Oct 08, 2026
Bisnis

Hashim Bantah Narasi Indonesia Gelap, Soroti Fundamental Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal ketiga 2024, perekonomian Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan 4,95 persen year-on-year, meski melambat dibandingkan periode yang sama tahun...

Hashim Bantah Narasi Indonesia Gelap, Soroti Fundamental Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal ketiga 2024, perekonomian Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan 4,95 persen year-on-year, meski melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,15 persen. Di tengah angka tersebut, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, kembali menepis narasi "Indonesia Gelap" yang sempat viral di media sosial. Ia menegaskan bahwa prospek jangka panjang ekonomi nasional tetap cerah, didorong oleh fundamental yang solid dan bonus demografi yang masih berlangsung hingga dua dekade ke depan.

Pro: Fundamental Ekonomi Masih Terjaga

Di satu sisi, sejumlah indikator makro mendukung optimisme yang disampaikan Hashim. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berada di kisaran 39 persen, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata negara emerging market yang mencapai 60 persen. Kualitas utang juga didominasi instrumen jangka panjang dengan tenor rata-rata di atas tujuh tahun, sehingga risiko rollover atau gagal bayar dalam jangka pendek relatif kecil.

Dari sisi likuiditas, cadangan devisa Bank Indonesia tercatat US$149,9 miliar per akhir 2024, cukup untuk membiayai sekitar 6,5 bulan impor. Inflasi inti juga terkendali di kisaran 2,3 persen, berada dalam sasaran Bank Indonesia 2,5 plus minus 1 persen. Angka-angka ini, menurut sejumlah ekonom, menunjukkan bahwa pondasi ekonomi tidak sedang runtuh seperti yang digambarkan narasi "Indonesia Gelap".

"Narasi kegelapan itu lebih banyak bersumber dari sentimen media sosial ketimbang data riil. Kalau kita lihat portofolio investasi dan tren capital inflow di pasar surat berharga negara, minat investor asing masih cukup baik," ujar seorang analis pasar modal di Jakarta.

Kontra: Tekanan Global dan Domestik Masih Nyata

Di sisi lain, sejumlah tantangan tidak bisa diabaikan. Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp16.400 per dolar AS pada pertengahan 2024 menjadi sinyal adanya tekanan eksternal, terutama dari kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi. Capital outflow dari pasar obligasi dan saham sempat tercatat miliaran dolar AS dalam beberapa bulan, menekan valuasi aset domestik.

Dari dalam negeri, daya beli masyarakat kelas menengah mengalami penurunan. Data BPS menunjukkan sekitar 9,48 juta orang masuk kategori kelas menengah pada 2024, turun dari 57,33 juta orang pada 2019. Ini indikator bahwa konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari 50 persen PDB, berpotensi melambat. Sektor manufaktur juga menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki, dengan total pekerja terdampak mencapai puluhan ribu orang sepanjang 2024.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 dari berbagai lembaga berada di rentang 4,8 hingga 5,2 persen, belum cukup untuk keluar dari jebakan middle income trap dalam waktu dekat. Rasio pajak terhadap PDB yang hanya sekitar 10 persen juga menjadi bottleneck fiskal untuk membiayai program-program strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Membaca Tren dan Sentimen Pasar

Dalam konteks ini, pernyataan Hashim bahwa masa depan Indonesia cerah perlu dibaca sebagai bagian dari upaya membangun sentimen pasar dan menjaga kepercayaan investor. Pernyataan pejabat publik memang memiliki bobot psikologis terhadap ekspektasi pasar, terutama di tengah ketidakpastian global. Namun, narasi optimisme harus disertai dengan kebijakan konkret yang menyentuh akar masalah: peningkatan produktivitas, reformasi struktural, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Bagi pembaca awam, penting untuk memahami bahwa istilah "Indonesia Gelap" bukan terminologi ekonomi resmi, melainkan label yang muncul dari akumulasi keresahan sosial. Sebaliknya, "masa depan cerah" juga bukan jaminan, melainkan proyeksi yang bergantung pada eksekusi kebijakan. Indeks kepercayaan konsumen, indeks keyakinan bisnis, dan tren investasi direct investment (PMA) akan menjadi barometer nyata dalam beberapa kuartal ke depan.

Kesimpulannya, ekonomi Indonesia berada di persimpangan: fundamental masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan, tetapi tekanan global dan domestik memerlukan respons kebijakan yang adaptif. Dua sisi ini perlu disampaikan secara berimbang, bukan sekadar dikunci pada satu narasi tunggal, baik gelap maupun cerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User