Rosan Roeslani Resmikan PSEL Bali, Target Olah 1.000 Ton/Hari

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, meresmikan proyek Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) di Bali pada Rabu (8/7/2026). Proyek yan

Jul 09, 2026 - 17:06
0 0
Rosan Roeslani Resmikan PSEL Bali, Target Olah 1.000 Ton/Hari

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, meresmikan proyek Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL) di Bali pada Rabu (8/7/2026). Proyek yang berlokasi di kawasan TPA Suwung, Denpasar, ini diklaim sebagai fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik terbesar di Indonesia bagian timur. Peresmian menandai dimulainya operasi komersial penuh setelah melalui masa uji coba selama tiga bulan.

Danantara menggelontorkan investasi sebesar Rp1,2 triliun untuk proyek ini melalui skema pembiayaan campuran. Fasilitas PSEL Bali dirancang mampu mengolah 1.000 ton sampah per hari, yang selama ini menjadi beban utama TPA Suwung yang nyaris overload. Sampah yang diolah akan dikonversi menjadi energi listrik berkapasitas 15 megawatt (MW), di mana 12 MW dialirkan ke jaringan PLN dan 3 MW digunakan untuk operasional fasilitas sendiri.

”PSEL Bali adalah wujud nyata hilirisasi pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan transisi energi. Danantara tidak hanya berinvestasi, tetapi juga memastikan teknologi yang digunakan ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Rosan dalam sambutannya. Dia menambahkan bahwa proyek ini menyerap 300 tenaga kerja langsung dan diproyeksikan mengurangi volume sampah TPA Suwung hingga 70 persen dalam dua tahun pertama.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan yang Tumpang Tindih

Kemunculan PSEL Bali langsung menuai beragam respons. Dari sisi ekonomi, proyek ini menjadi angin segar bagi pemerintah daerah yang selama ini kewalahan mengelola sampah pariwisata. Setiap harinya, Bali menghasilkan sekitar 4.200 ton sampah, dan lebih dari 60 persen berakhir di TPA tanpa pengolahan berarti. Dengan hadirnya PSEL, setidaknya 1.000 ton sampah dapat dialihkan setiap hari, mengurangi biaya operasional TPA dan menciptakan pendapatan dari penjualan listrik.

Namun, dari perspektif lingkungan, sejumlah kalangan menyoroti potensi emisi gas buang dari proses termal. Teknologi yang digunakan adalah insinerasi dengan sistem gasifikasi, yang diklaim lebih bersih, tetapi tetap menghasilkan residu abu dasar dan abu layang. ”Setiap teknologi pengolahan sampah termal memang memiliki trade-off. Yang krusial adalah bagaimana sistem pengendalian emisinya berfungsi penuh dan diawasi ketat,” ujar Dr. I Made Suarnata, peneliti lingkungan dari Universitas Udayana.

Perbandingan dengan Proyek Sejenis di Tanah Air

PSEL Bali bukanlah yang pertama di Indonesia. Sejumlah daerah telah lebih dahulu mengembangkan proyek serupa dengan hasil beragam. Berikut perbandingan singkat beberapa proyek PSEL di kota besar:

Lokasi Kapasitas (ton/hari) Daya Listrik (MW) Investasi (Rp) Status
Bali (TPA Suwung) 1.000 15 1,2 triliun Beroperasi 2026
Surabaya (Benowo) 1.500 9 1,1 triliun Beroperasi 2021
Bekasi (Sumur Batu) 1.200 10 1,3 triliun Konstruksi
Makassar (Tamangapa) 800 12 950 miliar Tertunda

Dari data di atas, PSEL Bali unggul dalam rasio output listrik per ton sampah, mencapai 15 kWh per ton dibandingkan Surabaya yang hanya 6 kWh per ton. Ini menunjukkan pemilihan teknologi gasifikasi yang lebih efisien secara energi. Namun, biaya operasional per ton diproyeksikan lebih tinggi, menuntut struktur tarif tipping fee yang kokoh agar tidak membebani APBD.

Perspektif Ganda: Peluang dan Tantangan

Secara keseluruhan, peresmian PSEL Bali menandai babak baru pengelolaan sampah di Pulau Dewata, tetapi tetap menyisakan ruang perdebatan. Berikut ringkasan pro dan kontra yang mengemuka dari proyek ini:

Pro:
1. Mengurangi 70% volume sampah TPA dalam dua tahun, memperpanjang umur TPA Suwung.
2. Menghasilkan 15 MW listrik bersih yang membantu bauran energi terbarukan Bali.
3. Menciptakan 300 lapangan kerja langsung dan ekosistem bisnis pengumpulan sampah.
4. Mengurangi emisi metana dari pembusukan sampah terbuka, yang 25 kali lebih berbahaya dari CO2.

Kontra:
1. Investasi Rp1,2 triliun tergolong mahal untuk volume sampah 1.000 ton/hari, berpotensi mengerek tarif listrik dari sampah.
2. Residu pembakaran berupa fly ash dan bottom ash masih memerlukan penanganan limbah B3 tersendiri.
3. Risiko penolakan masyarakat sekitar jika emisi tidak terkelola dengan baik, sebagaimana terjadi di beberapa proyek insinerator di negara lain.
4. Ketergantungan pada pasokan sampah konstan—jika pemilahan tidak optimal, efisiensi listrik turun tajam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User