Presiden Kunjungi Tempat Keramat, Ekonomi Wisata Spiritual Jadi Sorotan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata menyumbang sekitar 4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, dengan subsektor wisata religi dan spiritual menunjukkan tren...

Aug 10, 2026 - 14:29
0 0
Presiden Kunjungi Tempat Keramat, Ekonomi Wisata Spiritual Jadi Sorotan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata menyumbang sekitar 4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, dengan subsektor wisata religi dan spiritual menunjukkan tren pertumbuhan yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konteks tersebut, kabar mengenai kunjungan seorang Presiden Republik Indonesia ke sebuah tempat keramat menjadi perhatian publik. Sejumlah saksi mata menyebut lokasi yang didatangi bukan Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, seperti yang sempat beredar luas, melainkan situs keramat lain yang selama ini dikenal sebagai tujuan ziarah masyarakat.

Informasi yang berkembang menunjukkan kunjungan tersebut berlangsung tanpa publikasi besar. Kesaksian warga sekitar lokasi kemudian memicu perbincangan, baik di tingkat lokal maupun di media sosial. Sebagian warga menyambut positif kehadiran pemimpin negara di situs yang dianggap sakral, sementara sebagian lain mempertanyakan konteks dan makna di balik kunjungan itu. Terlepas dari perdebatan tersebut, peristiwa ini membuka kembali diskusi mengenai posisi tempat keramat dalam kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Wisata Spiritual dan Kontribusinya terhadap Ekonomi

Dari sisi ekonomi, situs keramat dan makam tokoh yang dikeramatkan merupakan bagian dari industri wisata religi yang nilainya tidak kecil. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat wisata religi sebagai salah satu segmen dengan perputaran uang signifikan, terutama di jalur ziarah Wali Songo, makam tokoh sejarah, serta kawasan yang dianggap keramat seperti Gunung Kawi. Di sekitar lokasi-lokasi tersebut tumbuh ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mulai dari warung makan, penginapan, penjual perlengkapan ziarah, hingga jasa pemandu lokal.

Kehadiran tokoh nasional, termasuk presiden, kerap berdampak pada lonjakan kunjungan. Fenomena ini dikenal sebagai efek pemberitaan: lokasi yang semula hanya dikenal kalangan tertentu mendadak ramai setelah dikunjungi figur publik. Kenaikan jumlah pengunjung berarti peningkatan transaksi ekonomi lokal, mulai dari retribusi parkir, tiket masuk, hingga penjualan suvenir. Sejumlah pemerintah daerah mencatat kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi wisata setelah situs ziarah di wilayahnya mendapat sorotan nasional. Dalam skala lebih luas, aktivitas ini menciptakan efek berganda atau multiplier effect bagi ekonomi masyarakat sekitar.

Dua Sisi: Berkah Ekonomi versus Polemik Sosial

Di satu sisi, kunjungan pemimpin negara ke tempat keramat dapat dibaca sebagai penghormatan terhadap tradisi dan kearifan lokal. Indonesia memiliki sejarah panjang di mana para pemimpin, sejak era kerajaan hingga era kemerdekaan, melakukan ziarah ke makam leluhur dan tokoh spiritual. Praktik ini menjadi bagian dari diplomasi kultural sekaligus pengakuan terhadap warisan budaya yang hidup di masyarakat. Dari kacamata ekonomi, sorotan terhadap situs tersebut berpotensi menggerakkan roda perekonomian warga, meningkatkan okupansi penginapan, dan memperluas pasar bagi pelaku UMKM lokal.

Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa kunjungan semacam itu dapat ditafsirkan berlebihan, terutama jika dikaitkan dengan praktik pencarian kekayaan atau kekuasaan melalui jalur mistis. Gunung Kawi, misalnya, selama puluhan tahun lekat dengan stigma pesugihan, meskipun pengelola dan tokoh agama setempat berulang kali menegaskan bahwa ziarah yang benar adalah mendoakan leluhur, bukan meminta kekayaan secara instan. Polemik semacam ini berisiko mengaburkan nilai sejarah dan religius situs, sekaligus membuka ruang bagi komersialisasi yang tidak sehat, termasuk praktik penipuan berkedok ritual.

Proyeksi dan Catatan ke Depan

Ke depan, tren wisata spiritual diproyeksikan terus tumbuh seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata bernuansa sejarah dan religi. Pemerintah daerah yang memiliki situs keramat berpotensi mengembangkan destinasi tersebut secara lebih terkelola melalui penataan kawasan, sertifikasi pemandu, serta edukasi pengunjung agar ziarah dilakukan secara proporsional. Dengan tata kelola yang baik, situs keramat dapat menjadi aset budaya sekaligus sumber ekonomi yang berkelanjutan, tanpa harus kehilangan kesakralannya.

Namun, pengelolaan yang buruk justru dapat menimbulkan ekses berupa kemacetan, persoalan sampah, hingga pungutan liar yang merugikan pengunjung dan merusak citra destinasi. Karena itu, keseimbangan antara pelestarian nilai sakral dan pemanfaatan ekonomi menjadi kunci. Terlepas dari polemik yang menyertainya, kabar kunjungan presiden ke tempat keramat ini setidaknya membuka kembali diskusi publik tentang bagaimana bangsa ini memperlakukan warisan spiritualnya: sebagai beban masa lalu, atau sebagai modal budaya dan ekonomi bagi masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User