Calon Tunggal Gubernur BI: Peluang dan Tantangan Destry Damayanti
Berdasarkan data Bank Indonesia per April 2025, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 5,75 persen, sementara Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Maret 2025 sebesar 1,03 persen year-on-year, ma...
Berdasarkan data Bank Indonesia per April 2025, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 5,75 persen, sementara Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Maret 2025 sebesar 1,03 persen year-on-year, masih berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen. Di tengah kondisi makroekonomi yang relatif terkendali namun dibayangi tekanan eksternal, publik dikejutkan oleh pernyataan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang menyebut nama Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Penyebutan status calon tunggal tersebut merujuk pada surat resmi terkait proses suksesi kepemimpinan bank sentral.
Merujuk pada mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Bank Indonesia, presiden mengusulkan calon gubernur kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Selanjutnya, Komisi XI DPR akan menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), yakni proses penilaian kompetensi dan integritas kandidat, sebelum memberikan persetujuan. Masa jabatan gubernur bank sentral adalah lima tahun dan dapat diperpanjang.
Profil dan Rekam Jejak Destry Damayanti
Destry Damayanti bukan wajah baru di Gedung Bank Indonesia, Thamrin. Alumna Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini menghabiskan sebagian besar kariernya di bank sentral dan dikenal sebagai ekonom dengan keahlian di bidang kebijakan moneter serta riset makroekonomi. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior, posisi orang nomor dua di BI, pada periode 2019 hingga 2024 — masa yang mencakup fase berat: pandemi Covid-19, lonjakan inflasi global 2022, dan siklus pengetatan likuiditas oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Selama periode tersebut, BI tercatat berhasil membawa inflasi kembali ke dalam sasaran lebih cepat dibanding banyak negara berkembang. Inflasi ditutup di 2,61 persen pada 2023 dan 1,57 persen pada 2024 secara year-on-year, setelah sempat menyentuh 5,95 persen pada September 2022. Rekam jejak inilah yang menjadi modal utama Destry di mata pelaku pasar.
Di Satu Sisi: Kontinuitas Menenangkan Sentimen Pasar
Di satu sisi, penunjukan figur berpengalaman dari lingkungan bank sentral dipandang sebagai sinyal kontinuitas kebijakan. Bagi investor, kepastian arah kebijakan moneter merupakan variabel penting dalam menilai fundamental suatu negara. Ketidakpastian kepemimpinan di tengah gejolak global — perang tarif Amerika Serikat dan suku bunga The Fed yang bertahan di 4,25–4,50 persen — berpotensi memicu capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar domestik.
Konteksnya memang menantang. Rupiah sempat menembus Rp16.800 per dolar AS pada awal April 2025, level terlemah sejak krisis keuangan Asia 1998. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan tajam hingga terkena penghentian perdagangan sementara (trading halt) pada Maret 2025. Sementara itu, cadangan devisa berada di kisaran USD155 miliar, setara rasio sekitar 6,5 bulan impor — masih memadai dibanding standar internasional yang mensyaratkan minimal tiga bulan. Dalam situasi seperti ini, sosok yang memahami dapur kebijakan BI dianggap mampu menjaga kredibilitas dan memperkuat bauran kebijakan antara pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi yang pada 2024 tercatat 5,03 persen.
Pengalaman menghadapi krisis dan pemahaman mendalam terhadap kerangka kebijakan moneter menjadi nilai tambah. Pasar cenderung merespons positif figur yang menjanjikan prediktabilitas, terutama ketika ketidakpastian global sedang tinggi, demikian pandangan sejumlah pengamat ekonomi di Jakarta.
Di Sisi Lain: Calon Tunggal dan Isu Independensi
Di sisi lain, skema calon tunggal menuai catatan kritis. Tanpa kandidat pembanding, ruang DPR untuk menimbang alternatif visi kebijakan menjadi sempit, sehingga uji kelayakan berisiko berhenti sebagai formalitas. Padahal, transparansi proses seleksi merupakan bagian dari tata kelola yang ikut dinilai investor dalam valuasi aset berdenominasi rupiah.
Isu kedua adalah independensi bank sentral, yakni prinsip bahwa kebijakan moneter bebas dari intervensi kepentingan politik jangka pendek. Sejumlah ekonom mengingatkan, siapa pun pemimpinnya, BI harus tetap berpegang pada mandat menjaga stabilitas nilai rupiah. Ekspektasi pemangkasan suku bunga yang terlalu agresif demi mengejar pertumbuhan dapat memperlebar selisih imbal hasil (yield differential) dengan Amerika Serikat, yang berpotensi menekan portofolio asing di pasar Surat Berharga Negara. Kepemilikan asing di instrumen tersebut berada di kisaran 14 persen dari total yang beredar, sehingga sensitivitas terhadap sentimen pasar global relatif tinggi.
Proyeksi: Tiga Hal yang Akan Dicermati Pasar
Ke depan, setidaknya ada tiga hal yang menjadi fokus pelaku pasar. Pertama, arah suku bunga acuan: apakah tren pelonggaran berlanjut atau tertahan oleh tekanan rupiah. Kedua, konsistensi kerangka penargetan inflasi (inflation targeting) sebagai jangkar kebijakan yang selama ini menjadi sumber kredibilitas BI. Ketiga, kualitas koordinasi fiskal-moneter dengan pemerintah, mengingat target pertumbuhan yang ambisius membutuhkan dukungan likuiditas tanpa mengorbankan stabilitas harga.
Pada akhirnya, pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI menyimpan dua sisi yang sama-sama layak dicermati. Di satu sisi, pengalaman dan kontinuitas menjadi modal menjaga kepercayaan pasar. Di sisi lain, penguatan tata kelola dan independensi tetap menjadi prasyarat agar fundamental ekonomi Indonesia — dengan produk domestik bruto di atas USD1,4 triliun — tetap kokoh menghadapi gejolak global. Proses uji kelayakan di DPR akan menjadi panggung pembuktian berikutnya.
Comments (0)