Oct 09, 2026
Bisnis

Mandalika 2026: Pelatihan 500 Relawan dan Ujian Ekonomi Sirkular

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, penyelenggaraan MotoGP Mandalika diproyeksikan mendatangkan lebih dari 100.000 penonton selama periode balapan, atau mengalam...

Mandalika 2026: Pelatihan 500 Relawan dan Ujian Ekonomi Sirkular

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per awal 2026, penyelenggaraan MotoGP Mandalika diproyeksikan mendatangkan lebih dari 100.000 penonton selama periode balapan, atau mengalami kenaikan sekitar 15-20 persen year-on-year dibandingkan edisi sebelumnya. Lonjakan kunjungan sebesar itu selalu membawa konsekuensi ganda: multiplier effect bagi perekonomian lokal, tetapi juga tekanan besar terhadap kapasitas pengelolaan limbah di kawasan Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Di tengah dilema itu, sebuah inisiatif pelatihan bagi 500 relawan sampah mencuat sebagai bagian dari persiapan menyambut ajang balap internasional tersebut. Pelatihan ini menggabungkan tiga pendekatan sekaligus: edukasi lingkungan, aksi lapangan, dan tata kelola sampah terpadu, dengan tujuan menciptakan kawasan Mandalika yang lebih bersih dan berkelanjutan. Bagi pembaca awam, ini bukan sekadar kegiatan sosial; ia menyentuh salah satu persoalan fundamental pariwisata massal, yakni bagaimana mengubah limbah dari beban menjadi nilai tambah.

Pro: Sampah sebagai Sumber Nilai Ekonomi

Di satu sisi, pendekatan berbasis relawan ini berpotensi memangkas biaya eksternalitas lingkungan yang selama ini tidak pernah masuk dalam kalkulasi keuntungan penyelenggaraan event. Data Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa timbulan sampah di kawasan wisata super prioritas dapat melonjak 2-3 kali lipat saat puncak musim kunjungan. Jika 500 relawan terlatih mampu memilah dan mengolah, katakanlah, 60 persen dari total volume sampah organik dan anorganik, maka potensi penghematan biaya pengangkutan ke tempat pemrosesan akhir bisa mencapai miliaran rupiah per musim event.

Lebih dari itu, ekonomi sirkular menawarkan peluang usaha mikro. Sampah plastik bernilai jual sebagai bahan daur ulang, sementara organik bisa diolah menjadi kompos atau pakan. Dalam kerangka indeks pembangunan pariwisata berkelanjutan, langkah ini memperbaiki valuasi destinasi di mata wisatawan kelas premium yang semakin sensitif terhadap isu lingkungan. Sentimen pasar wisata global menunjukkan wisatawan Eropa dan Australia bersedia membayar 10-15 persen lebih tinggi untuk destinasi yang punya rekam jejak pengelolaan limbah yang baik.

Kontra: Tantangan Skalabilitas dan Keberlanjutan Program

Di sisi lain, ada sejumlah catatan kritis yang perlu dicermati. Pertama, pelatihan relawan sering kali bersifat musiman dan bergantung pada pendanaan sponsor. Tanpa skema pembiayaan yang berkelanjutan, kemampuan pengelolaan sampah pasca-event berisiko menurun tajam. Kedua, kapasitas 500 relawan masih tergolong kecil jika dibandingkan volume penonton yang datang. Rasio satu relawan terhadap sekitar 200 penonton dinilai belum cukup untuk menjamin kebersihan kawasan secara menyeluruh, terutama pada hari puncak balapan.

Ketiga, persoalan likuiditas anggaran daerah menjadi faktor pengikat. Pemerintah daerah Lombok Tengah masih menghadapi keterbatasan fiskal untuk membiayai fasilitas pengolahan lanjutan, seperti bank sampah terintegrasi atau instalasi pengomposan skala menengah. Tanpa dukungan infrastruktur permanen, inisiatif pelatihan berpotensi berhenti pada tataran seremoni. Selain itu, ada risiko capital outflow jangka panjang jika nilai tambah dari pengelolaan limbah tidak dinikmati pelaku lokal, melainkan dikuasai operator dari luar daerah.

"Keberhasilan pengelolaan sampah di kawasan wisata bukan ditentukan oleh berapa banyak relawan yang dilatih, melainkan seberapa kuat kelembagaan dan pendanaan yang menopangnya setelah pelatihan selesai," ujar seorang pengamat ekonomi lingkungan dari perguruan tinggi negeri di NTB, menekankan pentingnya keberlanjutan pasca-program.

Implikasi terhadap Fundamental Ekonomi Lokal

Dari kacamata fundamental, persiapan Mandalika 2026 menyiratkan dua hal. Pada level mikro, ada peluang pendapatan tambahan bagi usaha pengelolaan limbah, koperasi bank sampah, dan penyedia jasa kebersihan. Pada level makro, kualitas pengelolaan lingkungan menjadi bagian dari rasio daya saing destinasi yang pada akhirnya memengaruhi proyeksi kunjungan wisatawan jangka panjang. Indeks kebersihan kawasan yang membaik dapat memperkuat posisi tawar Indonesia dalam menarik event internasional berikutnya.

Namun, semua proyeksi itu bergantung pada eksekusi. Tren global menunjukkan destinasi yang gagal mengelola limbah pasca-event besar cenderung mengalami penurunan reputasi dan, pada akhirnya, penurunan pendapatan pariwisata dalam dua hingga tiga tahun berikutnya. Sebaliknya, destinasi yang berhasil mengintegrasikan ekonomi sirkular mencatat pertumbuhan kunjungan berulang yang lebih stabil.

Kesimpulannya, pelatihan 500 relawan sampah merupakan langkah awal yang positif, tetapi bukan solusi tunggal. Diperlukan portofolio kebijakan yang mencakup pendanaan berkelanjutan, infrastruktur permanen, dan keterlibatan pelaku usaha lokal. Tanpa itu, narasi Mandalika bersih berisiko menjadi janji musiman yang menguap bersama selesainya balapan. Bagi investor dan pelaku pasar, sinyal yang perlu dicermati bukanlah jumlah relawan, melainkan arah kebijakan anggaran daerah dan komitmen penyelenggara untuk menjadikan ekonomi sirkular sebagai fondasi, bukan pelengkap.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User