Respons Resmi Pemkab Pandeglang Terkait Petisi Jalan Rusak Bermaterai Darah
PANDEGLANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang akhirnya memberikan tanggapan resmi atas aksi protes warga Desa Cijaralang, Kecamatan Cimanggu, yang mengirimkan petisi bermaterai darah sebaga
PANDEGLANG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang akhirnya memberikan tanggapan resmi atas aksi protes warga Desa Cijaralang, Kecamatan Cimanggu, yang mengirimkan petisi bermaterai darah sebagai bentuk kekecewaan atas kondisi jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki. Aksi yang viral di media sosial itu juga memicu respons cepat dari Pemerintah Provinsi Banten.
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, Rabu (24/6/2026), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Pandeglang, Roni, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mendapat perhatian langsung dari Gubernur Banten, Andra Soni, serta Kepala DPUPR Banten, Arlan Marzan. Keduanya menanyakan langsung persoalan jalan rusak yang dikeluhkan warga melalui petisi tersebut.
Disinggung Gubernur dalam Acara JID
Roni menjelaskan, peristiwa itu sempat menjadi pembahasan di sela-sela acara Jalan Inpres Daerah (JID) yang digelar di pendopo. "Kemarin di pendopo ketika ada acara JID (Jalan Inpres Daerah), Pemprov Banten merespons," ujar Roni dalam keterangannya kepada awak media. Ia mengaku, dirinya dimintai penjelasan oleh Gubernur Banten perihal penanganan infrastruktur jalan yang menjadi kewenangan kabupaten.
"Kemarin di pendopo ketika ada acara JID (Jalan Inpres Daerah), Pemprov Banten merespons," kata Roni.
Pernyataan ini menandakan bahwa petisi warga yang menggunakan darah sebagai meterai telah menyentuh level provinsi dan mendorong percepatan koordinasi antara pemerintah daerah dan provinsi. Roni menegaskan bahwa pihaknya akan segera menyusun langkah teknis penanganan jalan rusak tersebut, meskipun detail waktu pelaksanaan belum diumumkan secara pasti.
Sebelumnya, warga Desa Cijaralang mengirimkan petisi bermaterai darah ke sejumlah pejabat, termasuk Bupati Pandeglang dan Gubernur Banten, sebagai simbol keputusasaan atas jalan berlubang yang telah bertahun-tahun dikeluhkan namun tak kunjung diperbaiki. Jalan itu merupakan akses vital bagi mobilisasi warga, terutama untuk kegiatan ekonomi dan pendidikan. Media kami akan terus memantau perkembangan penanganan infrastruktur di wilayah tersebut.
Comments (0)