Oct 05, 2026
Bisnis

Upaya Pencapaian Ekonomi 6% di Tahun 2027

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 31 Desember 2024, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang terjaga pasca tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB, nilai total barang dan j...

Upaya Pencapaian Ekonomi 6% di Tahun 2027

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 31 Desember 2024, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang terjaga pasca tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB, nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam satu tahun) tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,03% secara year-on-year (perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya). Angka ini berada di bawah proyeksi ambisius untuk mencapai 6% pada tahun 2027. Untuk menutup selisih pertumbuhan tersebut, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 2.258 triliun dalam rentang waktu menuju 2027. Target ini menjadi sorotan, mengingat besarnya nilai yang dibutuhkan untuk mengakselerasi laju perekonomian nasional.

Fundamental Ekonomi yang Menjadi Landasan

Untuk memahami target ini, perlu dilihat terlebih dahulu fundamental (kondisi dasar ekonomi suatu negara, seperti pertumbuhan, inflasi, lapangan kerja dan stabilitas) perekonomian Indonesia saat ini. Tren (arah pergerakan suatu data dalam jangka waktu tertentu) pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun terakhir menunjukkan pemulihan yang berangsur. Pada tahun 2021, PDB mengalami kenaikan sebesar 3,70% year-on-year, lalu melonjak menjadi 5,31% pada tahun 2022, sebelum mengalami penurunan laju menjadi 5,05% pada tahun 2023 dan 5,03% pada tahun 2024. Penurunan laju ini menunjukkan bahwa efek pemulihan pasca-pandemi mulai mereda, sehingga dibutuhkan dorongan baru untuk kembali mempercepat pertumbuhan.

Di sisi permintaan domestik, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB, yakni sekitar 54,93% berdasarkan struktur PDB tahun 2024. Namun, laju konsumsi mengalami kenaikan yang terbatas akibat rasio (perbandingan antara dua angka ekonomi untuk menilai kondisi tertentu) tabungan rumah tangga yang masih tinggi dan tekanan terhadap daya beli. Sementara itu, investasi (pembelian barang modal untuk menghasilkan barang atau jasa di masa depan) berkontribusi sebesar 29,02% terhadap PDB. Kontribusi ini menjadi salah satu alasan mengapa investasi dijadikan instrumen untuk mendorong pertumbuhan menuju 6%, karena setiap kenaikan investasi dapat berdampak berlipat terhadap aktivitas ekonomi.

Pro: Potensi Akselerasi Melalui Investasi

Di satu sisi, terdapat ruang yang cukup besar untuk mendorong pertumbuhan melalui investasi. Berdasarkan data Bank Indonesia per Desember 2024, realisasi Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) secara kumulatif mengalami kenaikan. PMA tercatat mengalami kenaikan sebesar 21,5% year-on-year, sedangkan PMDN mengalami kenaikan sebesar 16,2% year-on-year. Kenaikan ini turut berkontribusi terhadap indeks (ukuran statistik yang menunjukkan perubahan atas suatu kelompok data) aktivitas investasi yang masih berada pada level ekspansif.

Selain itu, sentimen pasar (pandangan dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi atau aset tertentu) terhadap Indonesia masih relatif terjaga. Hal ini terlihat dari aliran modal asing ke pasar surat berharga negara yang masih positif pada beberapa periode tahun 2024, meski tidak stabil. Investasi yang terarah juga berpotensi memperkuat likuiditas (kemudahan suatu aset untuk diubah menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai signifikan) sektor riil, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan valuasi (penilaian atas nilai suatu aset atau perusahaan berdasarkan data dan ekspektasi) sektor-sektor produktif. Apabila alokasi investasi sebesar Rp 2.258 triliun dapat terdistribusi ke sektor-sektor dengan multiplier (efek berlipat dari suatu pengeluaran terhadap PDB) tinggi, seperti manufaktur, infrastruktur pendukung logistik, energi terbarukan dan pengolahan sumber daya, maka proyeksi (perkiraan kondisi ekonomi di masa depan berdasarkan asumsi tertentu) pertumbuhan 6% secara matematis tidak sepenuhnya berada di luar jangkauan.

Kontra: Tantangan yang Perlu Diperhitungkan

Di sisi lain, terdapat sejumlah tantangan yang dapat membatasi efektivitas target investasi tersebut. Pertama, dari sisi eksternal, tren suku bunga tinggi di negara maju masih berpotensi memicu capital outflow (keluarnya modal asing dari suatu negara ke negara lain). Berdasarkan data Bank Indonesia, pada beberapa periode tahun 2024, tekanan capital outflow sempat terjadi, khususnya pada saat ekspektasi kebijakan moneter global berubah. Hal ini dapat menekan likuiditas domestik dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Kedua, dari sisi domestik, realisasi investasi seringkali tidak secepat penyaluran komitmen. Selain itu, kendala perizinan, ketersediaan lahan, kesiapan infrastruktur pendukung, serta rasio utilisasi (tingkat pemanfaatan kapasitas produksi) di beberapa sektor masih bervariasi. Ketiga, untuk mencapai pertumbuhan 6% dari level 5,03%, dibutuhkan akselerasi yang cukup besar. Berdasarkan perhitungan sederhana atas tren historis, penambahan laju pertumbuhan sebesar 0,97 poin persentase dalam waktu tiga tahun menuju 2027 merupakan tantangan tersendiri, terutama mengingat tanpa adanya guncangan besar, laju pertumbuhan cenderung bergerak secara bertahap.

"Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada besarnya nilai investasi, namun juga pada kualitas alokasi, produktivitas dan stabilitas makro yang menopangnya," ungkap seorang analis ekonomi senior yang menilai pentingnya melihat kedua sisi dari target tersebut.

Menilai Keseimbangan Menuju 2027

Melihat kedua perspektif di atas, target investasi sebesar Rp 2.258 triliun dapat dilihat sebagai upaya terukur untuk memperkuat fundamental perekonomian. Namun, keberhasilan upaya ini akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas makro, mengelola sentimen pasar, serta memastikan aliran investasi benar-benar masuk ke sektor riil. Apabila hanya berfokus pada angka nominal tanpa memperhatikan efisiensi, maka potensi peningkatan portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh suatu entitas) investasi bisa tidak optimal. Sebaliknya, dengan koordinasi kebijakan yang konsisten dan fokus pada sektor produktif, dorongan investasi berpotensi membantu memperlebar basis pertumbuhan di luar konsumsi.

Secara keseluruhan, proyeksi pertumbuhan 6% pada 2027 merupakan target ambisius yang berlandaskan kebutuhan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan. Namun, realisasinya membutuhkan kerja keras untuk mengatasi tantangan eksternal maupun domestik. Dengan tetap berpegang pada data, seperti yang terlihat dari tren year-on-year, rasio kontribusi sektor, serta indeks aktivitas, evaluasi berimbang terhadap target ini menjadi penting untuk memahami peluang dan batasannya secara objektif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User