, melainkan produk olahan yang punya nilai tambah berlipat.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi tantangan klasik: ketergantungan pada komoditas primer seperti batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), dan nikel mentah. Ketika harga komoditas global naik, ekspor ikut terangkat; ketika harga turun, kinerja ekspor langsung tergerus. Ini yang membuat tren ekspor Indonesia lebih fluktuatif dibanding Vietnam yang basis manufakturnya lebih stabil. Rasio ekspor manufaktur terhadap total ekspor Indonesia berada di kisaran 40-an persen, sementara Vietnam sudah menyentuh 80 persen lebih.

Kawasan Ekonomi Khusus dan Iklim Investasi

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sebuah forum ekonomi menyebut bahwa pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Vietnam berjalan lebih agresif dibanding Indonesia. "Mereka membangun KEK dengan infrastruktur terintegrasi, listrik murah, dan perizinan satu pintu yang benar-benar cepat," ujarnya, menggambarkan kompetisi kawasan industri di Asia Tenggara.

"Perbedaan utama bukan pada jumlah KEK, tetapi pada eksekusi dan kepastian regulasi yang dirasakan investor," kata Airlangga dalam forum tersebut.

Indonesia sendiri memiliki sejumlah KEK seperti Sei Mangkei, Kendal, dan Morowali. Namun, dari sisi likuiditas investasi dan kecepatan realisasi, masih ada jarak. Biaya logistik Indonesia berada di kisaran 23–24 persen dari PDB, jauh di atas Vietnam yang sekitar 16–17 persen. Ini menggerus daya saing produk Indonesia di pasar global. Sentimen pasar terhadap iklim investasi juga dipengaruhi oleh kepastian hukum dan stabilitas regulasi yang kerap berubah.

Proyeksi dan Pekerjaan Rumah

Proyeksi Bank Indonesia menempatkan pertumbuhan ekspor 2025 di kisaran 4,5–5,5 persen year-on-year, dengan catatan risiko capital outflow dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Sementara Vietnam menargetkan pertumbuhan ekspor di atas 6 persen. Jika tren ini berlanjut, gap nilai ekspor bisa melebar dalam lima tahun ke depan.

Namun, bukan berarti Indonesia tanpa modal. Hilirisasi nikel telah mendorong kenaikan ekspor produk olahan nikel dari sekitar US$3 miliar (2017) menjadi lebih dari US$30 miliar pada 2023. Ini bukti bahwa strategi hilirisasi bisa mengubah struktur ekspor jika dijalankan konsisten. Tantangannya adalah mereplikasi keberhasilan itu ke sektor lain seperti bauksit, tembaga, dan pertanian olahan, sembari membenahi infrastruktur dan perizinan.

Dari kacamata valuasi ekonomi, Indonesia masih punya keunggulan pasar domestik besar dan demografi produktif. Vietnam lebih unggul pada efisiensi biaya dan orientasi ekspor. Kombinasi keduanya bisa menjadi pelajaran: Indonesia tidak perlu meniru Vietnam sepenuhnya, tetapi perlu mempercepat reformasi struktural agar fundamental ekspor tidak lagi bergantung pada siklus komoditas semata. Tanpa itu, narasi "ditinggalkan Vietnam" bukan sekadar retorika, melainkan cerminan daya saing yang perlu dibenahi dari hulu ke hilir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User