Oct 08, 2026
Bisnis

Danantara Pangkas Jumlah BUMN, Ini Strategi dan Risiko 2027

Berdasarkan data Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) per akhir 2025, jumlah perusahaan pelat merah tercatat lebih dari 40 entitas dengan total aset konsolidasi menembus Rp10.000 triliun. Angka...

Danantara Pangkas Jumlah BUMN, Ini Strategi dan Risiko 2027

Berdasarkan data Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) per akhir 2025, jumlah perusahaan pelat merah tercatat lebih dari 40 entitas dengan total aset konsolidasi menembus Rp10.000 triliun. Angka itu menempatkan BUMN sebagai salah satu pilar utama perekonomian nasional, menyumbang sekitar 20 persen terhadap pendapatan negara melalui dividen, pajak, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Namun, di balik besarnya kontribusi tersebut, muncul pertanyaan fundamental soal efisiensi: apakah struktur yang gemuk masih relevan menghadapi tekanan global 2027?

Restrukturisasi Lanjutan dan Peta Jalan 2027

Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa program perampingan BUMN akan dilanjutkan secara bertahap pada 2027. Menurutnya, langkah ini bukan sekadar pengurangan jumlah entitas, melainkan penataan ulang portofolio agar setiap perusahaan memiliki fokus bisnis yang jelas dan skala ekonomi yang memadai. Ia menyebut sejumlah instrumen akan dipakai, mulai dari merger, akuisisi, hingga pembentukan holding yang lebih ramping.

"Kami tidak sekadar mengecilkan jumlah. Yang paling penting adalah menciptakan nilai tambah, memperbaiki tata kelola, dan memastikan setiap BUMN punya daya saing di tingkat regional," ujar Rosan dalam sebuah forum ekonomi di Jakarta.

Pernyataan itu sejalan dengan tren global. Sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, lebih dulu merampingkan perusahaan negara melalui sovereign wealth fund (SWF) atau dana kekayaan negara—instrumen yang mengelola aset negara untuk investasi jangka panjang. Danantara sendiri diposisikan sebagai kendaraan serupa, dengan mandat mengonsolidasikan aset dan meningkatkan imbal hasil.

Pro: Efisiensi, Likuiditas, dan Valuasi yang Lebih Sehat

Di satu sisi, perampingan berpotensi mendorong efisiensi operasional. Berdasarkan kajian internal yang dipaparkan dalam beberapa forum, duplikasi fungsi antar-BUMN masih terjadi di sektor energi, konstruksi, dan logistik. Duplikasi ini menciptakan inefisiensi anggaran, memperlambat pengambilan keputusan, dan menekan margin laba. Dengan struktur yang lebih ringkas, biaya overhead dapat ditekan, likuiditas terkonsolidasi, dan valuasi perusahaan lebih mudah diukur oleh pasar.

Dari kacamata investor, penyederhanaan struktur juga dapat memperbaiki persepsi risiko. Rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) beberapa BUMN karya masih berada di atas level nyaman, yakni di kisaran 2 hingga 3 kali. Konsolidasi memungkinkan neraca digabung, sehingga akses pendanaan menjadi lebih murah dan capital outflow dapat ditekan. Proyeksi awal menunjukkan potensi penghematan belanja operasional hingga belasan triliun rupiah per tahun bila integrasi berjalan mulus.

Kontra: Risiko Sosial, Resistensi Internal, dan Ketidakpastian Pasar

Di sisi lain, perampingan menyimpan risiko yang tidak kecil. Pertama, resistensi internal. Setiap merger berarti ada entitas yang kehilangan status, direksi yang tergusur, dan karyawan yang harus direlokasi. Pengalaman restrukturisasi sebelumnya menunjukkan proses ini kerap memakan waktu lebih lama dari target karena tarik-menarik kepentingan politik dan birokrasi.

Kedua, sentimen pasar. Ketidakpastian soal entitas mana yang bertahan dapat memicu volatilitas harga saham BUMN di bursa, terutama yang sudah tercatat. Indeks harga saham gabungan (IHSG) sektor infrastruktur dan energi bisa tertekan bila proses komunikasi ke publik berjalan buruk. Ketiga, dampak sosial. Pengurangan tenaga kerja, meski diklaim dilakukan secara natural, tetap berpotensi menaikkan angka pengangguran terbuka bila tidak diimbangi penciptaan lapangan kerja baru.

Ekonom senior dari sebuah lembaga riset independen menilai bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kualitas tata kelola. "Restrukturisasi tanpa transparansi hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Pasar butuh kejelasan soal aset mana yang masuk Danantara dan bagaimana mekanisme valuasinya," ujarnya.

Menakar Fundamental di Tengah Sentimen Global

Pada akhirnya, perampingan BUMN 2027 adalah taruhan antara efisiensi jangka panjang dan guncangan jangka pendek. Bila berhasil, Indonesia bisa memiliki struktur perusahaan negara yang lebih sehat, likuid, dan kompetitif, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada tahun yang sama. Namun bila eksekusinya tergesa-gesa, fundamental yang kuat bisa tergerus oleh sentimen pasar dan gejolak sosial. Kuncinya bukan seberapa banyak entitas yang dipangkas, melainkan seberapa jelas arah nilai yang ingin dibangun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User