Maroko Harus Akui Keunggulan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2022

Doha, Qatar — Langkah bersejarah tim nasional Maroko di Piala Dunia 2022 akhirnya terhenti di babak semifinal. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukung ya

Jul 09, 2026 - 02:21
0 0
Maroko Harus Akui Keunggulan Prancis di Semifinal Piala Dunia 2022
Doha, Qatar — Langkah bersejarah tim nasional Maroko di Piala Dunia 2022 akhirnya terhenti di babak semifinal. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukung yang memadati Stadion Al-Bayt, Al Khor, Kamis (15/12/2022) malam, Singa Atlas takluk 2-0 dari juara bertahan Prancis. Meski gagal menembus partai puncak, perjalanan Maroko tetap tercatat sebagai pencapaian terbaik bagi sepak bola Afrika dan dunia Arab sepanjang sejarah turnamen ini.

Arena Stadion Al-Bayt yang ikonik dengan arsitektur tenda Badui menjadi saksi bisu pertarungan sengit antara dua tim dengan semangat berbeda. Prancis tampil klinis memanfaatkan peluang, sementara Maroko yang sepanjang turnamen dikenal dengan tembok pertahanan kokohnya terpaksa bermain lebih terbuka setelah kebobolan gol cepat. Di tengah kekecewaan yang menyelimuti para pemain Maroko usai peluit panjang dibunyikan, sebuah momen kemanusiaan mencuri perhatian: bek kanan PSG Achraf Hakimi yang berseragam Maroko terlihat dihibur langsung oleh rekan setimnya di klub, Kylian Mbappe dari kubu Prancis. Keduanya berpelukan, bertukar kata, dan bahkan bertukar jersey di atas lapangan—sebuah pengingat bahwa di balik rivalitas sengit, persahabatan tetap menemukan jalannya.

Gol Cepat yang Memupus Harapan

Strategi pelatih Didier Deschamps terbukti ampuh membongkar pertahanan Maroko yang sebelumnya hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen—itupun gol bunuh diri. Belum genap lima menit pertandingan berjalan, bek sayap Theo Hernandez mencatatkan namanya di papan skor lewat sepakan akrobatik yang mematikan. Gol cepat ini memaksa Maroko keluar dari zona nyaman; mereka yang biasanya mengandalkan serangan balik kilat kini harus mengambil inisiatif. Sayangnya, dominasi penguasaan bola di babak kedua tak cukup untuk menembus rapatnya barisan belakang Prancis yang dikawal Raphael Varane dan Ibrahima Konate. Randal Kolo Muani kemudian menggandakan keunggulan Les Bleus di menit ke-79, hanya beberapa detik setelah masuk sebagai pemain pengganti, sekaligus memastikan tiket final bagi tim asuhan Didier Deschamps.

"Kami telah memberikan segalanya. Rasa sakitnya terasa sangat dalam malam ini, tapi saya juga merasa bangga bisa sampai sejauh ini bersama negara saya," ujar gelandang Maroko, Hakim Ziyech, dengan raut wajah lesu saat melewati zona wawancara usai laga.

Ketangguhan yang Diuji Cedera

Maroko sejatinya datang ke laga ini dengan kondisi pincang. Tiga pilar utama pertahanan—Noussair Mazraoui, Nayef Aguerd, dan kapten Romain Saiss—masih berkutat dengan cedera dan dipaksakan bermain. Saiss sendiri akhirnya harus ditarik keluar lebih awal di babak pertama, menambah daftar panjang korban lini belakang. Di sisi lain, Olivier Giroud yang menjadi momok di kotak penalti gagal menambah gol, tetapi pergerakannya yang konstan sukses menciptakan ruang bagi Kylian Mbappe yang menjadi arsitek utama bagi gol kedua Prancis. Ekspresi frustrasi jelas terlihat dari pelatih Walid Regragui yang sepanjang babak kedua terus memberikan instruksi dari pinggir lapangan, namun keberuntungan tak kunjung memihak Azzedine Ounahi dan rekan-rekannya.

Warisan Sejarah untuk Afrika dan Dunia Arab

Tak ada bendera putih berkibar dari kubu Maroko meski akhirnya kalah. Sepanjang turnamen, mereka telah menumbangkan raksasa-raksasa Eropa seperti Belgia, Spanyol di babak adu penalti, serta Portugal di perempat final. Sorak-sorai suporter yang mendominasi tribun Stadion Al-Bayt sepanjang 90 menit menjadi bukti bahwa ada kebanggaan yang jauh lebih besar dari sekadar trofi. Bagi sebuah tim yang tidak diunggulkan di awal turnamen, posisi empat besar adalah pencapaian monumental yang selamanya akan dikenang oleh 1,4 miliar umat Muslim dan masyarakat Benua Afrika. Pelukan hangat Mbappe kepada Hakimi seakan menjadi personifikasi dari perjalanan Maroko: kalah di lapangan, tetapi menang dalam rasa hormat global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User