Strategi Esports Jadi Pintu Masuk Literasi Investasi Generasi Muda

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 2024, indeks literasi keuangan nasional tercatat sebesar 65,43 persen, mengalami kenaikan signifikan dari 49,68 persen pada 2022. Meski tren membaik, ...

Aug 12, 2026 - 03:41
0 0
Strategi Esports Jadi Pintu Masuk Literasi Investasi Generasi Muda

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 2024, indeks literasi keuangan nasional tercatat sebesar 65,43 persen, mengalami kenaikan signifikan dari 49,68 persen pada 2022. Meski tren membaik, kesenjangan dengan indeks inklusi keuangan yang mencapai 75,02 persen menunjukkan banyak masyarakat telah menggunakan produk keuangan tanpa pemahaman yang memadai. Kondisi ini mendorong pelaku industri mencari pendekatan edukasi baru, salah satunya melalui ekosistem esports yang akrab dengan keseharian generasi muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Generasi Z mencakup 27,94 persen dari total populasi Indonesia berdasarkan Sensus Penduduk 2020. Kelompok usia ini merupakan pengguna terbesar gim digital, dengan jumlah pemain di Tanah Air diperkirakan menembus 170 juta orang. Sementara itu, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal melampaui 14 juta per akhir 2024, dengan lebih dari 55 persen berusia di bawah 30 tahun. Irisan demografi inilah yang menjadi dasar gagasan memanfaatkan logika permainan esports sebagai media pengenalan investasi.

Di Satu Sisi: Keterampilan Gamer yang Relevan dengan Pasar Modal

Di satu sisi, sejumlah kemampuan yang diasah dalam esports memiliki kemiripan dengan keterampilan berinvestasi. Pemain kompetitif terbiasa membaca situasi secara cepat, menyusun strategi berbasis data, serta menjaga disiplin di bawah tekanan. Kemampuan tersebut sejalan dengan analisis sentimen pasar dan pengelolaan portofolio. Konsep manajemen sumber daya dalam gim strategi, misalnya, serupa dengan alokasi aset, yakni cara membagi dana ke berbagai instrumen untuk menyeimbangkan risiko dan imbal hasil.

Pendekatan ini juga dinilai efektif menurunkan hambatan psikologis bagi pemula. Istilah seperti rasio risiko-imbal hasil, yaitu perbandingan potensi kerugian dan keuntungan, atau valuasi, yakni penilaian kewajaran harga suatu aset, menjadi lebih mudah dipahami bila dianalogikan dengan mekanisme permainan. Industri gim nasional sendiri terus tumbuh, dengan sejumlah laporan memperkirakan nilai pasarnya menembus Rp 25 triliun, sehingga kanal edukasi di ekosistem ini memiliki jangkauan yang sangat luas.

"Anak muda yang terbiasa berpikir taktis dalam gim sebenarnya memiliki modal awal berinvestasi, yaitu kemampuan analisis dan kesabaran membaca momentum. Tugas para pelaku industri adalah mengalihkan keterampilan itu ke instrumen keuangan yang benar," ujar seorang pengamat industri digital di Jakarta.

Di Sisi Lain: Risiko Gamifikasi dan Mentalitas Hasil Instan

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahaya menyamakan investasi dengan permainan. Gim dirancang memberikan kepuasan instan, sementara investasi yang sehat menuntut horizon jangka panjang dan pemahaman fundamental, yaitu kondisi dasar kinerja suatu aset. Bila edukasi hanya berhenti pada unsur keseruan, dikhawatirkan justru muncul perilaku spekulatif, yakni membeli aset sekadar mengikuti tren tanpa analisis yang memadai.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. OJK dan Bursa Efek Indonesia beberapa kali mencatat lonjakan investor muda yang masuk pasar karena fear of missing out (FOMO), lalu menanggung kerugian ketika pasar berbalik arah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami tekanan akibat capital outflow, yaitu keluarnya dana asing dari pasar domestik, menjadi pengingat bahwa pasar riil tidak mengenal tombol "ulangi" seperti dalam gim. Likuiditas, yakni kemudahan aset diperjualbelikan, serta volatilitas harga adalah variabel nyata yang dapat menggerus modal dalam waktu singkat.

Proyeksi: Edukasi Perlu Pendampingan dan Kurikulum yang Tepat

Ke depan, proyeksi keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada kualitas materi edukasinya. Program yang ideal, menurut para analis, adalah yang menggunakan esports sebagai pintu masuk, tetapi tetap mengajarkan dasar-dasar seperti diversifikasi portofolio, pembacaan laporan keuangan, dan pemahaman profil risiko. Tanpa pendampingan semacam itu, inisiatif serupa berisiko melahirkan spekulan alih-alih investor yang tangguh.

Dari sisi makroekonomi, peningkatan literasi keuangan generasi muda tetap menjadi agenda penting. Dengan pertumbuhan jumlah investor muda yang secara year-on-year berada di atas 20 persen dalam beberapa tahun terakhir, kualitas edukasi akan menentukan apakah tren ini memperkuat basis investor domestik atau justru menambah kerentanan pasar terhadap gejolak sentimen jangka pendek. Pada akhirnya, strategi boleh saja dipelajari dari arena esports, tetapi keputusan investasi tetap harus berpijak pada data, perhitungan rasio yang cermat, dan fundamental yang kokoh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User