Orang Tua China Rogoh Rp34 Juta Demi Anak ala Warren Buffett

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 2024, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 65,43 persen, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan 49,68 persen pada 2022. Tren pening...

Aug 12, 2026 - 03:14
0 0
Orang Tua China Rogoh Rp34 Juta Demi Anak ala Warren Buffett

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 2024, indeks literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 65,43 persen, mengalami kenaikan signifikan dibandingkan 49,68 persen pada 2022. Tren peningkatan literasi keuangan—kemampuan memahami produk serta risiko keuangan—juga terjadi secara global. Namun di China, tren ini berkembang ke arah yang mengejutkan: sejumlah orang tua rela membayar hingga 15.000 yuan atau sekitar Rp34 juta untuk kursus investasi bagi anak-anak mereka, dengan harapan sang buah hati kelak menjadi investor ulung seperti Warren Buffett.

Fenomena ini muncul di tengah pertumbuhan jumlah investor ritel China yang masif. Data bursa saham setempat menunjukkan lebih dari 200 juta akun investor individu terdaftar di pasar saham daratan, menjadikan China salah satu pasar dengan basis investor ritel terbesar di dunia. Tingginya rasio tabungan rumah tangga China, yang mencapai sekitar 30 persen dari PDB, turut mendorong keluarga kelas menengah mencari alternatif pengelolaan kekayaan di luar deposito bank.

Tren Kursus Investasi untuk Anak: Apa yang Ditawarkan?

Kursus-kursus tersebut umumnya dikemas dalam bentuk kamp pelatihan selama beberapa pekan hingga satu semester, menyasar anak usia 7 hingga 15 tahun. Materinya mencakup pengenalan valuasi—metode menilai kewajaran harga suatu saham—cara membaca laporan keuangan, hingga simulasi penyusunan portofolio, yakni kumpulan aset investasi yang dimiliki seseorang. Sebagian penyelenggara bahkan mengklaim mengajarkan filosofi value investing yang dipopulerkan Buffett melalui Berkshire Hathaway, perusahaannya yang mencatatkan imbal hasil rata-rata sekitar 20 persen per tahun sejak 1965.

Warren Buffett sendiri menjadi magnet tersendiri di China. Buku-buku biografinya laris manis, dan konferensi tahunan Berkshire Hathaway di Omaha rutin dihadiri ribuan investor asal Negeri Tirai Bambu. Sosoknya yang membeli saham pertama di usia 11 tahun kerap dijadikan narasi pemasaran: jika Buffett bisa memulai sedini itu, mengapa anak Anda tidak?

Di Satu Sisi: Literasi Keuangan Dini Punya Fundamental Kuat

Dari sudut pandang ekonomi keperilakuan, argumen pendukung tren ini cukup beralasan. Konsep bunga majemuk (compound interest)—di mana imbal hasil diinvestasikan kembali sehingga pertumbuhan aset bersifat eksponensial—bekerja paling efektif pada horizon waktu yang panjang. Ilustrasi sederhana: dana Rp10 juta yang diinvestasikan sejak usia 10 tahun dengan asumsi imbal hasil 10 persen per tahun akan tumbuh menjadi sekitar Rp1,7 miliar di usia 60 tahun; jumlah yang sama yang baru diinvestasikan pada usia 30 tahun hanya menjadi sekitar Rp280 juta. Selisih 20 tahun waktu menciptakan perbedaan hasil hampir enam kali lipat.

Studi OECD juga menunjukkan remaja dengan literasi keuangan lebih tinggi cenderung memiliki perilaku menabung lebih disiplin dan lebih jarang terjerat utang konsumtif. Dalam konteks ini, pengeluaran orang tua sebesar Rp34 juta untuk edukasi finansial bisa dipandang rasional apabila dibandingkan biaya pendidikan formal lainnya.

"Pendidikan keuangan sejak dini membangun kerangka berpikir jangka panjang. Yang penting bukan anak menjadi Buffett berikutnya, melainkan memahami hubungan antara risiko dan imbal hasil sebelum mereka memegang uang sendiri," ujar seorang pengamat keuangan perilaku di Beijing.

Di Sisi Lain: Ekspektasi Berlebihan dan Risiko Komersialisasi

Namun, kritik terhadap tren ini tidak kalah kuat. Pertama, secara kognitif, anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya mampu memahami konsep probabilitas dan risiko—dua pilar utama pengambilan keputusan investasi. Kedua, meniru Buffett bukanlah formula yang bisa direplikasi lewat kursus singkat. Keberhasilan Buffett merupakan outlier statistik; berbagai riset akademis menunjukkan mayoritas investor aktif ritel—beberapa studi menyebut angka 70 hingga 90 persen—justru mencatatkan kinerja di bawah indeks acuan pasar dalam jangka panjang.

Ketiga, ada persoalan rasio biaya-manfaat bagi rumah tangga. Biaya Rp34 juta setara beberapa bulan upah rata-rata pekerja perkotaan di China. Dana sebesar itu, jika diinvestasikan langsung atas nama anak, secara matematis justru lebih berdampak pada kekayaan masa depan dibandingkan dibelanjakan untuk kursus yang efektivitasnya belum teruji. Kekhawatiran lain adalah komersialisasi masa kanak-kanak: anak didorong memandang pasar modal sebagai jalan pintas kekayaan, padahal sentimen pasar dan volatilitas tidak bisa ditaklukkan hanya dengan hafalan teori.

"Mengajari anak menabung dan memahami nilai uang itu sehat. Tetapi menjanjikan anak menjadi miliarder investor lewat kursus berbayar adalah pemasaran yang menunggangi kecemasan orang tua," kritik seorang akademisi ekonomi pendidikan di Shanghai.

Proyeksi: Pasar Edukasi Finansial Terus Tumbuh

Terlepas dari perdebatan tersebut, proyeksi pasar edukasi keuangan global tetap cerah. Industri pendidikan finansial diperkirakan tumbuh dua digit secara year-on-year, ditopang ekspansi kelas menengah Asia dan digitalisasi layanan keuangan. Di Indonesia, tren serupa dalam skala lebih moderat mulai terlihat lewat maraknya konten edukasi investasi dan program literasi keuangan di sekolah, seiring inklusi keuangan yang menembus 75 persen pada 2024.

Bagi pembaca, pelajaran terpenting dari fenomena China ini bukanlah soal besaran biaya, melainkan substansi. Literasi keuangan memang aset jangka panjang, tetapi ia dibangun lewat kebiasaan, bukan kursus instan. Fundamental pengelolaan uang—menabung, memahami risiko, dan berpikir jangka panjang—dapat diajarkan di rumah tanpa harus mengeluarkan puluhan juta rupiah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User