Oct 08, 2026
Bisnis

Nasib Kementerian Investasi di Tengah Wacana Kemenko Hilirisasi

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) per kuartal IV 2024, realisasi investasi nasional menembus angka Rp1.365,5 triliun sepanjang tahun, tumbuh sekitar 13,7 persen year-on-year dib...

Nasib Kementerian Investasi di Tengah Wacana Kemenko Hilirisasi

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) per kuartal IV 2024, realisasi investasi nasional menembus angka Rp1.365,5 triliun sepanjang tahun, tumbuh sekitar 13,7 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi konteks penting ketika Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani akhirnya angkat bicara mengenai posisi kementeriannya setelah muncul wacana pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.

Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah bagaimana arsitektur kelembagaan sektor investasi dan hilirisasi akan ditata. Di satu sisi, penambahan lembaga koordinasi dipandang dapat mempercepat sinkronisasi kebijakan lintas kementerian yang selama ini dinilai tumpang tindih. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa penambahan lapisan birokrasi berpotensi memperlambat proses perizinan dan memperpanjang rantai pengambilan keputusan.

Respons Rosan dan Konteks Kelembagaan

Rosan menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu arahan resmi dari Presiden terkait struktur kabinet dan pembagian kewenangan antarlembaga. Ia menegaskan bahwa Kementerian Investasi dan Hilirisasi tetap menjalankan fungsi sebagaimana amanat regulasi yang berlaku, termasuk mengawal target investasi dan program hilirisasi sumber daya alam yang menjadi prioritas pemerintah.

"Kami menghormati setiap kebijakan kelembagaan yang diputuskan Presiden. Yang terpenting, tata kelola investasi tetap berjalan dan target hilirisasi tidak terganggu," ujar Rosan dalam keterangannya kepada awak media.

Menurutnya, isu reorganisasi kementerian merupakan domain prerogatif presiden. Ia menilai diskusi publik mengenai hal ini sebaiknya diarahkan pada substansi percepatan investasi dan nilai tambah komoditas, bukan pada perebutan nomenklatur kelembagaan.

Dua Perspektif soal Lembaga Koordinasi Baru

Pro: Pembentukan kementerian koordinator dinilai relevan karena hilirisasi menyentuh banyak sektor sekaligus, mulai dari pertambangan, energi, industri manufaktur, hingga perdagangan. Tanpa kendali koordinasi yang kuat, kebijakan bisa saling bertabrakan. Indeks kemudahan berusaha yang dilaporkan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa kepastian regulasi menjadi faktor penentu utama bagi capital outflow maupun capital inflow. Dengan adanya koordinasi terpusat, proses perizinan diharapkan lebih ringkas dan valuasi proyek nasional meningkat.

Kontra: Penambahan kementerian koordinator berimplikasi pada pembengkakan struktur anggaran. Belanja pegawai dan operasional baru berpotensi menggerus ruang fiskal yang saat ini masih menghadapi tekanan rasio utang terhadap PDB di kisaran 39 persen. Selain itu, ada risiko kebingungan kewenangan antara kementerian teknis dan kementerian koordinator, terutama dalam hal perizinan dan negosiasi dengan investor asing.

Sinyal Pasar dan Proyeksi Hilirisasi

Dari sisi sentimen pasar, wacana reorganisasi kementerian biasanya tidak berdampak langsung pada pergerakan indeks saham harian. Namun bagi investor jangka panjang, terutama di sektor pertambangan dan pengolahan mineral, kepastian struktur kelembagaan menjadi bagian dari pertimbangan alokasi portofolio. Likuiditas pasar modal domestik masih cukup terjaga, dengan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia yang berada di atas Rp12.000 triliun.

Pemerintah sendiri memiliki proyeksi hilirisasi yang agresif. Berbagai kajian menunjukkan potensi tambahan nilai ekspor hingga ratusan triliun rupiah apabila seluruh rantai pengolahan nikel, bauksit, tembaga, dan timah berjalan optimal. Fundamental sektor ini masih solid, ditopang permintaan global terhadap bahan baku baterai dan komponen kendaraan listrik yang mengalami kenaikan signifikan dalam lima tahun terakhir.

Tren investasi di sektor pengolahan mineral memperlihatkan pola yang konsisten. Data menunjukkan dominasi investasi pada komoditas nikel dan turunannya, disusul bauksit dan tembaga. Masuknya kementerian koordinator baru diharapkan tidak mengubah arah kebijakan yang sudah berjalan, melainkan memperkuat eksekusi di lapangan.

Pada akhirnya, nasib Kementerian Investasi dan Hilirisasi akan ditentukan oleh keputusan politik di tingkat tertinggi. Yang perlu dicermati publik adalah dampaknya terhadap iklim investasi, kepastian hukum, dan daya saing ekspor Indonesia. Perubahan kelembagaan seharusnya menjadi instrumen untuk mempercepat, bukan memperlambat, transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User