Yogyakarta — Erick Thohir Hadiri Puncak Festival Grassroots Nasional U-10/U-12

Lapangan hijau JEC Soccer Field di Bantul, Yogyakarta, berubah menjadi lautan energi muda pada Rabu (8/7/2026). Ratusan anak berusia 10 dan 12 tahun dari s

Jul 09, 2026 - 02:11
0 0
Yogyakarta — Erick Thohir Hadiri Puncak Festival Grassroots Nasional U-10/U-12

Lapangan hijau JEC Soccer Field di Bantul, Yogyakarta, berubah menjadi lautan energi muda pada Rabu (8/7/2026). Ratusan anak berusia 10 dan 12 tahun dari seluruh pelosok Nusantara berlari, berebut bola, dan merayakan setiap gol dengan sorak-sorai khas anak-anak yang masih murni. Di tengah riuh rendah itu, sosok Ketua Umum PSSI Erick Thohir tampak berdiri di pinggir lapangan, sesekali memberikan tepuk tangan dan senyum lebar. Kehadirannya bukan sekadar seremoni; ia datang untuk menyaksikan langsung putaran final Festival Grassroots Nasional Piala Presiden 2026, ajang yang digadang-gadang sebagai pencarian bibit unggul sepak bola Indonesia sejak usia dini.

Panggung Mimpi Anak Negeri

Festival Grassroots Nasional U-10 dan U-12 ini merupakan inisiatif PSSI yang didukung penuh oleh Presiden Prabowo Subianto. Berbeda dari kompetisi ketat, festival ini mengedepankan fun football—sepak bola yang menggembirakan sekaligus mendidik. Setiap peserta mendapat kesempatan bermain dalam format permainan yang lebih kecil, memastikan semua anak menyentuh bola lebih sering. Total 48 tim dari 34 provinsi bertanding di fase final, menunjukkan jangkauan program yang makin luas.

Salah satu orang tua peserta, Dina (37) asal Lampung, menuturkan, “Anak saya tadinya pemalu, tapi sejak ikut program grassroots di daerah, dia jadi lebih percaya diri. Datang ke sini seperti mimpi buat kami.” Senada, pelatih tim U-12 asal Papua, Markus Wenda, mengatakan, “Anak-anak ini bukan cuma belajar skill, tapi juga disiplin dan kerja sama.”

Investasi Jangka Panjang atau Sekadar Euforia?

Di balik kemeriahan, muncul pertanyaan kritis: apakah festival ini benar-benar akan melahirkan generasi emas sepak bola Indonesia, atau hanya menjadi event seremonial tahunan yang hilang ditelan waktu? Banyak pihak mengapresiasi langkah PSSI di bawah Erick Thohir yang gencar membangun fondasi pembinaan. Program ini sejalan dengan cetak biru sepak bola nasional yang menargetkan partisipasi Piala Dunia U-17 dan U-20 secara reguler di masa depan.

“Ini bukan soal juara hari ini. Ini soal 10-15 tahun ke depan. Kalau kita tidak mulai dari sekarang, kapan lagi?” ujar Erick Thohir saat memberikan sambutan pembuka, disambut tepuk tangan hadirin.

Namun, kritik dari kalangan pengamat sepak bola tetap mengemuka. Indra Sjafri, mantan pelatih timnas U-19, melalui akun media sosialnya mengingatkan bahwa keberhasilan pembinaan usia dini tidak cukup hanya dengan festival setahun sekali. “Butuh kompetisi berjenjang yang berkelanjutan, pelatih berkualitas di setiap daerah, dan lapangan yang layak. Tanpa itu, festival cuma jadi panggung sesaat,” tulisnya. Kekhawatiran serupa disampaikan lembaga swadaya olahraga Score Indonesia yang mencatat bahwa dari ribuan peserta festival serupa lima tahun lalu, hanya segelintir yang berhasil menembus level profesional.

Dukungan dan Keberlanjutan: Dua Sisi Mata Uang

Pemerintah daerah menyambut baik festival ini sebagai penggerak ekonomi lokal. Bantul, yang menjadi tuan rumah, mengalami lonjakan okupansi hotel dan UMKM. “Ini berkah buat warga,” kata Bupati Bantul. Di sisi lain, transparansi anggaran menjadi sorotan. Publik bertanya-tanya berapa dana yang digelontorkan untuk festival, dan apakah sepadan dengan hasil yang dijanjikan. PSSI belum merilis rincian biaya, namun Erick Thohir menegaskan bahwa pihaknya menggandeng banyak sponsor swasta untuk mengurangi beban negara.

Dari sudut pandang anak-anak, festival ini tetap menjadi momen tak ternilai. Mereka bertemu teman-teman baru dari berbagai budaya, berbagi cerita, dan pulang dengan pengalaman yang memperkaya—terlepas dari urusan politik anggaran di level atas. Di sinilah letak ironi: program yang menyentuh langsung mimpi anak-anak justru kerap dibebani ekspektasi orang dewasa yang kompleks.

Perbandingan Singkat:

  • Pro: Komitmen nyata pembinaan usia dini; menjangkau seluruh provinsi; pendekatan fun football yang tepat untuk anak; dampak ekonomi lokal; membangun karakter dan sportivitas.
  • Kontra: Kurangnya jaminan keberlanjutan pasca-festival; minimnya infrastruktur dan kompetisi rutin di daerah; potensi hanya menjadi ajang pencitraan; transparansi biaya yang belum jelas; rasio keberhasilan melahirkan atlet profesional masih rendah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User