Ramalan untuk Soeharto dan Potret Ekonomi Spiritual Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2023, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat menembus sekitar Rp 1.300 triliun a...

Aug 10, 2026 - 14:33
0 0
Ramalan untuk Soeharto dan Potret Ekonomi Spiritual Indonesia

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2023, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat menembus sekitar Rp 1.300 triliun atau setara 7,8 persen dari total output ekonomi, dengan pertumbuhan year-on-year yang relatif stabil. Di dalam ekosistem yang luas itu, terdapat satu ceruk yang jarang masuk pembukuan resmi namun memiliki nilai transaksi nyata, yakni industri jasa spiritual mulai dari astrologi, numerologi, hingga konsultasi metafisika. Isu ini kembali mengemuka menyusul beredarnya kembali kisah seorang peramal asal India yang konon pernah menemui Siti Hartinah atau Ibu Tien, jauh sebelum Soeharto naik ke kursi kepresidenan.

Ramalan yang Mendahului Era Kekuasaan

Berdasarkan penuturan yang beredar di kalangan keluarga dan kerabat istana, sosok peramal dari India itu disebut menyampaikan pandangannya kepada Ibu Tien bahwa sang suami kelak akan memegang tampuk kekuasaan tertinggi di negeri ini. Ketika itu, Soeharto masih berstatus perwira militer dan belum menunjukkan tanda-tanda akan menjadi figur sentral politik nasional. Ramalan tersebut kemudian dikaitkan dengan rangkaian peristiwa berikutnya: Soeharto dilantik sebagai presiden kedua pada 1968 dan memerintah selama lebih dari 32 tahun hingga 1998, menjadikannya kepala negara dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Republik Indonesia.

Dari sudut pandang ekonomi politik, kisah semacam ini bukan sekadar anekdot. Kepercayaan terhadap ramalan telah lama menjadi bagian dari budaya pengambilan keputusan di berbagai lapisan masyarakat Indonesia, termasuk di kalangan elite politik dan pelaku usaha. Dalam terminologi ilmu perilaku ekonomi atau behavioral economics, kecenderungan ini disebut bias kognitif, yakni keputusan yang dipengaruhi keyakinan subjektif alih-alih data empiris semata.

Ekonomi Spiritual: Permintaan Nyata di Tengah Perdebatan

Di satu sisi, industri jasa spiritual merepresentasikan permintaan pasar yang riil. Lembaga riset Global Wellness Institute memperkirakan nilai ekonomi kebugaran dan kesejahteraan atau wellness economy global mencapai sekitar 5,6 triliun dollar AS pada 2022 dan diproyeksikan menembus 8,5 triliun dollar AS pada 2027. Praktik konsultasi spiritual, meditasi, dan wisata rohani merupakan bagian dari rantai nilai tersebut. Di Indonesia, tren ini tercermin dari menjamurnya layanan astrologi digital, aplikasi ramalan daring, hingga paket wisata spiritual di sejumlah daerah yang menyerap tenaga kerja dan menciptakan pendapatan bagi pelaku usaha lokal.

Di sisi lain, para ekonom mengingatkan risiko apabila keputusan finansial disandarkan pada ramalan. Alokasi modal yang tidak berbasis analisis fundamental, yakni penilaian atas kinerja dan prospek riil suatu aset, berpotensi menimbulkan kerugian portofolio dan distorsi valuasi. Sejumlah kasus penipuan berkedok investasi spiritual yang ditangani Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam satu dekade terakhir menunjukkan kerugian masyarakat mencapai miliaran hingga triliunan rupiah. Ini menegaskan pentingnya literasi keuangan sebagai penyeimbang keyakinan personal.

Sentimen Pasar dan Psikologi Pelaku Usaha

Dalam dunia bisnis, kepercayaan pada pertanda dan hari baik masih memengaruhi sebagian pelaku usaha, misalnya dalam menentukan tanggal pembukaan gerai atau peluncuran produk. Fenomena ini berkaitan dengan apa yang disebut sentimen pasar, yaitu suasana psikologis kolektif yang dapat menggerakkan harga aset dalam jangka pendek meskipun tidak selalu sejalan dengan fundamental. Sejarah mencatat, fase krisis moneter 1997-1998 memperlihatkan bagaimana sentimen negatif memicu capital outflow, yakni pelarian modal asing ke luar negeri, yang menguras likuiditas domestik dan menekan nilai tukar rupiah hingga sempat menyentuh kisaran Rp 16.000 per dollar AS pada 1998 dari sekitar Rp 2.400 sebelum krisis.

Perbandingan itu menunjukkan bahwa faktor psikologis, termasuk keyakinan dan ekspektasi, memang memiliki daya gerak ekonomi. Namun, pengalaman krisis yang sama juga membuktikan bahwa pemulihan hanya terjadi ketika kebijakan berbasis data dan penguatan fundamental ekonomi dijalankan secara konsisten.

Proyeksi dan Catatan Keseimbangan

Ke depan, industri bernuansa spiritual diperkirakan tetap tumbuh seiring kenaikan jumlah kelas menengah dan digitalisasi layanan. Pro: sektor ini membuka lapangan kerja kreatif dan memperkaya keragaman ekonomi jasa nasional. Kontra: tanpa pagar regulasi dan edukasi yang memadai, ruang yang sama dapat dimanfaatkan untuk praktik yang merugikan konsumen.

Kisah peramal India dan Ibu Tien pada akhirnya dapat dibaca dalam dua lensa sekaligus: sebagai warisan budaya yang membentuk cara masyarakat memaknai nasib, sekaligus sebagai pengingat bahwa dalam urusan ekonomi, keyakinan perlu berjalan berdampingan dengan kalkulasi yang rasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User