GLASGOW — Dalic Puji Mentalitas Kroasia Usai Kalahkan Skotlandia 3-1 di Euro 2020

Hampden Park bergemuruh, tetapi bukan untuk tuan rumah. Di tengah sorak-sorai teredam suporter Skotlandia yang mulai meninggalkan tribun, Zlatko Dalic berd

Jul 09, 2026 - 02:20
0 0
GLASGOW — Dalic Puji Mentalitas Kroasia Usai Kalahkan Skotlandia 3-1 di Euro 2020

Hampden Park bergemuruh, tetapi bukan untuk tuan rumah. Di tengah sorak-sorai teredam suporter Skotlandia yang mulai meninggalkan tribun, Zlatko Dalic berdiri tenang di pinggir lapangan. Senyum lebar mengembang di wajahnya—sebuah ekspresi yang jarang terlihat dari sosok pelatih berusia 56 tahun itu. Kroasia baru saja menuntaskan laga terakhir Grup D Euro 2020 dengan kemenangan meyakinkan 3-1 atas Skotlandia, memastikan satu tiket ke babak 16 besar. Namun di balik senyum itu, tersimpan perjalanan yang penuh tekanan.

Skotlandia, yang bermain di depan pendukungnya sendiri, tampil agresif sejak menit awal. Gol cepat dari Callum McGregor sempat membuat atmosfer berubah mencekam bagi Kroasia. Namun Dalic tetap tenang. Ia tahu timnya memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak lawan: pengalaman kolektif dari generasi yang pernah menyentuh final Piala Dunia.

Mentalitas Finalis Piala Dunia 2018 yang Teruji

Tertinggal 0-1 di kandang lawan dalam laga hidup-mati bukanlah situasi ideal. Namun Kroasia merespons seperti tim yang sudah terbiasa dengan tekanan tinggi. Nikola Vlašić menyamakan kedudukan sebelum babak pertama usai. Kemudian, dua gol ikonik dari Luka Modrić—satu lewat tendangan melengkung dari luar kotak penalti, satu lagi dari sepak pojok yang diselesaikan Ivan Perišić—mengunci kemenangan.

"Saya sangat bangga dengan cara para pemain merespons setelah kebobolan lebih dulu. Ini bukan hanya tentang taktik, tetapi karakter. Mereka menunjukkan jiwa Kroasia sejati," ujar Dalic dalam konferensi pers usai laga, suaranya terdengar serak namun penuh kebanggaan.

Namun, tidak semua pihak memandang kemenangan ini secara seragam. Apresiasi terhadap Dalic memang meluas, tetapi kritik tetap mengemuka—terutama dari analis yang menyoroti kelemahan struktural Kroasia di babak pertama.

Perspektif Ganda: Kejeniusan atau Keberuntungan?

Bagi sebagian pengamat, Dalic layak mendapat kredit penuh. Keputusannya mempertahankan duet Modrić dan Marcelo Brozović di lini tengah, meski keduanya sudah berusia di atas 30 tahun, terbukti tepat. Modrić mencatatkan satu gol, satu assist, dan 89% akurasi umpan—statistik yang membungkam keraguan tentang kebugarannya di level tertinggi. Dalic memahami bahwa pengalaman adalah senjata Kroasia, dan ia tidak ragu menggunakannya secara maksimal.

Di sisi lain, kritikus menunjuk pada babak pertama yang kacau. Transisi bertahan Kroasia lambat, dan gol McGregor lahir dari ruang kosong di depan kotak penalti yang seharusnya dijaga gelandang bertahan. Apakah ini kelemahan sistemik yang akan dihukum oleh tim-tim yang lebih klinis seperti Prancis atau Jerman?

Perbandingan Taktik Dua Babak

Kemenangan Kroasia mencerminkan kontras mencolok antara babak pertama dan kedua. Berikut perbandingannya:

AspekBabak PertamaBabak Kedua
Penguasaan Bola52%58%
Tembakan ke Gawang37
Tekanan BertahanPasif, banyak ruang antarliniAgresif, compact di sepertiga tengah
Peran ModrićTerisolasi, minim umpan progresifJadi poros serangan, dua kontribusi gol

Penyesuaian Dalic di jeda babak menjadi kunci. Ia mendorong garis pertahanan lebih tinggi, memungkinkan Brozović naik menekan, dan membebaskan Modrić dari tugas defensif. Hasilnya langsung terlihat: Kroasia mendominasi 30 menit kedua dan menciptakan peluang demi peluang.

Kroasia di Bawah Dalic: Pro dan Kontra

Pro: Dalic telah membangun identitas Kroasia sebagai tim yang sulit mati. Rekor di turnamen besar—final Piala Dunia 2018, perempat final Euro 2020, semifinal Liga Negara—menunjukkan konsistensi yang tidak bisa diabaikan. Ia memahami psikologi pemain Balkan, mengelola ego ruang ganti, dan tidak panik dalam krisis. Kepercayaannya pada pemain senior Modrić dan Perišić terus membuahkan hasil di momen-momen krusial.

Kontra: Kelemahan taktis di fase awal pertandingan menjadi pola berulang. Kroasia sering kebobolan lebih dulu—terjadi melawan Inggris, Prancis, dan kini Skotlandia—sebelum bangkit. Di level turnamen yang semakin kompetitif, kebiasaan ini bisa berakibat fatal. Selain itu, ketergantungan ekstrem pada pemain kunci Modrić menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan tim ketika sang kapten pensiun.

Dalic, bagaimanapun, menjawab keraguan ini dengan caranya sendiri: hasil. Di hadapan puluhan ribu suporter lawan, dengan tekanan eliminasi di pundak, Kroasia mengeluarkan performa yang akan dikenang sebagai salah satu comeback terbaik mereka. Senyum Dalic di Hampden Park bukan sekadar reaksi atas tiga poin—itu adalah ekspresi seorang arsitek yang menyaksikan fondasi mental timnya masih kokoh berdiri, retak diterpa badai, namun tidak runtuh.

Jalan Kroasia di fase gugur masih panjang. Lawan tangguh menanti. Namun satu hal yang pasti: di bawah Dalic, Kroasia tidak pernah benar-benar kalah sebelum peluit akhir berbunyi. Dan bagi tim sekelas Kroasia, itulah identitas yang tak ternilai harganya.

"Kami bukan tim paling bertalenta di turnamen ini. Tapi kami punya hati, dan hati itu tidak akan menyerah sampai akhir," tutup Dalic, matanya menerawang ke lapangan Hampden Park yang kini lengang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User