Konglomerat Rutin Ziarah ke Gunung Kawi, Ini Dampak Ekonominya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2024, kunjungan wisatawan nusantara mengalami kenaikan sekitar 5,2% year-on-year, dengan destinasi wisata religi menjadi salah satu kontrib...

Aug 10, 2026 - 08:47
0 0
Konglomerat Rutin Ziarah ke Gunung Kawi, Ini Dampak Ekonominya

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2024, kunjungan wisatawan nusantara mengalami kenaikan sekitar 5,2% year-on-year, dengan destinasi wisata religi menjadi salah satu kontributor utama perputaran ekonomi lokal. Di tengah tren tersebut, publik kembali menyoroti kisah seorang konglomerat Tanah Air yang selama puluhan tahun rutin bolak-balik ke kawasan Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pengusaha dengan kerajaan bisnis lintas sektor itu disebut tidak pernah absen berziarah ke kompleks pemakaman yang dikeramatkan warga setempat. Kebiasaan tersebut kabarnya dijalani sejak ia merintis usaha dari bawah hingga masuk jajaran orang terkaya di Indonesia. Bagi masyarakat sekitar, kedatangan para pebisnis besar bukan pemandangan baru. Gunung Kawi telah lama dikenal sebagai destinasi ziarah para pelaku usaha, termasuk dari kalangan etnis Tionghoa, yang meyakini berkah spiritual bagi kelancaran bisnis mereka.

Wisata Religi sebagai Mesin Ekonomi Lokal

Terlepas dari aspek spiritualnya, fenomena ziarah ke Gunung Kawi memiliki dimensi ekonomi yang nyata. Setiap musim ziarah, terutama menjelang hari-hari tertentu dalam penanggalan Jawa dan peringatan haul, ribuan peziarah memadati kawasan tersebut. Perputaran uang dari aktivitas ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah per bulan, mengalir ke kantong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yakni usaha berskala kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat: pedagang bunga, penjual cendera mata, warung makan, jasa transportasi, hingga penginapan.

Data pemerintah daerah setempat menunjukkan retribusi wisata dan pajak daerah dari kawasan ini mengalami kenaikan konsisten dalam lima tahun terakhir, kecuali pada masa pandemi 2020–2021 ketika kunjungan anjlok lebih dari 60%. Tren pemulihan pascapandemi tercatat kuat, sejalan dengan proyeksi pemerintah yang menargetkan kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB)—nilai total barang dan jasa yang diproduksi suatu negara—kembali ke kisaran 4–5%.

Dua Sisi: Keyakinan Spiritual versus Fundamental Bisnis

Di satu sisi, tradisi ziarah di kalangan pengusaha dapat dibaca sebagai bagian dari modal sosial dan psikologis. Keyakinan personal kerap memberikan ketenangan dan kepercayaan diri dalam pengambilan keputusan bisnis yang penuh ketidakpastian. Dari sudut pandang antropologi bisnis, ritual semacam ini berfungsi sebagai jangkar mental yang membantu pelaku usaha menjaga fokus, konsistensi, dan disiplin dalam jangka panjang.

Di sisi lain, dari perspektif ekonomi rasional, kesuksesan sebuah konglomerasi tidak bisa dilepaskan dari fundamental: tata kelola perusahaan yang baik, manajemen likuiditas atau kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, diversifikasi portofolio, serta kemampuan membaca siklus ekonomi. Rasio utang terhadap ekuitas, arus kas operasional, dan valuasi aset jauh lebih menentukan keberlanjutan bisnis ketimbang faktor spiritual. Tidak sedikit pula pengusaha yang rajin berziarah namun bisnisnya tetap kolaps akibat lemahnya manajemen risiko dan agresivitas ekspansi yang tidak terkendali.

"Spiritualitas dan rasionalitas bisnis sebenarnya tidak harus dipertentangkan. Yang penting, keputusan investasi tetap berbasis data dan analisis, sementara keyakinan personal menjadi urusan privat masing-masing individu," ujar seorang pengamat ekonomi dari perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Pelajaran bagi Pelaku Usaha Kecil

Bagi pelaku UMKM, kisah konglomerat peziarah ini menyimpan dua pelajaran sekaligus. Pertama, konsistensi dan disiplin—yang tercermin dari rutinitas ziarah selama puluhan tahun—adalah karakter yang juga penting dalam membangun usaha. Kedua, sentimen pasar dan kepercayaan memang berperan dalam bisnis, tetapi harus ditopang fundamental yang kuat: pencatatan keuangan yang rapi, pengelolaan arus kas, dan kehati-hatian dalam berekspansi.

Proyeksi ke depan, ekonomi wisata religi seperti Gunung Kawi diperkirakan terus tumbuh seiring kenaikan mobilitas masyarakat dan belanja konsumsi domestik yang menopang sekitar 53% PDB Indonesia. Pemerintah daerah yang mampu mengelola destinasi semacam ini secara profesional—mulai dari infrastruktur, penataan pedagang, hingga digitalisasi pembayaran retribusi—akan memetik manfaat ekonomi paling besar.

Pada akhirnya, kisah konglomerat yang setia berziarah ke Gunung Kawi menjadi pengingat bahwa dunia bisnis di Indonesia selalu berkelindan antara rasionalitas modern dan tradisi lokal. Keduanya, dalam takaran yang tepat, membentuk karakter khas ekonomi nasional yang tidak dimiliki negara lain.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User