BRI Peduli Dongkrak Kapasitas Peternak Sapi Perah di Malang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, produksi susu segar dalam negeri (SSDN) Indonesia hanya mencapai sekitar 837 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan nasional diperkirakan menemb...

Aug 08, 2026 - 05:54
0 0
BRI Peduli Dongkrak Kapasitas Peternak Sapi Perah di Malang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, produksi susu segar dalam negeri (SSDN) Indonesia hanya mencapai sekitar 837 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan nasional diperkirakan menembus 4,4 juta ton. Kesenjangan ini membuat rasio ketergantungan impor susu Indonesia masih berada di kisaran 80 persen. Di tengah kondisi struktural tersebut, program pemberdayaan tingkat mikro menjadi relevan. Salah satunya datang dari BRI Peduli yang menyalurkan dukungan peningkatan kualitas produksi dan pemasaran bagi Kelompok Ternak Sumber Karanglo di Kabupaten Malang, Jawa Timur, salah satu sentra sapi perah terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 50 persen dari total populasi sapi perah nasional.

Konteks Makro: Defisit Susu Nasional yang Kronis

Dari sisi fundamental, industri persusuan Indonesia menghadapi paradoks bertahun-tahun. Konsumsi susu per kapita nasional tercatat sekitar 16,6 liter per tahun, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 50 liter dan Thailand di kisaran 35 liter. Namun, tren permintaan domestik justru mengalami kenaikan konsisten, didorong pertumbuhan kelas menengah dan kesadaran gizi. Proyeksi sejumlah lembaga riset menyebut kebutuhan susu nasional bisa menembus 6 juta ton pada 2030 jika tren konsumsi saat ini berlanjut.

Produktivitas sapi perah lokal menjadi titik lemah utama. Rata-rata produksi sapi perah rakyat hanya berkisar 8 hingga 12 liter per ekor per hari, dibandingkan sapi perah di negara maju yang mencapai 25 hingga 30 liter. Rendahnya produktivitas ini berakar pada kualitas pakan, manajemen kandang, serta keterbatasan akses pembiayaan dan teknologi di level peternak kecil yang menguasai mayoritas populasi sapi perah nasional.

Intervensi di Hulu: Dari Kualitas hingga Akses Pasar

Dukungan yang disalurkan BRI Peduli kepada Kelompok Ternak Sumber Karanglo menyasar dua mata rantai sekaligus, yakni peningkatan mutu produksi dan penguatan jalur pemasaran. Pendekatan semacam ini secara teori ekonomi menyentuh sisi supply chain atau rantai pasok, di mana nilai tambah tidak hanya diciptakan di kandang, tetapi juga pada proses pengolahan, pengemasan, dan distribusi hingga ke konsumen akhir.

Bagi peternak kecil, persoalan pemasaran sering kali lebih menekan ketimbang produksi. Harga susu segar di tingkat peternak berfluktuasi di kisaran Rp6.500 hingga Rp8.500 per liter, sementara biaya pakan mengalami kenaikan signifikan dalam tiga tahun terakhir akibat depresiasi rupiah dan kenaikan harga konsentrat. Margin peternak pun tertekan. Intervensi pemasaran yang baik berpotensi memangkas peran tengkulak dan memperbaiki posisi tawar peternak dalam struktur pasar yang selama ini cenderung oligopsoni, yakni kondisi di mana pembeli besar memiliki kuasa menentukan harga.

Dua Sisi: Efektivitas Program Pemberdayaan Korporasi

Di satu sisi, program tanggung jawab sosial korporasi (CSR) yang menyasar komoditas strategis seperti susu memiliki nilai ekonomi ganda. Pertama, memperkuat ketahanan pangan protein hewani. Kedua, menjaga perputaran ekonomi pedesaan. Setiap kenaikan produksi susu lokal sebesar 1 persen secara teoretis mengurangi kebutuhan impor dan menahan capital outflow untuk pembelian susu bubuk dari Selandia Baru, Australia, dan Amerika Serikat yang nilainya mencapai miliaran dolar AS per tahun. Sentimen pasar terhadap bank pelat merah yang aktif di sektor riil juga cenderung positif karena memperkuat citra fundamental bisnis berbasis komunitas.

Di sisi lain, kritik terhadap program sejenis tidak bisa diabaikan. Skala intervensi berbasis kelompok kerap terlalu kecil dibandingkan besarnya defisit nasional. Tanpa keberlanjutan pendampingan, dampak program berisiko menguap dalam dua hingga tiga tahun. Sejumlah studi dampak CSR di sektor peternakan menunjukkan keberhasilan jangka panjang hanya tercapai bila ada integrasi dengan koperasi susu, akses kredit berkelanjutan, dan offtaker atau pembeli tetap yang menjamin serapan produksi.

"Pemberdayaan peternak sapi perah rakyat akan efektif bila menggabungkan tiga pilar: perbaikan genetik dan pakan, manajemen kesehatan ternak, serta kepastian pasar. Intervensi parsial cenderung menghasilkan dampak temporer," ujar sejumlah pengamat agribisnis dari berbagai perguruan tinggi dalam berbagai kajian industri persusuan nasional.

Proyeksi dan Catatan bagi Pemangku Kepentingan

Ke depan, efektivitas program seperti yang diterima Kelompok Ternak Sumber Karanglo akan diukur dari indikator konkret: kenaikan produksi harian per ekor, perbaikan kualitas susu dari sisi total plate count dan kadar lemak, serta tingkat serapan pasar. Bila pendampingan berjalan konsisten, kelompok ternak semacam ini berpotensi naik kelas menjadi pemasok tetap industri pengolahan susu atau bahkan membangun merek olahan sendiri dengan valuasi produk lebih tinggi.

Bagi sektor keuangan, keterlibatan bank dalam pemberdayaan peternak juga membuka ruang intermediasi. Peternak yang terverifikasi usahanya akan lebih bankable, memudahkan akses kredit mikro produktif dan memperdalam inklusi keuangan di perdesaan. Namun, keberhasilan akhir tetap bergantung pada sinergi antara korporasi, pemerintah daerah, dan koperasi. Tanpa ekosistem yang utuh, program sebaik apa pun hanya akan menjadi catatan kecil dalam statistik, bukan penggerak struktural bagi industri susu nasional yang masih tertatih mengejar swasembada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User